Batu Cave Under Renovation


Rekam Jejak Menyambangi Bandar Baru Bangi (4)

Sore itu kami usai menyambangi fasilitas Nuclear Malaysia Agency di sekitar selatan Bangi Lama. Semenjak pagi sebelumnya beberapa kolega sangat ingin mengunjungi kuil Batu Caves di utara Kuala Lumpur, masih wilayah Negeri Selangor. Dua mobil yang dikemudikan Kang dan Nurul Wahidah mengantarkan rombongan kecil kami ke Stasiun Bangi. Dengan membayar RM 7,2 Kereta KTM relasi Seremban-Batu Caves siap membawa kami.

batu-cave

Sempat menunggu sejenak di peron stasiun, akhirnya kereta yang kami tunggu tiba. Bersama dengan beberapa calon penumpang yang sama-sama menunggu kamipun bergegas memasuki gerbong sisi paling belakang. Meskipun hari sudah menjelang jam bubaran kantor, namun keberadaan Stasiun Bangi di ujung selatan dan masih merupakan kawasan pinggiran menjadikan penumpang kereta masih lengang. Kamipun dengan leluasa dapat memilih tempat duduk yang kami ingini. Perjalanan yang akan kami tempuh cukup panjang, sekitar 1 jam dengan melintasi Kuala Lumpur.

Dengan melintasi stasiun UKM, Kajang, Serdang, Bandar Tasik Selatan, KL Sentral, Taman Wahyu, tibalah kami di ujung perjalanan menjelang petang itu, Stasiun Batu Caves. Kuil Batu Caves merupakan kuil di dalam sebuah gua kapur yang berada pada sebuah tebing perbukitan kapur yang cukup tinggi. Keluar dari area stasiun kereta api, pengunjung dapat mengakses sebuah pintu besi di sisi timur laut. Segera kita akan memasuki area kuil Batu Caves.

bangi-station  ktm-train

Tepat di sisi kiri pintu gerbang terdapat Kuil Ramayana yang ditandai dengan patung si Kera Putih Hanoman. Hanoman adalah pengikut setia Prabu Rama dalam legenda Ramayana. Dialah yang menjadi duta Rama untuk menyelidiki keberadaan Dewi Sinta yang diculik Rahwana dari Negeri Alengka. Dia pulalah yang tertangkap oleh Indrajit dan ketika akan dihukum bakar justru memporak-porandakan Istana Alengka. Tersohorlah lakon cerita Hanoman Obong.

Meneruskan berjalan menuju sisi dalam kawasan kuil, di sisi kiri terdapat sebuah kuil pemujaan ummat Hindu yang berhias ornamen patung-patung kera di puncak atap-atapnya. Patung-patung kera berwarna emas itu semakin mempertegas keberadaan Kuil Batu Caves sebagai tempat pemujaan Dewa Murugan. Sebuah pelataran luas segera terbentang di hadapan pengunjung. Ribuan burung merpati hidup bebas, lepas, dan menyemarakkan suasana senja. Beberapa pengunjung nampak berasyik ria memberi makan dan bercanda dengan merpati-merpati yang nampak sangat jinak tersebut. Dan ketika kita tiba tepat di pusat pelataran Kuil Batu Caves, setiap mata akan terkesima dan takjub dengan keberadaan Patung Dewa Murugan.

batu-cave1

Patung Dewa Murugan setinggi tidak kurang dari 30 meter menjadi daya tarik utama Kuil Batu Caves. Patung dengan sepuhan emas murni yang berkilau terkena terpaan sinar mentari senja itu semakin menampakkan daya magisnya. Dewa Murugan, dialah dewa pelindung bagi kera-kera penjaga kuil yang dikeramatkan oleh ummat Hindu. Dewa Murugan menjadi landmark wisata Kuil Batu Caves. Hal ini menjadikan hampir setiap pengunjung yang datang senantiasa mengabadikan momen kunjungannya dengan berfoto berlatar belakang patung Dewa Murugan.

Berbeda dengan kunjungan saya lebih dari setahun sebelumnya, ada yang sedikit nampak berbeda daripada Patung Dewa Murugan yang saya lihat pada senja menjelang petang itu. Di setiap sisi, depan, kanan, kiri, juga belakang patung terdapat ratusan stager yang memagari patung berwarna emas mengkilat tersebut. Rupanya patung tersebut sedang direnovasi atau mungkin justru dicat atau disepuh ulang.

