Mak Nyak Bangladesh Ketinggalan Kereta


Rekam Jejak Menyambangi Bandar Baru Bangi (6)

Selepas menunaikan Jum’atan di Masjid Al Hasanah Bandar Baru Bangi siang itu, saya dan beberapa rekan memang berencana untuk anjangsana ke Kuala Lumpur. Ibukota lama yang kini lebih keren dengan sebutan KL. Meskipun Kuala Lumpur tidak lagi menjadi pusat pemerintahan dan digantikan oleh Putrajaya, namun mengunjungi Malaysia tanpa mengunjungi KL bagaikan menikmati sayur tanpa garam. Ada sesuatu yang terasa kurang.

mak-nyak-bangladesh

Ketika kemudian kami bertemu dengan rekan lain di UKM Station, ternyata beberapa kolega lain ingin turut bergabung dengan rombongan kecil kami. Ada sepasang participants dari Bangladesh, ada satu kolega dari Philipines, dan juga seorang dari Myanmar. Entah darimana ceritanya, kok tiba-tiba beberapa kolega-kolega tersebut tiba-tiba berminat menggabungkan diri dengan rombongan Indonesia. Satu kolega dari Sri Lanka yang pada awalnya juga ingin turut bergabung, ternyata mengundurkan diri karena ada teman senegaranya yang ingin menemuinya.

Ketika pertama kali tiba di UKM Station, kamipun segera memesan tiket KTM Train ke arah KL Sentral Station. Cukup dengan RM4,8, kami bisa langsung menuju jantung kota KL.

Setelah beberapa saat menunggu di area peron UKM Station keretapun tiba. Nampak dari sekian gerbong yang ada masih lengang oleh penumpang. Di samping area UKM yang masih di area pinggiran, keberangkatan kami selepas tengah hari yang bukan merupakan puncak jam sibuk pulang-pergi kerja menjadikan kami dapat duduk dengan nyaman dan menikmati perjalanan. Suasana tersebut berubah ketika kereta sudah sampai di Bandar Tasik Selatan, sebuah stasiun persimpangan yang menggabungkan jalur kereta dari KLIA dan Putrajaya. Sontak kereta menjadi penuh sesak dengan penumpang. Bahkan banyak penumpang yang akhirnya harus berdiri.

Setelah setengah jama perjalanan dari UKM Station, keretapun segera memasuki KL Sentral Station. Stasiun KL Sentral merupakan stasiun terbesar dan tersibuk  di KL ataupun di Malaysia. Agenda anjangsana kami ke KL kali ini ingin mengunjungi KLCC (Twin Tower), Bukit Bintang, China Town, Pasar Seni (Central Market), dan jika memungkinkan kawasan Dataran Merdeka.

ukm-stasion

Bagi saya sendiri, perjalanan kami sudah tidak terlampau mengundang rasa penasaran. Kunjungan kali ini ke KL sebenarnya sudah menjadi kunjungan yang ke-4 kalinya. Hanya karena beberapa rekan dari Indonesia dan kolega dari beberapa negara lain yang belum pernah mengunjungi KL menjadikan saya terpaksa turut bergabung dengan rombongan pelancong tersebut. Dan dikarenakan saya dan salah seorang yang lain yang relatif sedikit lebih dahulu tahu beberapa sudut KL, maka kamilah yang kemudian diposisikan untuk merencanakan perjalanan sekaligus bertugas menjadi guide bagi rekan-rekan yang lain.

Dari line KTM Train di KL Sentral Station, kami segera pindah ke jalur Kelana Jaya. Hanya diperlukan melintasi beberapa stasiun saja untuk menuju KLCC. Setelah kami membeli tiket di vending mechine seharga RM2,6 per orangnya, kamipun bergegas menuju peron keberangkatan kereta. Rupanya satu kolega dari Philipines memilih memisahkan diri dari rombongan kami karena ia langsung ingin menuju China Town dan Central Market.

Ketika kami berbaris naik eskalator yang menuju peron, nampak sebuah kereta sudah menunggu di jalur keberangkatan. Kamipun bergegas mempercepat langkah kaki kami. Saya sempat memberikan kode kepada rekan-rekan yang lain, “Hurry up, please! Come on!”

ktm-train

Sebagian rekan dalam rombongan kami paham dengan kode yang saya berikan. Kamipun segera menghambur ke dalam gerbong kereta. Beberapa rekan yang bahkan lari ketika memasuki pintu kereta. Sekian detik berselang keretapun berangkat. Meskipun dengan nafas yang sedikit terengah-engah, ada perasaan lega yang kami rasakan. Kami dapat mengejar kereta yang akan segera membawa rombongan kami ke KLCC.

Seiring kereta yang mulai melaju, kamipun mencoba mengatur nafas kami kembali. Sambil masih merasakan deguban jantung yang berdebar, beberapa rekan sempat terpingkal oleh kejadian ‘pengejaran kereta’ yang kami lakukan. Namun di tengah gelak tawa lirih dari beberapa rekan justru beberapa rekan yang lain tiba-tiba tertawa sedikit lebig geerrrr. Hampir serempak setiap mata memandang ke arah salah seorang kolega laki-laki dari Bangladesh. Usut unya usut, ternyata kolega kami seorang perempuan dari Bangladesh ketinggalan kereta!

