Ronda-ronda dari Putrajaya


Rekam Jejak Menyambangi Bandar Baru Bangi (2)

Petang itu kami memang mengagendakan untuk menikmati senja di Putrajaya. Dataran Putrajaya dengan Masjid “Pink” Putrajaya, Jabatan Perdana Menteri, tasik dan jembatan Putra bridge menjadi titik tujuan utama kami. Berkenaan dengan waktu senja yang datang bersamaan dengan kumandangnya adzan Maghrib, kamipun menunaikan salah satu kewajiban kami sebagai seorang muslim dengan sholat jamaah di Masjid Putrajaya.

putrajaya4

Selepas sholat tertunaikan, kamipun berjalan melintas Dataran Putrajaya dan menyeberangi lebuh sehala di sudut sisi kiri Jabatan Perdana Menteri. Kami kemudian menapaki tataran undakan jalanan di taman yang semakin menanjak. Di sisi atas taman terdapat beberapa kedai sederhana yang menjajakan berbagai menu makanan. Ada pilihan nasi kandar, nasi goreng, aneka rupa mie, roti canai, bahkan satay. Kami memang berencana untuk menikmati makan malam di tempat tersebut.

Dari sekian pilihan menu makanan yang ada, pada awalnya saya ingin menikmati mie kuah yang menggoda selera. Namun dikarenakan pelayan kedai mie yang saya maksudkan sedang pergi ke surau, jadilah saya mengalihkan plihan ke kedai satay. Satay, tentu saja sama dengan sate di negeri kita. Daging iris kecil yang ditusuk dengan bilah lidi atau bambu tipis, dilumeri dengan bumbu, dan dipanggang dalam bara api alias dibakar.

Satay yang saya nikmati disajikan dalam baluran bumbu kacang setengah gurih dan setengah pedas mengundang selera tersendiri. Sebagai pelengkap utama dihadirkanlah nasi ketupat instan. Nasi ketupat instan yang saya maksudkan dibuat dengan cara memasukkan beras ke dalam plastik yang terbungkus rapat kemudian dikukus langsung dalam rendaman air mendidih hingga nasi tanak dan matang. Dua porsi satay berisi sepuluh tusuk satay ayam dan lima tusuk satay daging sapi lengkap dengan dua porsi nasi ketupat dapat mengganjal perut kami hanya dengan mengeluarkan RM 14. Lumayan murah dan tentunya cukup mengenyangkan.

Selepas menikmati makan malam, rombongan kecil kami berencana mengunjungi Alamanda Mall yang masih berada di kawasan Putrajaya. Pada sebuah halte bus di kelokan sisi selatan Jabatan Perdana Menteri, kami menunggu bus. Sekian lama menunggu, hanya satu-dua bus singgah di halte. Mungkin waktu yang sudah semakin larut, sekitar jam 20.30, mengharuskan kami menunggu sangat lama bus yang kami maksudkan. Selepas pukul 21.00 kami memutuskan untuk membatalkan rencana kami dan lebih memilih untuk segera pulang kembali ke Hotel Bangi Putrajaya. Kamipun memutuskan untuk segera booking Grabcar sebagaimana keberangkatan kami ke Putrajaya.

grabcar-malaysia

Sejenak menunggu, dua buah mobil Grabcar menghampiri kami. Sebagaimana keberangkatan kami sebelumnya, kamipun memecah kelompok kecil kami menjadi dua rombongan kecil sehingga dalam satu Grabcar masing-masing mengangkut tiga penumpang. Satu per satu Grabcarpun melaju membelah keremangan malam di Putrajaya. Tentu saja tujuan kami tidak bertele-tele, langsung pulang menuju Hotel Bukit Bangi Putrajaya.

Jalanan lengang nan sepi segera kami lalui. Sambil sedikit mengobrol ringan dengan kami, sang pengemudi terus menancap gas menambah laju kecepatan mobil yang kami tumpangi. Tentu saja dua mobil Grabcar yang kami tumpangi tidak selamanya dapat berjalan saling beriringan. Dalam beberapa kejam, kamipun saling terpaut jarak yang semakin jauh. Satu sama lain akhirnya mobil yang kami tumpangi terpisah dan tidak menyisakan jejak satu sama lain.

Dengan keyakinan kehandalan dan profesionalisme seorang pengemudi taksi, kamipun hanya pasarah lewat arah mana pengemudi kami akan membawa meobilnya. Satu hal yang pasti dan kami yakini bahwasanya kami akan dibawa ke Hotel Bangi Putrajaya, entah lewat manapun jalur yang akan ditempuh. Tokh kami bertiga tidak tahu jalanan yang harus kami tempuh. Kami yakin pengemudi yang membawa kami tahu pasti arah tujuan kami.

Sayang seribu sayang. Harapan dan keyakinan ternyata tidak selalu seiring sejalan dengan kenyataan yang kami dapatkan. Selepas menyusur jalanan lebar dan lengang, pengemudi kami mulai menampakkan adanya keraguan. Ia nyatakan bahwa dirinya belum pernah menyambangi Hotel Bangi Putrajaya tempat menginap kami. Akhirnya dirinya mengaktifkan aplikasi layanan penunjuk arah secara online. Mobil kamipun akhirnya bergerak mengikuti segala instruksi yang disetting dari program aplikasi tersebut. Keluar jalur utama, belok kanan, belok kiri, seratus meter ke depan tetap lurus, dan lain sebagainya instruksi kami dengarkan bersama-sama dan sang pengemudi senantiasa mematuhinya.

