Meng-guide Mak Nyak Bangladesh di Kuala Lumpur


Rekam Jejak Menyambangi Bandar Baru Bangi (7)

twin-towerKuala Lumpur, kebetulan saya memang sudah beberapa kali menyambanginya. Tentu saja beberapa sudut penting di kota tersebut sedikit banyak saya memahaminya. Dataran Merdeka, KL Sentral, KLCC dengan Twin Towernya, Bukit Bintang, China Town, dan pastinya Pasar Seni “Central Market”. Hal inilah yang menjadikan beberapa rekan, baik yang baru pertama kalinya meupun pernah mengunjungi Kuala Lumpur, seolah memasrahkan diri mereka untuk saya pandu pada Jumát siang hingga petang tersebut.

Sebagaimana saya kisahkan sebelumnya, bersama dengan kolega dari Bangladesh, rombongan kecil dari Indonesia bersama-sama untuk menjelajahi jantung kota KL. Untuk sesama rekan dari Indoensia sebenarnya kami sudah sepaham mengenai rencana perjalanan kami. Intinya bahwa kami hanya sekedar menjejakkan kaki pada suatu destinasi. Sampai lokasi, sedikit mengeliling sudut-sudut pentingnya, berfoto bersama, dan berpindah ke lokasi lain. Tidak mengherankan jika planning kami pada siang hingga sore itu optimis dapat mengunjungi banyak tempat.

Namun rupanya rencana memang hanya tinggal rencana. Dengan bergabungnya duo kolega dari Bangladesh, kami harus realistis dengan perkembangan keadaan. Adalah Mak Nyak, tokoh yang sebelumnya saya ceritakan ketinggalan kereta, menjadi kendala dan tantangan tersendiri. Bagaimanapun mengamati dan melihat gelagat karakter katuranggannya, ia bukanlah sosok yang gesit dan akan mampu menyesuaikan diri dengan agenda yang kami canangkan sebelumnya. Walhasil, kamilah yang harus realistis untuk menyesuaikan diri.

Mak Nyak Bangladesh, wanita paruh baya yang sebenarnya bernama Selina Yeasmin ini memang unik. Sosoknya ketika berbaur dengan kami memang nampak pendiam. Karakternya santai bahkan terkesan cuek. Yang lebih khas lagi ekspresi wajahnya yang senantiasa datar. Senang, marah, mangkel, seolah tidak nampak terlalu beda. Mungkin hal demikian memang umum bagi wanita dari sudut Teluk Benggala yang diapit Myanmar dan India tersebut.

selina-yasmean

Meng-guide rombongan pelancong asing di negeri orang mungkin memang bukan perkara yang super mudah. Banyak tantangan dan diperlukan ekstra kesabaran. Terlebih menjadi guide-nya si Mak Nyak Bangladesh ini. Masih ingat dengan kisah ketinggalan keretanya?

Rupanya insiden ketinggalan kereta di KL Sentral Station bukanlah akhir dari kelucuan perjalanan kami sore itu. Ketika kemudian ia sempat “hilang”dan bergabung kembali di KLCC Station, kamipun naik ke kawasan KLCC Suria Mall. Mall megah dan mewah inilah yang menjadi pondasi dua menara kembar alias Twin Tower yang dibanggakan rakyat Malaysia sebagai gedung kembar tertinggi di dunia hingga saat ini. Sebagaimana kesepakatan kami untuk senantiasa bergegas, ndilalahnya Mak Nyak senantiasa santai dan tanpa beban. Rencana kami yang hanya 30-40 menit saja di sekitar KLCC tentu saja menjadi molor dan memakan waktu lebih lama. Rupanya Mak Nyak sangat menikmati KLCC Park di sisi belakang Twin Tower sambil berfoto ria dari berbagai sudut berlatar Menara Kembar yang eksotik.

klcc-park klcc-park1

Ketika dirasa kunjungan di KLCC sudah cukup, kamipun menuju halte bus GoKL. Layanan bus percuma alias gratis atau free bus inilah yang kami pilih sebagai moda untuk membelah kemacetan KL di waktu sore menjelang waktu pulang kerja. Di samping sama sekali tidak mengeluarkan ongkos, tentu saja kami jadi lebih tahu suasana kota maupun sudut-sudut serta suasana nuansa kehidupan sehari-hari masyarakat di Metropolitan Kuala Lumpur. Dengan GoKL Greenline, kami menapakkan kaki di kawasan Bukit Bintang.

