Tragedi Jempol Bukan Sembarang Jempol


Jempol, alias ibu jari, kini telah menjadi simbol yang sangat akrab dengan pengguna media sosial. Jempol menjadi jari-jemari yang paling aktif untuk mengetikkan berbagai karakter, symbol, dan tulisan melalui keypad di sebagain besar smartpohone model terkini. Jempol bahkan  menjadi simbol apresiasi atau rasa suka seorang netizen terhadap sebuah status atau komentar yang dituliskan pengguna media sosial yang lain. Tidak ada yang memungkiri lagi di era smart phone saat ini jempol menjadi organ atau bagian tubuh yang sangat aktif di setiap menit, bahkan detik.

jempol-bengkak3Dalam khasanah bahasa komunikasi saat ini, dominasi jempol sebagai kata dengan makna konotatif menjadi lebih menonjol dibandingkan makna jempol secara denotative itu sendiri. Kita sering memberikan jempol sebagai pujian terhadap sesuatu yang bagus yang dilakukan oleh orang lain.

Ketika ditanya mengenai bagaimana rasa menu masakan yang dihidangkan oleh seorang teman, tidak jarang kita langsung memberikan acungan jempol untuk menyatakan rasa masakan yang enak. Di lain saat ketika seseorang dintanya pendapatnya mengenai hasil sebuah pekerjaan yang memberikannya kepuasan, sangat mungkin iapun akan mengacungkan jempolnya sebagai pertanda hasil pekerjaan yang bagus. Jempol memiliki segudang makna. Jempol bias bermakna asyik, bagus, mantap, enak, pintar, sip, dan lain sebagainya. Acungan jempol secara budaya ketimuran secara umum memiliki makna positif sebagai sebuah keberhasilan.

Nah, jika dalam keseharian pikiran kita sudah sangat terbiasa mengkaitkan soal jempol dengan makna konotatifnya tadi, kali ini justru saya justru ingin berkisah tentang jempol yang justru tidak ingin Anda berikan jempol. Kisah tersebut tepatnya berkaitan dengan sebuah musibah yang menimpa jempol kaki kanan saya. Terus?

jempol-bengkakBegini kisahnya Saudara! Menjelang akhir pekan minggu lalu, kebetulan saya menghadiri sebuah pertemuan di kawasan ICE, Indonesia Center for Exibition. Sebuah sarana exibition baru yang berada di daerah BSD Tangerang Selatan. Sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan pameran dan pertemuan berskala internasional tersebut dirancang dengan berbagai fasilitas pendukung yang sangat modern. Kecanggihan desainnya yang lebih baru dan modern bahkan telah mengungguli keberadaan Jakarta Convention Center (JCC) yang ada di pusat ibukota Jakarta.

Kisahnya begini Sedulur. Pada rehat diantara dua sesi pertemuan, saya bersamaan dengan beberapa kolega melaksanakan sholat Ashar di sebuah ruangan yang difungsikan sebagai masjid. Kebetulan ruang tersebut berada satu lantai di bawah ruang pertemuan yang kami gunakan. Dengan demikian untuk naik ataupun turun antar lantai, kami harus menggunakan sarana lift ataupun eskalator yang tersedia.

Selepas menunaikan sholat, sayapun bermaksud kembali ke ruang pertemuan. Dengan melewati sebuah koridor ruang yang cukup lebar dan panjang, saya bermaksud naik melalui escalator yang ada. Dari koridor yang saya lalui, escalator tersebut berada di sisi kiri. Posisi escalator melekat pada dinding membentuk sudut Sembilan puluh derajat dari arah kedatangan saya.

Di ujung koridor saya sempat bertemu dengan rekan yang juga sama-sama mengikuti pertemuan. Sebentar saya menyapanya dan terlibat perbincangan kecil. Sejurus kemudian sayapun bermaksud naik ke lantai dimana ruang pertemuan berada dengan menaiki escalator.

