Kembang Potong Gunung Bromo


bunga-bromo1Bagi para pecinta alam dan bagi para pendaki gunung, edelweis adalah bunga keabadian. Meskipun tidak ada yang benar-benar bisa abadi di dunia fana, edelweis memang hadir sebagai sebuah simbol. Dan tentu saja, sang edelweis sendiri tetap lekang ditelan waktu. Dari bunga segara, layu, kering, dan kemudian berguguran untuk kembali ke asal-usulnya. Dari tanah kembali ke tanah.   

Edelweis merupakan spesies bunga yang memerlukan media tumbuh dalam lingkungan yang sangat khas. Berada di sekian ribu ketinggian dari permukaan air laut, berhawa dingin dengan pencahayaan matahari yang mencukupi sepanjang tahun. Oleh karena itu, bungai ini hanya bisa tumbuh di puncak-puncak gunung tertentu. Hal inilah yang menjadikan edelweis termasuk spesies yang semakin langka dan mendapat perlindungan. Dengan demikian, secara prinsip kemudian diterapkan larangan bagi para pendaki gunung untuk membawa edelweis turun.

Pegunungan Tengger, dengan Gunung Bromo sebagai kawah aktifnya tidak lagi menyisakan bunga edelweis. Terlebih lagi kontur lereng di puncak Bromo yang berupa timbunan pasir hasil pelapukan vulkanologi yang masih anget, tidak memberikan kesuburan bagi tumbuh kembangnya jenis tanaman apapun untuk saat ini.

Lain di puncak Bromo, lain pula kawasan padang savana dan bukit teletubies yang juga masih menjadi begian dari kaki Gunung Bromo. Hamparan debu pasir dan abu vulakanik yang mulai lapuk menghadirkan lapisan humus tanah yang sangat kaya nutrisi untuk tumbuh kembangnya rerumputan hingga tanaman perdu. Alhasil, di kawasan ini hadirlah padang rumput hijau dan juga semak belukar. Nah diantara gerumbul perdu dan semak belukar itulah turut tumbuh berbagai tanaman bebungaan.

bunga-bromo2

Pada musim berbunga, berbagai ragam tanaman bebungaan di padang savana Gunung Bromo menghadirkan nuansa warna-warni pelangi berbalut permadani yang sungguh indah mempesona mata. Ada ratusan jenis bunga yang bahkan tidak diketahui namanya oleh penduduk setempat sekalipun. Tentu saja edelweis menjadi pengecualian. Di sekitar Bromo, konon ia hanya tinggal tersisa di puncak Gunung Semeru.

Selain hadir sebagai sebuah panorama alam yang mempesona untuk dipandang mata, kebaradaan bunga yang mleimpah di padang savana kawasan Bromo menghadirkan gagasan bagi penduduk setempat untuk turut menjadi peluang dalam rangka mengembangkan kreativitas yang diharapkan berujung kepada penambahan pendapatan warga. Dengan ketekunan, ketelatenan, dan tingkat imajinasi yang tinggi, melalui tangan-tangan terambpil dan trengginas, hadirlah bunga-bunga dari padang savana Bromo menjadi rangkaian bunga potong yang mempesona.

Dalam kesempatan mengunjungi Bromo, ketik apengunjung hadir di gardu pandang Pananjakan untuk menunggu dan menikmati sensasi metahari yang bangun dari peraduaannya di pagi hari, puluhan pedagang akan menjajakan rangkaian bunga potong yang saya maksudkan tadi. Ada bunga yang sekedar diikar. Namun banyak diantara warna-warni bebungaan yang dirangkai secara apik menjadi bentuk-bentuk boneka nan lucu. Pada kesempatan terakhir, saya ditawari untuk “nglarisi” bakul kembang dengan sebuah boneka berbentuk binatang koala. Tidak perlu mahal-mahal, saya hanya merogoh kantong Rp. 10.000,- saja. Sungguh sebuah nilai kreativitas tinggi yang belum berimbang dengn nilai rupiah yang didapat. Namun sepanjang kedua belah pihak suko samo suko dan ridha sama ridha, jadilah transaksi yang syah. Anda jual, Ane beli!

Satu hal yang harus mendapatkan perhatian dengan keberadaan bunga potong! Hal ini terutama berlaku bagi Anda yang bepergian menggunakan sarana pesawat udara. Pada saat screening melewati pemeriksaan barang, sebagaimana biasanya semua barang bawaan diperiksa dengan sinar-X. Ada pengalaman yang saya alami di Bandara Abdurahman Saleh, Malang, selepas saya turun dari Bromo. Pengalaman tersebut berkaitan dengan keberadaan bung apotong yang saya bawa.

Bunga potong tentu saja termasuk bagian dari tetumbuhan atau tanaman. Menurut ketentuan Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992, setiap barang kiriman berupa tetumbuhan maupun hasil produk tetumbuhan lainnya harus mendapatkan keterangan dari Balai Karantina Pertanian. Khusus untuk bunga potong yang saya bawa, perlu pernyertaan Surat Pemberitahuan Tidak Diperlukan Tindakan Karantina Tumbuhan dari Kantor Karantina Pertanian dari bandara.

bunga-bromo

Bunga potong yang saya bawa dari Bromo tentu saja bukan bunga edelweis sebagaimana diketahui secara umum pembatasan atau pelarangannya. Namun demikian pada saat screening x-ray, saya diperintahkan untuk meminta surat keterangan ke Kantor Karantina Pertanian. Kebetulan bunga ptong yang saya bawa saya tempatkan langsung pada sebuah kardus kecil bekas kemasan sepatu.

Sayapun langsung menuju kounter karantina sebagaimana disarankan oleh petugas pemeriksaan barang sebelumnya. Saya menenui seorang petugas karantina. Sedikit tanya jawab dilakukan. Saya menjawab setiap pertanyaan sebagaimana adanya. Beberapa keterangan yang harus saya sampaikan berkaitan dengan nama, jenis barang bawaan, berapa banyak, alamat tujuan, dll.

Tidak seberapa lama petugas tersebut menginputkan data ke dalam komputer dan mencetak sebuah surat keterangan/pemberitahuaan. Inti dari Surat Pemberitahuan Tidak Dperlukan Tindakan Karantina Tumbuhan yang saya terima menerangkan bahwa barang kiriman yang saya bawa bukan merupakan media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina dan/atau organisme pengganggu tumbuhan penting.

Herannya tanpa pemeriksaan visual, terlebih lagi analisis uji laboratorium, begaimana si petugas bisa mengetahui bahwa barang yang saya bawa bebas dari kontaminan, bebas hama, bebas organisme berbahaya, dlsb. Jika seumpamanya bunga yang saya bawa mengandung virus, bakteri, mikroorganisme, bibit penyakit, benih hama tanaman, maupun bahan-bahan kimia berbahaya bagaimana? Lebih aneh lagu, ternyata tidak semua pembawa bunga potong yang sama dikenakan wajib lapor ke bagian karantina sebagaimana saya. Apakah penerapan screening semacam ini hanya bersifat sampling random semata? Apakah memang tindakan yang dilakukan hanya menuruti prosedural formalitas semata? Jika demikian adanya, justru saya menjadi prihatin dengan kenyataan tersebut.

Tepi Merapi, 11 November 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s