Malioboro dan Makna Sumbu Imajiner Kota Yogyakarta


Sebagaimana jargonnya sebagai Kota Istimewa, menurut saya Jogja memang Istimewa! Setidaknya bagi saya pribadi, Jogja telah menorehkan sebagian sejarah hidup selama kurang lebih delapan tahun saya melewatkan waktu untuk ngangsu kawruh alias studi di kota yang dijuluki sebagai Kota Pelajar tersebut.

malioboro1

Bicara mengenai Jogja, tentu tidak bisa lepas dari Keraton Kasultanan dan Malioboro. Keraton Kasultanan merupakan cikal bakal keberadaan Jogja. Kota Jogja dibangun tatkala terjadi Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang memisahkan Dinasti Mataram Islam ke dalam dua trah penguasa, Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat. Semenjak saat itulah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I membangun hutan beringan menjadi Jogjakarta.

Adapun Malioboro, sebagaimana telah terkenal luas di kalangan masyarakat, merupakan sebuah ruas jalan protokol yang menghubungkan Tugu Pal Putih dengan Alun-alun Utara dan kini menjadi ikon wisata utama di Jogjakarta. Lebih dari sekedar titik tujuan wisata dan pusat bisnis, Malioboro menyimpan makna filosofis yang mengajarkan keagungan sebuah nilai kearifan lokal yang belum diketahui banyak orang.

Pangeran Mangkubumi sebagai Raja pertama Kasultanan selain sebagai sosok pemimpin, ia adalah seorang arsitek tata kota yang sangat piawai. Menghayati makna keraton sebagai pusat kekuatan mikrokosmos dan makrokosmos, Pangeran Mangkubumi menggali berbagai nilai filosofis kehidupan dalam simbolisasi tata Kota Jogjakarta yang masih lestari hingga kini. Antara gunung Merapi, keraton, dan pantai selatan merupakan satu kesatuan nilai yang diadaptasi dari konsep Tri Hita Karana dimana dunia merupakan kesatuan unsur parahiyangan, pawongan, dan palemahan. Tiga unsur penggerak roda kehidupan, yaitu Tuhan, manusia, dan alam semesta.

Sepenggal ruas kawasan Malioboro juga menyimpan simbolisasi perjalanan kehidupan manusia yang dimulai dari Tugu Pal Putih (Tugu Jogja) hingga Alun-alun Utara, kemudian Keraton Ngayojakarta Hadiningrat. Tugu Jogja pada masa pembangunannya digagas sebagai Tugu Golong Gilig. Tugu yang diadaptasi dari bentuk lingga dan yoni tersebut merupakan perlambang semangat gotong royong dan kesatuan antar sesama rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan rajanya, manunggaling kawula lan gusti.

malioboro3

Jalan lurus yang menghubungkan titik Tugu Jogja dengan Alun-alun Utara Keraton Kasultanan sebenarnya terdiri atas beberapa ruas jalan. Masing-masing ruas jalan tersebut menggambarkan episode perjalanan manusia untuk mencapai kesejatian hidup. Ruas jalan antara Tugu Jogja hingga perlintasan jalur rel kereta api bernama Jalan Margautama.

Margautama, marga bermakna jalan. Adapun utama adalah hal yang pokok atau paling penting. Seseorang yang ingin meraih cita-cita dan tujuan hidup harus memilih jalan utama. Ia harus menyingkirkan berbagai godaan dari dalam diri sendiri terlebih dahulu. Ia juga harus mengindari perilaku, sikap, perkataan, dan perbuatan yang tercela. Segala rintangan, halangan, godaan, serta cobaan hidup harus dilawannya sekuat tenaga. Ibarat seorang mahasiswa yang ingin meraih gelar sarjana, ia harus tekun belajar. Ia harus menyingkirkan kebiasaan begadang yang tidak perlu, main kesana kemari yang tidak jelas jluntrungannya. Belajar dengan tekun, rajin mengerjakan tugas yang diberikan adalah tugas utama, adalah laku utama, adalah jalan utama bagi mahasiswa yang ingin meraih gelar sarjana.

Ruas jalan selanjutnya, antara perlintasan jalur rel kereta api hingga depan Toko Batik Terang Bulan dinamakan Jalan Malioboro. Ruas jalan inilah yang dikenal luas oleh masyarakat, bahkan masyarakat luar Jogja dan bahkan luar negeri. Dari sebuah riwayat dikatakan bahwa kata malioboro berasal dari dua kata, yaitu malio dan boro.

