Mbah Warno, Sosok Ono Dino Ono Upo


mbah-warnoSampeyan pernah berjumpa dengan sosok di sampingsaya ini? Atau jangan-jangan Sampeyan justru mengenalnya? Jika pada suatu ketika Sampeyan melintas di sepanjang Jalan Solo dari Janti hingga Prambanan, baik di waktu jam orang berangkat ataupun pulang kerja, dan berjumpa dengan sosok tersebut sedang ngonthel, cobalah sesekali untuk menyapanya. Empat puluh tahun lebih ia telah menjalani ritual mengukur jalanan dari Terban ke Manisrenggo dengan sepeda onthelnya tersebut. Tidak heran jika polisi di setiap pos antara Jogja-Prambanan mengenalnya dengan sangat baik.

Dialah lelaki perkasa penantang jaman. Semenjak kecil orang tuanya menyematkan nama Warno. Sebut saja ia sebagai Mbah Warno. Mbah Warno yang asli kelahiran Gantiwarno ini tinggal di sebuah rumah yang berdiri di atas petak tanah Sultan di Kebon Dalem, sebelah utara Candi Prambanan. Ia termasuk warga yang mendapat kekancingan tanah Ngarso Dalem Sultan Hamengku Buwono IX.

Saya mengenal sosok Mbah Warno lebih dari 20 tahun silam, semenjak masih duduk di bangku SMA. Mbah Warno dulu pernah berprofesi sebagai tukang becak. Dengan beberapa rekannya ia mangkal di seputaran Mirota Kampus UGM.Tenaga yang kian susut dengan semakin lanjutnya usia mengharuskannya “pension dini” dari profesi tersebut. Ia kemudian mengabdi sebagai tukang kebun di kediaman keluarga Pak Iqbal (depan Perpustakaan Sekip UGM) dan mendapat tugas tambahan sebagai marbot di Masjid Al Hasanah (Jln C Simanjutak 72, utara Mirota Kampus).

Sosok Mbah Warno memang apa adanya. Namun di balik kesederhanaannya, Mbah Warno menyimpan segudang pengalaman hidup yang sungguh luar biasa. Di masa mudanya, lelaki kelahiran tahun1939 itu pernah merantau ke tanah Betawi. Di ibukota Negara yang baru menggeliat pada waktu itu, ia ikut terlibat dalam beberapa proyek pembangunan mercusuar-nya Bung Karno. Ia turut membangun Hotel Indonesia yang 14 lantai itu. Membangun kompleks Istora Senayan. Ia turut juga membangun Masjid Ngistiqlal. Bahkan tatkala Bung Karno digranat di Cikini, Mbah Warno dapat menceritakannya dengan fasih dan lancar.

Lebih dari dua puluh tahun mengenal sosok Mbah Warno, saya belajar banyak hal, terutama mengenai sikap dalam menjalani dan memaknai hidup. Meskipun bekerja secara serabutan dengan mengandalkan kemampuan ototnya secara fisik, jalan hidup itu dilaluinya dengan penuh kesungguhan, dengan penuh ketabahan, dengan penuh kesabaran, keikhlasan, ketekunan, serta penuh kecintaan. Bekerja dengan rasa, bekerja dengan sepenuh hati, bekerja dengan hati.

Bagi Mbah Warno, setiap manusia diciptakan dengan segala pilihannya untuk menghidupi kehidupan. Kerja adalah eksistensi manusia dalam menjalani amanah Tuhan sebagai khalifah di muka bumi. Kerja adalah perwujudan akhlakulkarimah yang menjadi buah dari berbagai ritual ibadah yang dijalani ummat Islam. Dengan demikian tidak ada kamus rasa malas di benak Mbah Warno. Ia senantiasa mbanyumili dan sakmadya untuk terus bekerja hingga di usia lanjutnya saat ini. Ya, meskipun jarak Jogja-Prambanan dijalaninya hanya dengan onthel tua yang setia menemani setiap langkahnya, ia senantiasa bersyukur. Ia tetap narimo ing pandum. Manusia telah ditetapkan jatah rejekinya masing-masing.

