Menyeberang ke Salawati (2)


Catatan Ekspedisi Radiasi Papua Barat (4)

KMT atau Kasim Marine Terminal merupakan dermaga pelabuhan yang mengubungkan daratan selatan Kepala Burung menuju ujung Pulau Salawati. Semenjak pemerintah Hindia Belanda, melalui NNGPM, mengendus dan cadangan minyak bumi dan gas di kawasan Papua Barat, maka Pulau Salawati merupakan daerah yang pertama kali dieksplorasi. Hal ini berlangsung sebelum mereka merangsek lebih jauh ke perairan pedalaman di Teluk Bintuni dan mencapai Babo.

salawati2Selepas hengkangnya Belanda dari Bumi Papua, sebagian besar perusahaan komersial milik Belanda dinasionalisasi. Berkaitan dengan pengelolaan tambang migas, dalam perkembangannya pemerintah memberikan kesempatan masuknya penanaman modal asing. Salah satu perusahaan modal asing yang beroperasi di Pulau Salawati adalah Petrocina. Petrocina inilah yang merintis dan membangun KMT. Setelah perusahaan Petrocina diakuisisi oleh Petrogas, maka keberadaan KMT saat ini juga dibawah kepemilikan dan pengelolaan Petrogas.

Kepergiaan tim kami ke Pulau Salawati sama sekali tidak bersangkut paut dengan operasionalisasi Petrogas dalam penambangan gas di sana. Di samping menyimpan cadangan gas yang melimpah, Salawati juga memiliki kandungan minyak bumi yang masih terus memancar semenjak jaman Belanda. Proses pengeboran dan produksi minyak bumi di Salawati saat ini dilakukan oleh Pertamina. Bahkan semenjak dua puluh tahun silam juga telah dibangun kilang minyak untuk mengolah minyak mentah yang dihasilkan. Kehadiran kami di Salawati sebenarnya dalam rangka melakukan pengecekan peralatan well logging milik salah satu kontraktor yang beroperasi di lapangan produksi Pertamina Pulau Salawati.

Rombongan kecil kami terdiri atas 6 orang. Tiga dari rekan sejawat penulis, dua teknisi dari salah satu perusahaan kontraktor jasa well longging, serta satu orang driver. Setelah tiba di dermaga KMT kamipun bergegas menuju ke kapal yang akan membawa kami menyeberang. Setelah sekian lama menunggu ternyata telah terjadi sedikit miskomunikasi. Dikarenakan kami janjian dengan pihak Pertamina, maka kami harus naik kapal melalui dermaga milik Pertamina, bukan KMT yang dimiliki oleh Petrogas.

Kamipun kemudian berputar-putar mengelilingi area KMT untuk menemukan lokasi dermaga Pertaminayang dimaksudkan. Beberapa sempat bertanya kepada beberapa pihak ternyata tidak secara otomatis membuat informasi semakin terang benderang. Dengan usaha yang sedikit lebih ekstra, akhirnya kamipun berhasil menemukan dermaga Pertamina.

Yang disebut sebagai dermaga Pertamina ternyata sangat jauh dari yang kami perkirakan. Sangat berbeda dengan KMT, dermaga Pertamina hanya sebuah tonggak pemompaan bahan bakar yang sangat sederhana dengan tatanan batuan di lereng bibir pantai yang curam. Tepat di sisi utara dermaga setengah hati tersebut telah tersandar dengan angkuh sebuah bak kapal tongkang panjang nan besar dengan keseraman warna hitamnya.

salawati3Setelah menunggu beberapa saat kapal longboat yang akan menyeberangkan kami merapat ke dermaga. Sesaat kemudian ternyata sebuah rombongan dengan mobil lain juga datang di titik dermaga. Mereka rupanya beberapa orang manajer dan pekerja Pertamina yang akan menyeberang bersamaan kami. Kapal yang akan membawa kami berupa sebuah kapal sederhana dengan panjang sekitar sepuluh meter dengan kabin sederhana beratap papan rendah dan beralaskan helainan papan kayu yang dipasang melintang kanan-kiri. Akhirnya kamipun menaiki geladak kapal untuk kemudian duduk pada deretan papan tersebut.

