Pantai Kasuari, Pantai Putih di Utara Sorong


Catatan Ekspedisi Radiasi Papua Barat (10)

Sebuah kota di tepian laut, tentu tidak akan punya banyak arti jika tidak memiliki pantai landai yang bisa digunakan untuk bersantai. Sorong di ujung semenanjung Kepala Burungpun demikian. Meskipun bentang pantai di sepanjang pesisir Kota Sorong boleh dikata tidak ada yang elok, namun sedikit bergeser di sisi utara kota terbentang sebuah hamparan pantai berpasir putih yang sangat eksotik dan potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis pantai.

pantai-kasuariMeskipun daerah Kepala Burung bukanlah daerah endemik jenis unggas burung yang satu ini, namun justru dengan nama itulah warga sekitar menamai pantai ini. Demikian halnya, bentuk ujung tanjung daripada pantai yang saya maksudkan juga tidak mirip dengan burung yang sama. Ya, entah dari sisi mana masih belum begitu jelas namun faktanya pantai berpasir putih di utara Kota Sorong ini dinamakan Pantai Kasuari.

Jarak antara Kota Sorong ke Pantai Kasuari memang bisa dibilang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 km. Meskipun akses jalanan menuju ke tempat tersebut sudah diperkeras dengan cor beton, namun konturnya yang kasar menjadikan kendaraan yang melintas tidak bisa memacu gas dan harus berjalan pelan ekstra hati-hati. Dengan demikian jarak yang relatif tidak jauh tersebut harus ditempuh setidaknya 30 menit dengan kendaraan pribadi.

Bagian pantai landai pada tanjung di sisi utara Kota Sorong yang disebut sebagai Pantai Kasuari ini sesungguhnya merupakan sebuah lekuk teluk pantai. Kontur permukaan pantai yang landai menjadikan gelombang dan ombak hampir sepanjang hari sangat tenang dan datar. Kondisi ini menjadikan tepian pantai di sini menjadi tempat favorit bagi anak-anak untuk bermandi dan bercanda ria dengan kecipak air laut.

pantai-kasuari1 pantai-kasuari2

Di samping hamparan pasir putih yang lembut di telapak kaki, Pantai Kasuari semakin tambah asri oleh tiupan angin laut yang sejuk di bawah kerindangan pepohonan di sepanjang garis pantai yang menghijau. Ada pohon waru doyong, pandan alas, bakau, dan tentu saja si nyiur melambai pohon kelapa. Hal ini menghadirkan keteduhan suasana yang membawa ketenangan dan kesejukan bagi jiwa maupun raga bagi siapapun yang mengunjunginya.

Dengan seribu satu keunggulannya, Pantai Kasuari belum banyak dikenal orang. Ada beberapa hal yang menurut pengamatan penulis menjadikan pengembangan pariwisata Pantai Kasuari belum sepenuhnya berjalan dengan optimal.

Pertama, berkaitan dengan kondisi akses jalan belum sepenuhnya mulus dan sarana transportasi yang belum ada. Bagi pengunjung dari luar daerah yang menggunakan sarana transortasi umum, taksi atau angkutan kota yang ada hanya sampai di Pasar Ujung Benteng. Dari pasar tersebut, kendaraan harus dicarter untuk mengantarkan hingga lokasi pantai. Tentu saja jasa pengantaran tersebut harus dibayar denga harga yang tidak murah.

pantai-kasuari3

Kedua berkaitan dengan kondisi pantai yang belum tertata dan terkelola secara profesional. Meskipun hamparan pasir putih senantiasa kemilau terterpa kilauan sinar mentari, namun kilau tersebut tertutup oleh tumpukan sampah yang terhempas alunan gelombang pantai. Dengan segala permohonan maaf, penulis harus mengatakan bahwa kebersihan belum hadir pada hamparan pasir putih. Hamparan pasir kotor oleh dedauan, rerumputan yang terdampar, hingga sampah-sampah plastik dan botol bekas.

Ketiga, pengelolaan retribusi maupun penjagaan keamanan pantai masih berlangsung seadanya. Garis-garis pantai terkapling-kapling wilayah pengelolaannya menjadi kawasan “milik”pribadi atau kelompok desa tertentu. Tidak ada loket penjualan tiket resmi dengan tarif terstandar sebagaimana obyek wisata pada umumnya. Bahkan yang penulis alami, pada saat santai duduk berindang di bawah pohon pandan, datang seorang mama menghampiri dan meminta uang retribusi seadanya. Tanpa lembar tiket maupun bukti pembayaran lainnya.

Potensi Pantai Kasuari yang belum sepenuhnya tergarap dengan baik, walhasil menghasilkan keadaan pantai yang sering sepinya daripada ramainya. Di hari-hari biasa, pantai ini hanya menjadi arena bermain bagi anak-anak di kampung setempat. Selebihnya, pantai akan sangat sunyi sepi tanpa pengunjung ataupun wisatawan yang berkunjung. Pantai hanya sedikit ramai di hari akhir pekan maupun liburan.

Dengan segala potensi keindahannya, Pantai Kasuari sangat dimungkinkan menjadi destinasi wisata alam paling menarik di Sorong. Dengan biaya yang super maha untuk menjelajahi Kepulauan Raja Empat yang ternama itu, para pengunjung Sorong sangat membutuhkan wisata pengalihan yang eksotik, indah, namun sekaligus murah meriah. Dan pastinya Pantai Kasuari memiliki peluang untuk memanfaatkan hal tersebut.

Semoga ke depannya, baik pihak Pemerintah Daerah setempat, warga sekitar, maupun setiap pemangku kepentingan yang terkait dapat terus melakukan pengembangan Pantai Kasuari agar menjadi pantai favorit untuk dikunjungi oleh siapapun dan kapanpun waktunya. Semoga menjadi perhatian bersama.

Bangi, 9 Oktober 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s