Ada banyak sekali nilai kebijaksanaan yang memancar dari dalam sosok Mbah Warno. Berkaitan dengan keyakinan bahwa setiap manusia harus bekerja, harus berkarya, harus berusaha, harus berikhtiar dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika manusia mau berusaha, ia sangat yakin bahwa Tuhan akan membukakan banyak sekali pintu-pintu rejeki. Baginya ono dino ono kerjo, ono dino ono upo, ono dino ono sego! Ada hari harus ada kerja. Ada kerja ada nasi alias rejeki. Dengan demikian, ada hari senantiasa ada nasi.

Berkenaan dengan penyelenggaran ibadah sholat Jumát di Al Hasanah waktu itu, saya dan Mbah Warno pernah sangat intens terlibat sebagai tim yang solid. Mulai dari menyapu dan mengepel lantai. Menggelar karpet maupun tikar, hingga soal jaga penitipan sepatu-sandal dan jaga parkiran. Dikarenakan saya yang berambut gondrong kala itu, sayalah yang biasa didapuk sebagai juru parkiran di halaman depan. Adapun Mbah Warno, jaga penitipan barang. Meski tugas kami masing-masing berbeda, namun diantara sekian rekan-rekan takmir, sayalah yang senantiasa menemani Mbah Warno mengambil jatah ransum makan siang di Budi Mulia Blimbingsari.

Ransum makan itu sangat sederhana. Hanya nasi rantangan bersusun tiga. Rantang paling bawah berisi nasi putih. Rantang tengah berisi sayur lodeh. Adapun rantang paling atas biasanya berisi bakmi serta lauk tahu atau tempe. Nasi rantangan itulah jatah makan siang yang kami terima atas jerih upaya kami membantu kelancaran Jumatan. Kalaupun ada sedikit uang lebih dari parkiran kendaraan, biasanya kami belikan nasi lothek untuk dikerubut ramai-ramai bersama rekan-rekan takmir masjid.

Bagi kami yang mengenalnya, Mbah Warno adalah contoh sosok yang ulet dalam menjalani roda kehidupan.Kerja dengan sekuat tenaga adalah pilihan dan tujuan hidup sebagaimana hal itu seharusnya menjadi pegangan bagi semua manusia. Hidup tanpa kerja, hidup tanpa karya, adalah hidup tanpa makna. Jauh sebelum kita punya Presiden Jokowi yang menggaungkan kerja dan kerja nyata, sebenarnya spirit itu sudah sejak lama dijalankan oleh kalangan rakyat di akar rumput. Orang kecil senantiasa harus kerja. Kerja adalah penyambung nyawa.

Kerja bagi orang kecil sebagaimana Mbah Warno adalah sebuah keharusan. Kerja harus senantiasa diiringi dengan doa karena dalam menjalani kerja senantiasa diganggu dengan berbagai godaan. Masalah buah dari kerja keras itu menghasilkan apa, bagi orang kecil adalah nomor ke sekian. Namun demikian mereka senantiasa percaya bahwa yang namanya rejeki tidak akan pernah tertukar. Setiap manusia telah ditetapkan jatahnya masing-masing. Dengan pola piker seperti itu, bekerja harus dilakukan dengan keikhlasan. Rame ing gawe, sepi ing pamrih. Bekerja dengan giat dan tekun, bekerja dengan benar dan cerdas, itu kewajiban manusia. Persoalan hasilnya seperti apa dikembalikan lagi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berbeda dengan MbahWarno dan orang kecil lainnya, justru di kalangan orang besar, di kalangan para pejabat, di kalangan kaum elitlah yang justru mengakal-akali seolah-olah mereka giat bekerja padahal yang sering terjadi adalah mereka menerapkan prinsip sepi ing gawe tetapi rame ing pamrih. Kerja dengan sesuka hati, tetapi ingin gaji dan pendapatan yang besar. Sikaps eperti inilah yang kemudian menjadi bibit tindakan yang koruptif dan merugikan negara.

Mbah Warno adalah salah satu contoh sosok manusia yang sesungguhnya manusia. Kita patut belajar mengenai kehidupan kepada sosok-sosok seperti Mbah Warno.

Tepi Merapi, 13 November 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mbah Warno, Sosok Ono Dino Ono Upo

  1. Ping balik: Masjid Utara Mirota Kampus | Sang Nananging Jagad

  2. Ping balik: Kaya Bukan Pilihan Simbah Ini | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s