Bukit Bintang merupakan kawasan pusat perbelanjaan kaum elit di tengah KL. Berbagai produk barang-barang mewah kelas dunia memiliki outletnya di sini. Tentu saja kawasan ini paling berkesesuaian dengan kalang kaum jetset yang berdompet tebal. Adapun bagi kami yang menyadari sepenuhnya sebagai kaum duafa di negeri orang, kawasan inilah hanya sebagai perlintasan untuk numpang liwat bin kulo nuwun semata. Dan memang di sebuah halte yang berseberangan dengan mangkok tingkat berair mancur, kami sekedar transit untuk berganti bus. Kami menunggu GoKL Purpleline yang akan membawa kami ke kawasan Pecinan dan Pasar Seni.

gokl

Berbeda dengan bus GoKL Greenline yang kami tumpangi sebelumnya dan tidak terlampau penuh penumpang, bus GoKL Purpleline penuh sesak dengan pengguna jasanya. Walhasil sebagian besar dari rombongan kami tidak mendapatkan tempat duduk dan terpaksa turut bergelantungan bersama penumpang lain. Hiruk-pikuk orang dengan berbagai raut muka, warna-warni warna kulit, serta karakter masing-masing menjadikan bus ber-AC itu menjadi terada tidak dingin dan sedikit kurang nyaman. Tetapi bagaimanapun kita menyadarii sepenuhnya, lha wong hanya numpang bus gratisan kok mau nuntut kenyaman yang berlebih. Ya kan?

Akhirnya kamipun tiba di blok seberang China Town. Nah dari sinilah Mak Nyak kembali ‘beraksi’. Belum-belum rupanya ia sudah lama menahan hasrat pipis. Akhirnya setelah tengok sana tengok sini untungya ada sebuah gerai KFC di silang jalan yang dilengkapi fasilitas toilet. Jadilah Mak Nyak segera berhambur masuk ke KFC. Bukan mau pesan makan siang pastinya. Ia hanya sekedar numpang pipis. Wah…wah….wah! Seperti modus perilaku untuk menandai daerah takhlukan yang segera diklaim sebagai daerah kekuasaan saja ya?

china-town1

Selepas urusan pipis, giliranlah untuk shopping-shopping. Nah di sinilah baru nampak ekspresi Mak Nyak yang lebih sumringah muncul. Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba, ia sepertinya langsung mendapatkan penyaluran syahwat belanja-belanjinya.

Pada sebuah gerai toko di samping KFC, ia langsung memilah-milah barang dagangan yang sepertinya menarik hatinya. Ada kaos dan baju dengan beragam warna dan motif gambar khas KL. Ada cindera mata gantungan kunci, gantungan magnet, dan berbagai pernak-pernik khas KL. Ada gelas dan beragam benda pecah belah yang juga bermotif khas KL, serta berbagai souvenir KL lainnya. Intinya Mak Nyak segera terlibat tawar-menawar beberapa item barang yang diinginkannya. Repotnya lagi, ia selalu meminta saya untuk ikut menawar barang kepada penjual maupun sang pemilik toko. Sayapun mau tak mau ya hanya bisa menuruti kemauannya.

Ketika sebagian rombongan kami telah beranjak menjelajahi gang utama di kawasan Pecinan tersebut, Mak Nyak sudah mulai menenteng kresek belanjaannya. Hingga gelap menyambangi bumi, kami hanya berkutat belanja di China Town.