Kata warung jika mendapat awalam ma– menjadi marunga, artinya lakukanlah pekerjaan mendirikan atau mengelola warung. Adapun kata wali jika diimbuhkan awalan ma– akan menjadi malio. Malio bermakna lakukanlah pekerjaan sebagaimana seorang wali, atau bisa juga diartikan menjadilah seorang wali. Sedangkan kata boro berasal dari kata utuh ngumboro, berarti mengembara. Dengan demikian, malioboro merupakan sebuah perintah atau ajakan untuk menjadi seorang wali yang mengembara. Seorang yang memiliki kesempurnaan jiwa dan batin dalam tuntunan nilai-nilai agama. Seorang yang mengembara, merantau untuk mencari ilmu dan nilai kesejatian. Seorang yang senantiasa berkelana untuk menebarkan kebajikan, untuk mengamalkan berbagai nilai dan ilmu yang dikuasainya.

malioboro2

Fase malioboro merupakan kelanjutan dari fase seseorang yang telah menempuh jalan utama, menempuh keutamaan hidup. Orang yang istikomah dalam amalan utama, maka derajatnya perlahan-lahan akan naik. Segala ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup dari menjalankan laku utama harus diamalkan kepada sesama. Menjadilah seorang wali, seorang dengan akhlak dan sikap utama yang mengembara untuk mengamalkan ilmunya.

Tahapan hidup yang lebih tinggi lagi disimbolkan dengan keberadaan ruas Jalan Margamulyo. Ruas Jalan Margamulyo berada di sebelah selatan Batik Terang Bulan hingga titik perempatan Kantor Pos Besar. Seseorang yang telah memilih jalan utama, melaksanakan laku utama, mengembara sebagai seorang wali yang mengamalkan segala ilmu pengetahuan yang dimiliki, maka ia akan mencapai kemuliaan hidup. Mulia di hadapan sesama manusia, mulia bersanding dengan makhluk Tuhan yang lain, bahkan mulia di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Kemulian yang paling hakiki dan sejati.

Seseorang yang telah mencapai kemuliaan sejati, maka ia akan dapat ngurak, menghalau, menepis, menghardik, dan menghilangkan segala nafsu angkara murka dalam diri sendiri. Ia dapat mengekang dan mengendalikan diri sendiri. Ia dapat mengalahkan diri sendiri. Ia dapat menepiskan segala godaan duniawi. Ia dapat memenangkan jihad tertinggi. Hal inilah yang disimbolisasi sebagai fase perjalanan hidup seseorang yang telah menapaki Jalan Pangurakan. Hidup yang telah mengosongkan diri dari segala nafsu kefanaan. Jalan Pangurakan menghunbungkan perempatan Kantor Pos Besar hingga Alun-alun Utara.

Sebagai muara perjalanan spiritual manusia yang telah memilih jalan utama, mengembara sebagai wali, menemukan kemuliaan hidup, dan mampu menepis segala nafsu angkara murka, maka sampailah ia pada titik keluasan dan kelapangan kehidupan. Alun-alun, sebuah lapangan luas dan rata dengan dua ringin di pusatnya yang bernama janadaru dan dewadaru. Janadaru simbol hubungan horisontal, antara manusia dengan sesamanya dan dengan makhluk lainnya. Adapun dewadaru bermakna hubungan vertikal, antara makhluk dengan Sang Khaliknya, antara manusia dengan Tuhan. Maka seseorang yang telah mencapai keluasan dan kelapangan hidup akan dapat bersikap secara seimbang, menjadi manusia yang sejatinya manusia sebagaimana kodrat dan kehendak yang dititahkan oleh Tuhan Sang Pencipta Alam. Dialah sosok insan kamil, manusia yang berhak mendapatkan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Jika Anda pada suatu ketika berkesempatan menapaki ruas Malioboro, coba berjalan dengan meresapi nilai filosofis sebagaimana terurai di atas. Rasakan setiap makna. Kembarailah jiwa kita masing-masing. Raihlah makna hidup yang akan semakin mendewasakan jiwa dan batin kita. Padukan dengan nilai yang Anda yakini apapun keyakinan dan agama Anda. Jadilah sosok dan pribadi manusia yang sejatinya manusia. Tabik.

Lor Kedhaton, 22 November 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s