Mendapati sebuah plang hijau bertuliskan “Bangi” sang pengemudipun segera keluar dari jalanan besar, menikung kiri dan keluar menuju jalanan yang lebih kecil. Sekian puluh meter selanjutnya jalanan menurun dan langsung membelok tajam. Sebuah terowongan menganga kami lalui dengan penuh kepastian. Selepas terowongan instruksi arahan mengatakan kami harus belok kanan. Kembali kami susuri jalanan yang sejajar namun berlawan arah dengan jalur jalan utama. Kawasan D-Centrum dan UNITEN berada di sisi kiri kami.

Pada sebuah turunan, pengemudi  mengikuti jalur mengarah belokan kanan, Kembali sebuah terowongan lengang menganga kami masuki. Selepas itu, petunjuk arah mengatakan kami harus kembali mengambil arah kiri. Enam kilo meter ke depan kami harus masuk kembali ke jalur jalanan utama. Dengan penuh keyakinan dan tanpa perasaan curiga apapun kami patuh kepada perintah dan arahan dari program online tersebut.

Sekian lama berjalan cepat di jalanan yang kembali lebar dan lengang menjadikan kami semua turut waspada untuk megamati rambu-rambu petunjuk di arah kiri jalan. Ketika adalah plang hijau besar bertuliskan “Bangi” kamipun kembali keluar dari jalan besar utama. Kami ikuti terus arahan online. Namun apa yang terjadi selanjutnya?

Ada semacam perasaan de-javu yang menghinggap di setiap benak kepala kami. Ada perasaan seolah-olah kami pernah melewati jalanan yang ada di depan kami. Kamipun mulai sedikit resah dan gelisah. Sang pengemudi juga memperlihatkan gejala kekurangyakinannya. Di sisi kiri kami kembali terbentang sebuah gedung panjang bertingkat bertuliskan UNITEN. Ha? Apakah berputar-putar pada jalur yang semula kami lalui? Akhirnya satu orang rekan kami segera mengaktifkan layanan online pelacak arah. Kini ada dua smartphone yang sama-sama diaktifkan untuk memberikan arahan jalur yang seharusnya kami tempuh.

Dua aplikasi layanan petunjuk arah yang kami aktifkan ternyata memberikan arahan yang sama, mereka satu sama lain saling kompak dan tidak pernah berselisih informasi. Namun apa yang terjadi ya Allah, kami berputar-putar kembali di seputaran UNITEN, De-Centrum, IOI City Mall, pada tepian jalur arteri. Apakah kami tersesat? Begitulah kira-kira yang kami alami malam itu.

Ketika saya tanyakan kepada sang pengemudi apakah dirinya asli orang Bangi? Dijawabnya iya. Apakah ia hafal daerah Bandar Baru Bangi, dijawabnya tidak! Apakah ia tahu arah dan lokasi Hotel Bangi Putrajaya, dijawab pula tidak! Waduh, gawat benar! Kami mengalami situasi yang semakin mencekam malam itu. Sebagai orang yang tidak tahu kanan-kiri dan utara-selatan Bandar Baru Bangi, kami hanya sedikit mengibur sang pengemudi dengan menyebutkan beberapa clue ataupun ciri yang sedikit kami ingat mengenai keberadaan tujuan kami. Ada di Bandar Baru Bangi, ada di dekat lapangan golf, waktu tempuh dari IOI City Mall hanya sekitar 15-20 menit, demikian beberapa hal yang kami harapkan dapat memercikkan ingatan maupun petunjuk arah bagi pengemudi Grabcar yang kami tumpangi.

Puji Tuhan atas permasalahan kami. Tiba-tiba kami  mendapatkan plang besar panjag  berlatar belakang warna putih bertuliskan “Hotel Bangi Putrajaya”. Seolah kami menemukan oase di pandang yang tandus. Rasa haus dan cemas sedikit terbati. Harapan itu kembali muncul. Dengan pelan dan pasti arah plang tersebut kami ikuti. Di beberapa tikungan dan perempatan berikutnya kamipun menemukan kembali plang yang sama. Kami ikuti dengan sangat cermat setiap kelanjutan petunjuk arah yang sebelumya seolah-olah raib ditelan bumi.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu lebih dari satu jam, kamipun berbelok kiri pada jalur jalanan yang semakin berkelok dan menanjak. Untuk jalur jalan ini, kami tentu sangat mengenalinya sebagai satu-satunya akses jalanan menuju Hotel Bangi Putrajaya maupun Bangi Golf Resort.

Ketika sampai di depan lobby hotel, dengan setulus hati, sebagai seorang penumpang saya mengucapkan permohonan maaf kepada sang pengemudi. “Maaf ya Pak Cik, kami sama sekali tidak tahu jalan dan memang ini pertama kali kami menginap di sini. Maaf kalau sudah menyusahkan Pak Cik. Terima kasih telah mengantar kami, meski dengan segala kesusahan.” Pak Cik pengemudi itupun menjawab, “Sahaya yang semestinya minta maaf. Sahaya memang belum hafal jalur jalan ke arah sini. Alhamdulillah sekarang sahaya jadi tahu.” Jadilah kami saling bermaafan, seperti lebaran saja ya.

Inilah kejadian berpusing-pusing di Bandar Baru Bangi yang benar-benar telah membuat sekalian kami pusing kepala. Ketika kejadian malam itu saya ceritakan kepada salah seorang pengemudi yang stand bay di depan hotel, ia sempat melongo dan berucap, “Ha, awak beronda-ronda sekian lama?” Akhirnya sayapun jadi tahu dan paham bahwa kata beronda-ronda tersebut semakna dengan kata berpusing-pusing, alias berputar-putar tujuh keliling tidak karuan. Hmmm, sebuah pengalaman baru telah dibabar oleh Sang Maha Sutradara Kehidupan. Sayapun semakin paham. Terima kasih Tuhan.

Ngisor Blimbing, 16 Oktober 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Raya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s