Cilaka dua belas! Beberapa rekan tampak tertawa merasa lucu dengan kejadian tersebut. Beberapa yang lain sontak khawatir kalau-kalau kolega Bangladesh yang kemudian kami juluki sebagai “Mak Nyak” itu tersesat, bahkan hilang! Bagaimanapun kami pada saat itu sedang di negeri orang. Segala kemungkinan bisa saja terjadi to?

Memang dari pengamatan kami selama beberapa hari bergaul dengan Mak Nyak, ia memang sosok ibu-ibu paruh baya yang serba santai. Dalam beberapa kesempatan ia seringkali terlambat datang, terlambat berkumpul, bahkan serba cuek. Ekspresi senatiasa datar. Tidak periang, tidak pemurung. Pokoknya cool abis wis! Dugaan saya, ia masih ada srempetan turunan dari biru dari Putri Solo.

Hal yang dikhawatirkan oleh rekan-rekan, apakah ia tahu tujuan kami ke KLCC? Apakah seandainya ia tidak ketemu lagi dengan kami, ia minimalnya bisa kembali ke hotel dengan selamat? Apakah….apakah, dan masih beberapa apakah yang menghantui pikiran beberapa rekan saat itu.

Diantara rekan yang paling nampak khawatir adalah kolega laki-laki dari Bangladesh. Bagaimanapun Mak Nyak adalah rekan kerjanya di negeri asalnya sana. Di samping itu, tentu saja Mak Nyak jauh lebih senior daripada dirinya. Jadi di samping kekhawatiran sebagaimana yang kami rasakan, ia tentu juga khawatir kena marah. Bagaimanapun sebagai yang lebih muda seharusnya ia menjaga dan mengawal seniornya.

Saya sendiri tetap optimis dan berbaik sangka, bahwa Mak Nyak tidak sepolos yang beberapa rekan bayangkan tadi. Saya harap ia tahu persis bahwa tujuan kami adalah KLCC. Dengan asumsi itu, pasti kalaupun ia menaiki kereta yang datang kemudian, ia akan turun di KLCC Station. Dengan demikian segera saya sampaikan agar rekan-rekan tidak usah terlalu khawatir. Nanti kita akan menunggu beberapa kereta berikutnya di KLCC Station.

Setelah tiba di KLCC Station, kamipun menunggu kereta yang datang berikutnya. Sebenarnya jarak antar kereta di jalur ini cukup rapat. Jarak waktu kedatangan antar kereta hanya 2 menit. Namun demikian untuk mengantisipasi apabila Mak Nyak tidak tahu harus turun dimana, kami memencar tim. Masing-masing berdiri dan mengamati setiap pintu kereta yang terhenti. Di saat pintu kereta terbuka dan para penumpang menghambur keluar, masing-masing harus mengamati. Jika kami melihat tampang Mak Nyak, maka siapapun harus segera memberinya kode untuk keluar dari kereta.

Dua menit berselang sebuah kereta datang. Tidak panjang sebagaimana yang kami tumpangi sebelumnya. Hanya dua gerbong. Saya sempat mengecek semua gerbong dari sisi luar jendela kereta. Hasilnya? Nihil! Mak Nyak tidak ada! Kami masih mencoba untuk tetap tenang. Siapa tahu kereta yang datang berikutnya.

Dua menit kemudian kereta lain datang. Kali ini lebih panjang. Ada delapan gerbong yang penuh sesak dengan penumang yang sebagian besar berdiri. Ketika masing-masing dari kami menyelidiki setiap pintu kereta, tiba-tiba sesosok wanita berkain sari warna merah lembut berjalan santai keluar pintu kereta. Plooong, dialah sosok yang menggemparkan pikiran kami. Dialah Mak Nyak dari Bangladesh yang kami tunggu.

Saya segera menghambur dan menyambutnya. Spontan saya sampaikan permohonan maaf terlebih dahulu. “I’m sorry, are you OK?” ungkap saya singkat. Iapun bilang OK sambil geleng-geleng kepala kecil dan kedua telapak tangannya dibuka lebar ke arah atas. Kamipun tersenyum simpul mengenang kejadian itu.

Jika kami merasa lega dan urusan sudah kelar, everything is OK, lain halnya dengan kolega Bangladesh yang laki-laki. Sambil kami berjalan keluar dari KLCC Station, nampak Mak Nyak berkata-kata dengan nada cepat dan eksresi wajah yang sepertinya marah. Mungkin ia tengah memarahi rekan juniornya. Entahlah…..

Ngisor Blimbing, 23 Oktober 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mak Nyak Bangladesh Ketinggalan Kereta

  1. Ping balik: Meng-guide Mak Nyak Bangladesh di Kuala Lumpur | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s