Tidak saja khusus Patung Dewa Murugan yang sedang menjalani permaks ulang, bangunan kuil di sisi depan pintu gerbang, termasuk pintu gerbang yang menjadi penanda kaki anak tangga, juga sedang dipugar. Stager dan pilar-pilar sarana untuk pengecoran bangunan kuil menghilangkan keindahan arsitektural bangunan semula. Rupanya secara keseluruhan bangunan di setiap sudut kompleks Kuil Batu Caves sedang dipugar alias direnovasi secara besar-besaran. Meskipun demikian kita masih dapat menikmati sisi keindahan, kemegahan, dan kesakralan keseluruhan kompleks kuil.

batu-cave2

Tepat di sisi Patung Dewa Murugan terdapat sepasang deretan tangga berundak yang menanjak naik ke arah sebuah gua yang ada di lereng bukit. Pada kunjungan saya yang pertama, ribuan orang nampak naik dan turun pada kedua sisi tangga. Ada ummat Hindu yang sedang berziarah dan beribadah, namun lebih banyak diantaranya adalah para wisatawan yang sedang melancong. Banyak diantaranya para pengunjung mengabadikan perjalanan menaiki maupun menuruni tangga dengan berfoto di berbagai tingkatan anak tangga. Suasana menjadi semakin riuh dengan kedatangan monyet-monyet liar yang datang dari pepohonan di sisi kanan-kiri tangga. Mereka ada yang nampak jinak, namun tidak sedikit pula yang nampak garang dan liar. Beberapa pengujung nampak mengakrabi mereka dengan memberikan makanan, seperti pisang ataupun kacang.

Total terap anak tangga yang harus dilewati pengunjung yang ingin memasuki gua Batu Caves mungkin lebih dari 100-an. Pada setiap terap tangga, kita dapat menikmati pemandangan perkotaan di sisi bawah bukit dari berbagai ketinggian. Pada setiap ketinggian yang berbeda kita akan disuguhkan sensasi suasana dan nuansa pemandangan yang berbeda. Kemiringa anak tangga yang mencapai 60 derajat menjadikan setiap pengunjung harus ekstra hati-hati dalam melangkah. Yang tidak kalah pentingnya adalah mengatur nafas dan irama kaki agar tidak cepat kelelahan. Satu tips yang tidak boleh terlewatkan adalah membawa bekal air minum agar pengunjung tidak kehausan apalagi kehabisa tenaga di tengah perjalanan.

batu-cave3

Tiba di ujung anak tangga paling atas, terhamparlah sebuah dataran dengan beberpa patung pujaan di sisi kanan dan kiri mulut gua. Berjalan beberapa langkah memasuki bibir gua, pengunjung akan kembali menyusuri anak tangga yang kali ini justru menurun. Tepat di kaki anak tangga ini kembali terbentang dataran lapang yang menjadi ruang gua yang paling lebar. Di beberapa sudut dataran ini terdapat beberapa bangunan kuil yang juga dalam kondisi sedang dipugar.

Menyusur lurus dataran lapang di lantai bawah gua, kita akan mendapati kembali deretan anak tangga yang akan membawa ke arah suatu tempat di tengah-tengah dinding gua. Tepat menempel di dinding gua inilah bersemayam kuil utama Batu Caves. Keberadaan kuil di dalam perut dan dinding gua pada awalnya merupakan tempat pertapaan untuk menepi dan menyepi dari hiruk pikuk kehidupan duniawi. Bersamadi diri adalah lelaku utama para Maha Resi untuk mencapai nirwana nan abadi sebagai puncak pengabdian Hindu sejati.

Selain sebagai kawasan suci nan sakral bagi ummat Hindu khususnya pemuja Dewa Murugan, kawasan Kuil Batu Caves juga terbuka untuk umum. Keberadaan tempat ibadah ini sekaligus menjadi destinasi wisata religi yang menarik kunjungan hampir setiap pelancong yang sedang berlibur ke Kuala Lumpur. Enaknya lagi, destinasi unik dan menarik ini dapat dinikmati siapapun tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Tidak bayar tiket masuk, alias gratis.

Kunjungan kami ke Kuil Batu Caves kali ini memang sedikit kurang beruntung. Hal ini berkenaan dengan proses renovasi secara besar-besar yang tengah berlangsung sebagaimana saya singgung di atas. Namun demikian, proses renovasi yang sedang berlangsung tidak secara keseluruhan mampu menghapuskan keindahan arsitektural kawasan ini maupun keunikan suasana dan nuansa yang senantiasa menjadi magnet bagi setiap orang untuk menyambanginya. Batu Caves under renovation pastinya akan segera menghadirkan daya takjub yang lebih memikat di masa-masa yang akan datang.

Ngisor Blimbing, 17 Oktober 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s