Jum’atan di Bandar Baru Bangi


Rekam Jejak Menyambangi Bandar Baru Bangi (5)

Hari Jum’at tentu saja identik dengan ibadah sholat Jum’at bagi kaum muslimin. Bagi kita yang merupakan negeri dengan mayoritas penduduk muslim, mencari masjid untuk Jum’atan tentu bukan menjadi suatu persoalan yang susah. Hampir di setiap gang dan di setiap kampung terdapat masjid yang menyelenggarakan Jum’atan. Bahkan di kantor-kantor, hotel, ataupun mall juga biasa digelar Jum’atan.

jumat-bangi

Lain di dalam negeri, tentu saja lain pula di luar negeri. Bahkan di negeri serumpun yang mayoritas penduduknya muslim dan menyatakan dirinya sebagai negara berdasarkan syariat Islam, ternyata urusan Jum’atan bagi musafir luar yang kebetulan sedang berkunjung bisa menjadi persoalan tersendiri. Hal ini kami alami sendiri ketika berkesempatan Menyambangi Bandar Baru Bangi di minggu lalu.

Berbeda hal di negeri kita dimana masjid ngembrah ada dimana-mana, ternyata di Negerinya Tun Mahatir Muhammad itu sedikit berbeza. Tidak sembarang kampung, pemukiman, ataupun tempat memiliki masjid. Masjid didirikan sangat terbatas hanya di tempat-tempat tertentu. Konon untuk pembangunan masjid ataupun tempat ibadah lainnya diberlakukan ketentuan perizinan yang ketat.

Posisi penginapan dan kegiatan yang kami ikuti di Hotel Bangi Putrajaya yang berada di puncak sebuah bukit dan jauh dari akses jalan maupun tempat lain, menjadikan permasalahan tersendiri pula soal Jum’atan. Meskipun sebagai musafir, namun karena adanya kesempatan dan keluangan waktu untuk Jum’atan, tentu saja kami memilih untuk tidak meninggalkan kewajiban mingguan tersebut. Hitung-hitung juga ingin turut menikmati suasana dan nuansa Jum’atan di negeri tetangga.

Sebagaimana ilustrasi yang saya tuliskan di awal, keberadaan Masjid Al Hasanah, masjid terdekat dari Hotel Bangi Putrajaya lumayan tidak dekat. Mungkin berkisar jarak 3-4 km. Tentu saja jarak sedemikian tidak memungkinkan untuk dicapai dengan jalan kaki. Terlebih dalam suasana tengah siang hari dimana matahari sedang terik-teriknya bersinar. Jam-jam sibuk menjelang tengah siang ternyata juga tidak mudah untuk mendapatkan layanan Grabcar. Akhirnya dengan sedikit berat hati, kami terpaksa menyewa taksi VIP hotel dan terkena tarif RM20 untuk jarak yang hanya sepelemparan bola golf itu.

jumat-bangi1

Mendekati jalanan yang di depan Masjid Al Hasanah terjadi antrian kendaraan yang cukup padat. Di samping banyaknya pengendar mobil yang juga akan turut Jum’atan, kemacetan itu juga dipicu banyaknya jamaah yang menyeberang jalan menuju halaman masjid dan juga adanya beberapa pedagang kaki lima yang menggelar dagangan di pasar kaget. Ternyata nggak di Indonesia nggak di Malaysia, ada pula pasar kaget di Hari Jum’at.

Untuk mengantisipasi panjangnya antrian wudhu yang biasa terjadi, saya sudah wudhu sekalian sebelum berangkat dari Hotel Bangi Putrajaya. Kira-kira kurang lima menit kami memasuki area masjid. Nampak jamaah sudah membludak memenuhi ruang utama, teras, bahkan di koridor dan lorong-lorong. Dengan sedikit tlaten dan nekat, akhirnya saya berhasil masuk ke ruang utama dan masih mendapatkan tempat untuk sholat dan mendengarkan khutbah.

Jum’atan di Masjid Al Hasanah, Bandar Baru Bangi, Negeri Selangor merupakan Jum’atan saya yang ke empat kalinya di Negeri Jiran Malaysia. Dulu sekali, sekitar 10 tahun silam, saya pernah merasakan Jum’atan di Masjid Agung Melaka. Awal tahun 2015, saya bersama si Ponang pernah pula turut Jum’atan di Masjid Negara Kuala Lumpur. Terakhir di bulan Februari 2016, masih bersama si Ponang juga kami Jum’atan di Masjid “Pink” Putrajaya.

jumat-bangi2

jumat-bangi3

Setelah pukul 13.00, adzan berkumandang sebagai penanda dimulainya rangkaian ibadah Jum’at. Khotib segera naik mimbar dan memulai khutbahnya. Setelah mewasiatkan pesan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, khotib menyampaikan inti khutbah perkenaan dengan paham Islam Syi’ah. Dengan antusias dan berapi-api, sang khotib menyampaikan khutbahnya secara lantang. Saya yang sebenarnya sedikit terkantuk-kantuk oleh sepoi semilir angin yang terasa gerah di siang terik yang sedikit mendung itu menjadi sama sekali tidak sempat memejamkan mata. Akhirnya khutbahpun selesai, khotib membacakan doa, dan segenap jamaah semuanya mengaminkan. Ibadah Jum’atpun diakhiri dengan sholat berjamaah.

Selepas dzikir dan doa, jamaahpun bubar berhamburan. Suasana hiruk pikuk dan penuh keramaian segera hadir di sekitar pelataran depan masjid. Puluhan pedagang yang berjajar di tenda-tenda yang ditata di tepian pelataran segera diserbu oleh para jamaah dengan kepentingannya masing-masing. Ada pedagang makanan ringan. Ada pedagang minyak wangi. Ada pedagang minuman ringan. Ada pedagang perlengkapan ibadah. Suasana benar-benar hingar bingar. Benar-benar tidak jauh berbeda dengan suasana pasar kagetan di sebagain masjid besar yang ada di tanah air.

jumat-bangi4

jumat-bangi5

Suasana lalu lintas di depan area masjid kembali tersendat. Kali ini banyak rombongan anak-anak sekolahan dengan pakaian seragamnya secara berkelompok menyeberang jalanan bersama-sama. Mereka saling beriringan dikawal oleh beberapa orang gurunya. Pemandangan di tengah jalanan pada saat mereka melintas sangat mirip dengan barisan puluhan ekor bebek yang sedang digembalakan oleh si bocah angon.

Jum’atan di Malaysia, sebagaimana di Indonesia, merupakan peristiwa yang telah melekat sebagai tradisi yang khas. Ribuan orang berbondong-bondong meninggalkan kesibukannya menuju masjid untuk beribadah bersama. Masjid seketika dipenuhi oleh jamaah yang membludak. Jika di tanah air kita masjid sangat banyak jumlahnya, sehingga pada kesempatan setiap sholat lima waktu senantiasa ada jamaah yang menyambanginya, saya tidak bisa membayangkan masjid yang jarang dan jauh dari pemukiman ataupun pusat aktivitas di Malaysia. Apakah dalam kesempatan sholat lima waktu juga makmur dengan jamaahnya yang memenuhi panggilan-Nya? Saya tidak tahu pasti soal ini.

Lor Kedhaton, 21 Oktober 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jum’atan di Bandar Baru Bangi

  1. Ping balik: Mak Nyak Bangladesh Ketinggalan Kereta | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s