Sekilas, escalator yang akan saya naiki tidak menunjukkan keanehan apapun. Dua escalator yang biasanya bergerak dengan arah berlawanan naik dan turun memang terlihat tidak bergerak sama sekali. Meskipun harus naik tangga escalator secara manual, saya berpikir akan lebh cepat dibandingkan harus mencari escalator lain maupun lift yang kebetulan cukup jauh keberadaannya. Di ujung tangga sisi kiri escalator saya lihat ada seseorang yang saya duga juga akan naik.

jempol-bengkak1Sayapun berjalan mendekati ujung bawah escalator. Setelah saya tepat berada di ujung pijakan escalator sayapun melangkah hendak menuju anak tangga dari escalator sisi kiri yang biasa digunakan untuk arah naik. Namun sungguh sebuah kejadian yang tidak saya duga dan perhitungkan terjadi! Ketika kaki kiri saya pijakan pada landasan escalator, justru sebuah gaya tarikan ke bawah menarik dengan kuat tubuh saya. Saya seolah terhisap ke dalam kedalaman bumi.

Rupanya ada sebuah lubang menganga di ujung escalator. Badan saya tertarik ke dalam lubang tersebut. Dalam situasi itu saya sempat mendengar seseorang berteriak, “Awas, Pak!” Namun sungguh malang tak dapat ditolak, teriakan itu sungguh sudah sangat terlambat. Terjadilah sebuah musibah yang tidak ada seorangpun yang mengharapkannya.

Dalam keadaan yang sangat cepat terjadinya, secara refleks tangan kanan saya meraih handel pegangan sisi tepi escalator. Meskipun gaya grafitasi bumi menarik saya dengan sangat kuatnya, kiranya Tuhan masih melindungi saya sehingga dengan satu tangan yang masih sempat meraih pegangan tadi, tubuh saya masih bias bertahan menggantung dan tidak terperosok jatuh ke dalam lubang. Dan hanya dalam hitungan sekian detik pula, saya berhasil menghentakkan tubuh kembali melenting ke arah atas. Dengan demikian saya berhasil mendaratkan kembali kedua telapak kaki kanan dan kiri di sisi escalator sebelah kanan. Namun begitu, jempol kaki kanan terasa sedikit ngilu dan seperti ada yang terpuntir.

Entah siapa yang paling bertanggung jawab dengan peristiwa naas yang saya hadapi tersebut. Satu analisis yang paling sederhana adalah tidak dipasangnya tanda atau tulisan peringatan, ataupun penghalang untuk memastikan tidak seorangpun dapat menerobos escalator yang rupanya sedang diperbaiki tersebut. Perbaikan escalator rupanya hingga membuka lubang di ujung bawah maupun lubang ujung atas escalator berbentuk persegi seukuran kira-kira satu kali satu setengah meter dengan kedalaman satu atau dua meter. Saya tidak habis pikir dan tidak bias membayangkan andaikan tubuh saya benar-benar terperosok dan jatuh masuk ke dalam lubang tersebut. Pastinya saya akan mengalami luka-luka yang lebih parah.

Kejadian naas tragedi escalator tersebut rupanya telah menyebabkan jempol kaki kanan saya terkilir dan menyebabkan kuku jempol tersebut menjadi goyah. Dalam perkembangan selanjutnya, jempol yang terkilir tersebut menjadi bengkak dikarenakan adanya urat nadi yang tersumbat oleh darah yang membeku. Sayapun terpaksa jalan dengan terpincang-pincang, dan lebih sakitnya lagi hampir semalaman saya tidak dapat tidur dengan nyenyak karena rasa sakit yang tidak terperikan.

jempol-bengkak2

Hampir 24 jam setelah peristiwa itu terjadi barulah jempol kaki naas tersebut mendapatkan perawatan pijat yang memadai dari tukang pijat. Tidak hanya otot-otot di seputaran jempol yang mendapatkan pijatan secara intensif, bahkan sekujur badan ternyata mengalami shock sendi dan otot sehingga harus diurut secara menyeluruh.

Alhamdulillah, secara berangsur-angsur bengkak yang saya alami kini kian menyusut dan perlahan namun pasti kekuatan otot-otot jempol dan kaki secara keseluruhan pelan namun pasti semakin membaik.

Dari peristiwa tersebut semoga bisa memberikan hikmah dan pembelajaran bagi pekerja perawatan berbagai sarana atau fasilitas di tempat-tempat umum agar benar-benar mengutakan keselamatan dalam mengerjaan perbaikan ataupun perawatan prasarana yang ada. Keselamatan bagi diri pekerja maupun masyarakat umum yang ada di sekitarnya harus menjadi perhatian utama.

Ngisor Blimbing, 20 November 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s