Menembus Rimba Menuju Tangguh


Catatan Ekspedisi Radiasi Papua Barat (5)

Tangguh, sebagaimana pemahaman kita dapat disetarakan maknanya dengan kuat ataupun kokoh. Ternyata kata tangguh juga digunakan sebagai nama sebuah tempat di jantung Teluk Berau, Papua Barat. Tangguh merupakan area seluas kurang lebih 500 hektar yang menjadi sentral eksploitasi gas alam yang dioperasionalkan oleh British Petroleum Tangguh atau disingkat BP Tangguh. BP sendiri merupakan perusahaan internasional yang bergerak di bidang eksplorasi dan eksploitasi migas dari Negerinya Ratu Elisabeth.

travira-airPerjalanan kami dalam rangka misi Ekspedisi Radiasi di Papua Barat berlanjut dengan lokasi yang lebih terpencil daripada Pulau Salawati yang sebelumnya telah kami kunjungi. Tangguh berada di sisi selatan Teluk Bintuni. Tangguh merupakan salah satu kelanjutan kisah episode babad migas di Babo. Tangguh berlokasi kurang lebih 27 mil laut sisi barat Pantai Babo. Sekitar 1 jam 20 menit perjalanan menggunakan kapal laut.

Dari titik keberangkatan di basecamp Sorong, perjalanan menuju Babo harus ditempuh dengan memadukan beberapa moda transportasi sekaligus. Dari Bandara Domine Eduard Osok kami menaiki pesawat Travia Air AT42-600 yang merupakan pesawat carteran yang khusus melayani keperluan transportasi para pekerja maupun ekspatriat BP Tangguh.

Tiba di terminal keberangkatan bandara Sorong, kami segera menuju loket maskapai Travira Air. Dengan sekali mengucap kata “Babo” petugas yang ada langsung menyodorkan papan kecil terbuat dari plastik bertuliskan ticket pass. Kedatangan kami ke bandara sama sekali tanpa memegang cetakan pesanan tiket ataupun tiket elektronik. Rekanan kami di BP Tangguh sebelumnya sudah membuat reservasi atas nama tim kami. Dengan sistem ini, nama-nama kami dicatatkan ke daftar manifes calon penumpang pesawat.

travira-air2Dengan papan ticket pass yang diberikan petugas di loket Travira Air kami segera memasuki area check in. Tiga orang petugas di gerbang masuk tanpa ber-babibu langsung mempersilakan kami masuk. Hemm, sebuah pelayanan yang menurut kami sedikit tidak lazim. Bagi kita yang umumnya lebih terbiasa dengan layanan pesawat komersial umum, mengalami hal sebagaimana yang kami alami mungkin menjadi pengalaman baru dan unik.

Di meja check in, petugas langsung meminta kartu identitas kami. Mereka segera mengecek nama-nama kami di daftar manifest calon penumpang. Ternyata memang benar informasi yang disampaikan kepada kami, bahwa rekan di BP Tangguh telah meng-arrange perjalanan kami.

Ada yang unik dan terasa lucu terjadi di saat check-in tersebut. Setelah kami menyodorkan koper untuk ditimbang dan selanjutnya ditempatkan di bagasi pesawat, setiap dari kami  beserta tas ransel yang kami gendong di punggung harus ditimbang bersama-sama. Tepat di samping petugas check-in berdiri bisu sebuah timbangan barang seumumnya yang digunakan di penggilingan padi, tetapi bekerja dengan sistem digital. Ketika saya berdiri di atas timbangan, tercatat angka 75,4 kg. Belum pernah saya akan naik pesawat harus timbang badan seperti proses pendaftaran di posyandu untuk anak-anak balita kita.

Selesai menjalani prosedural di meja check-in, kami diarahkan menuju ruang induction. Berbeda dengan jasa penerbangan komersial umumnya, medan terbang di angkasa Papua yang sangat dinamis dan juga barangkali keberadaan pesawat terbang berbaling-baling tunggal kanan-kiri yang akan kami tumpangi mengharuskan setiap calon penumpang melalui tahapan safety induction.