Merasa sudah tidak ada lagi barang yang menarik di lokasi China Town, saya, Mak Nyak dan kolega Bangladeshnya segera meluncur ke Pasar Seni. Baru melintasi gapura utama yang dipagari para penjual beraneka barang di koridor masuk Pasar Seni, Mak Nyak sudah mampir pada gerai penjualan tas di pojokan gang. Ia nampah antusias untuk membali tas. Lagi-lagi, saya diajukan untuk turut melakukan penawaran. Akhirnya satu tas ransel dan dompet kulit dibelinya seiring dengan kumandang adzan Maghrib dari surau di sudut bangunan Pasar Seni.

pasar-seni

Sayapun bergegas untuk mampir ke surau. Di samping maksud hati ingin menunaikan sholat Maghrib, sebenarnya saya ingin sengaja memisahkan diri sementara dengan Mak Nyak maupun rombongan yang lain. Bagi orang seperti saya yang kurang hobi dengan aktivitas shopping-shopping tentu saja merasa jenuh dan tidak enjoy berada di tengah-tengah suasana pusat perbelanjaan. Kalaupun ada satu-dua macam barang yang perlu dibeli, tentu saja tak terlalu perlu waktu lama untuk menawar dan membayarnya. Sangat berbeda dengan para shopping maniac yang kadang sangat berlama-lama untuk memilih dan menawar barang. Bahkan lebih sering nggak jadinya daripada jadinya untuk suatu barang yang sudah lama ditawar. Akhirnya waktu jualah yang menjadi banyak terbuang.

Ketika sejam lebih kami berkutat di seputaran Pasar Seni kami rasa cukup. Kamipun bergegas untuk segera menuju stasiun kereta api terdekat. Jangankan segera bergabung dengan rombongan, duo Bangladesh kolega kami masih saja asyik memilih barang pada sebuah toko perhiasan. Kolega lelaki hanyut menawar sebuah kalung dan anting berlian untuk istrinya. Adapun Mak Nyak masih belum puas untuk menambah koleksi tas dan dompet kulitnya. Akhirnya kami ketinggalan rombongan lain yang karena sudah sangat laparnya meninggalkan kami menuju KL Sentral Station.

pasar-seni1

Setelah sekian lama menanti dengan sabar, membujuk dengan perlahan, akhirnya duo kolega dari Bangladesh berhasil saya bawa ke stasiun Pasar Seni. Setelah membeli tiket, kamipun bergegas menuju peron untuk menunggu kereta menuju KL Sentral Station.

Nah lagi-lagi satu tragedi kecil terjadi di KL Sentral Station. Pada saat akan keluar gate, seperti aturan yang ada maka penumpang dengan tiket koin harus menyemplungkan kembali koin birunya ke lubang celengan pada gate keluar peron. Sialnya koin biru Mak Nyak nyelip entah kemana. Dengan rewa-rewo bawaan belanjaan di tangan kanan dan kirinya ia membongkar-bongkar setiap sudut saku tas dan kantong-kantong plastik. Ekspresi wajahnya tetap datar, tidak panik, tidak gugup, tidak sedih! Datar saja! Rempongnya lagi, ia melakukan itu semua sambil ndodok di tengah-tengah akses gate tanpa menghiraukan lalu lalang penumpang lain yang keluar dari area peron.

Sekian lama tidak ada tanda-tanda ekspresi Mak Nyak menemukan koin birunya, sayapun bergegas menghampiri petugas security di loket berkaca di pinggir gate keluar. Saya segera laporkan apa yang terjadi dengan Mak Nyak. Pada awalnya petugas tersebut meminta kami untuk membeli tiket saja. Tentu saja saya merasa enggan. Lha wong kami hanya naik kereta melintas satu stasiun, masak beli tiket ulang. Akhirnya petugas bersangkutan hampir segera membukakan gate dari meja operator ketika dengan senyum lebar dan ekspresi datar Mak Nyak mengacungkan koin birunya tinggi-tinggi. Ia telah menemukan koin birunya. God bless to you Mak Nyak.

Itulah akhir kejadian lucu bersama Mak Nyak di malam itu. Dengan kereta KTM kamipun melanjutnya perjalanan menuju Bangi. Malam itu kamipun sekalian berpisah sebagai saudara, sebagai kolega, dan pastinya sebagai pemandu setengah harian itu. Thank you Mak Nyak for verry unique experiences in KL. Good luck to you!

Ngisor Blimbing, 25 Oktober 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s