Di ruang induction telah berjejer para calon penumpang yang lain, mungkin sekitar 50-an orang. Ruang induction dipenuhi dengan jajaran kursi sofa hitam yang dilengkapi dengan beberapa monitor di sudut-sudut tertentu. Di ruang ber-AC itu pula para calon penumpang dapat menikmati suguhan menu sarapan dan kudapan yang dihidangkan secara prasmanan. Sambil menunggu safety induction dimulai beberapa orang nampak menikmati makanan maupun minuman yang disediakan. Beberapa yang nampak ada yang menunggu sambil membaca koran, bermain handphone, bahkan ada pula yang tertidur mendengkur.

Sesaat kemudian safety induction dimulai. Materi induction disampaikan dalam bentuk tayangan video yang ditampilkan pada layar monitor tivi flat yang ada di beberapa sudut ruangan. Inti dari safety induction yang disampaikan adalah pemberitahuan, penyadaran maupun penyegaran ingatan kembali kepada setiap penumpang mengenai risiko bahaya yang akan menyertai perjalanan menuju Tangguh. Diingatkan kembali mengenai risiko bahaya yang berkaitan dengan transportasi yang akan dijalani meliputi penerbangan, perjalanan darat, dan perjalanan laut. Disampaikan pula mengenai aturan dan prosedur yang harus ditaati ketika sudah sampai dan masuk di area Tangguh LNG.

Setelah sempat menunggu di longe beberapa saat, boarding time-pun tiba. Satu per satu para penumpang berbaris rapi menuju area parkir pesawat. Pesawat AT-42 600 merupakan tipe pesawat baling-baling yang dapat mengangkut penumpang hingga 60-an orang. Bagasi barang pada pesawat berbadan besar yang biasaya terletak di sisi bawah kabin penumpang, pada tipe pesawat ini berada di sisi tengah antara ruang kendali dan kabin penumpang. Hal ini dikarenakan badan pesawat yang relatif kecil (tipis). Dan pastinya pintu untuk masuk dan keluarnya penumpang hanya terdapat satu buah di sisi belakang. Tentu saja untuk pintu darurat tetap ada di sisi depan dan belakang kabin penumpang.

Dengan getaran suara baling-baling yang keras menderu, pesawatpun akhirnya lepas landas dari runway Bandara Sorong. Cuaca cukup mendukung pada saat penerbangan kami. Meskipun di beberapa titik terdapat benih dan gumpalan awan, namun secara umum cuaca dapat dikatakan cerah. Pesawat peumpang berbadan kecil tentu saja tidak melintas pada ketinggian jelajah yang terlalu tinggi. Hal ini memberikan kesempatan kepada kami untuk dapat melihat jelas hamparan landscape daratan Kepala Burung yang ditutupi dominasi warna hijau. Secara umum, hutan-hutan di wilayah ini memang masih terjaga kelestariannya.

baboJarak antara Sorong – Babo ditempuh selama kurang lebih 50 menit penerbangan. Akhirnya pesawat Travira Air yang kami tumpangi merapat dan mendarat selamat di Bandara Babo. Tibalah kami di Babo, titik jantung Papua Barat yang dikenal sebagai titik awal peradaban modern di Papua pada tahun 1935. Babo sekaligus menorehkan sejarah kelam pada masa Perang Asia Raya yang menyebabkan peradaban yang baru menyingsing kurang dari satu dasa warsa hancur akibat kebrutalan pesawat-pesawat Jepang yang mematikan.

Tangguh, 25 Sepetember 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Menembus Rimba Menuju Tangguh

  1. ridwanoskar berkata:

    Mantab….Lng Tangguh Teluk bintuni,Tanah merah…One Team Tangguh.

    Suka

  2. joelramsese berkata:

    kalau dari sorong ongkos brp yah om? & penerbangan hari apa aja yah
    thanks

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Wilayah operasional BP Tangguh dapat dikatakan sebagai wilayah tertutup, sehingga akses transportasi ke sana sangat terbatas. Angkutan dari Sorong ke Tangguh melalui Babo airport dengan pesawat Travia Air merupakan angkutan carteran untuk mendukung operasional BP Tangguh. Setiap hari terdapat 2 penerbangan pulang-pergi, setiap 6 jam sekali. Mengenai biayanya saya sendiri kurang paham, namun intinya kita dapat menggunakan sarana transportasi tersebut apabila sudah berkoordinasi atau diizinkan oleh BP Tangguh.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s