Dengan membawa sekitar sepuluh penumpang, kapal kayu itupun mulai menjauhi dermaga. Pelan namun anggun, biduk sederhana nan bersahaja itupun membelah ombak dan riak-riak kecil gelombang di tengah siang tersebut. Nun jauh di garis permukaan laut sisi kanan kami terbentang sebuah pulau yang dipagari deretan rumah panggung dari kayu beratap seng putih. Konon merekalah yang disebut sebagai orang Kasim, dan pulau yang mereka huni juga disebut sebagai Pulau Kasim. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit tibalah kami di dermaga milik Pertamina di ujung selatan Pulau Salawati.

Setelah kapal sandar, rombongan kamipun bergegas naik ke dermaga. Dengan membawa perlengkapan kerja, kamipun segera merapat ke pos penjagaan dan melaporkan maksud serta tujuan kami. Pulau Salawati sisi ujung selatan sudah sekian lama menjadi ladang eskploitasi minyak bumi yang dilakukan oleh Pertamina. Minyak hasil pengeboran dari sumur-sumur yang ada diolah pada fasilitas pengilangan Pertamina yang ada di seberang pulau, berada di sisi selatan area KMT.

Ujung Pulau Salawati dibentengi dengan deretan tanaman bakau yang berbaris jarang-jarang. Pantai dengan kontur rawa-rawa menghadirkan endapan lumpur menbentuk tekstur pantai yang landai. Keberadaan beberapa sungai kecil yang bermuara di pantai tersebut konon menjadikan pantai menjadi habitat kembang biak buaya muara yang terkenal sangat ganas.

Rombongan kami tidak masuk terlalu dalam ke area Pulau Salawati. Setelah bertemu dengan beberapa pihak kamipun menunaikan tugas kami untuk melakukan beberapa tindakan pengecekan penting terhadap beberapa alat. Singkat cerita, kamipun selesai dengan tugas tersebut.

Untuk dapat kembali menyeberangi selat menuju daratan Kepala Burung di KMT, kami harus menunggu kapal diberangkatkan sambil sekaligus membawa para penumpang yang lain. Saat-saat menunggu yang tidak sebentar kami mamfaatkan dengan duduk-duduk, sholat, dan beramah tamah dengan beberapa pekerja keamanan yang sekaligus menjadi pengurus masjid yang ada di samping pos keamanan. Kebanyakan personil yang berbincang dengan kami berasal dari Jawa. Mereka ada yang perantauan asli, namun ada pula yang keturunan dari orang tua Jawa yang dulunya menjadi peserta program transmigrasi ke Tanah Papua. Sungguh perbincangan ngalor-ngidul yang sangat luar biasa.

Sebagai sesama anak bangsa, kami banyak berbincang mengenai berbagai hal. Mengenai asal-usul kami masing-masing. Mengenai kisah lika-liku kehidupan di tanah perantauan. Mengenai kehidupan sosial kemasyarakatan dengan masyarakat setempat. Mengenai usaha ternak dan pertanian mereka. Kami bicara mengenai Jokowi, mengenai pemilu, mengenai ladang, hutan dan mengenai apa saja.

Perjalanan menyeberang ke Pulau Salawati adalah sebuah perjalanan yang sungguh luar biasa. Melalui perjalanan tersebut, Tuhan kembali menghamparkan kebesaranNya akan anugerah luar biasa atas bumi yang bernama Nusantara ini. Kekayaan hayati rimba rayanya dan juga ke-bhinekaan yang ada laksana surga yang terhadir ke muka bumi. Betapa setiap saat kita tidak boleh untuk berlelah mengucap kebesaran Tuhan Yang Maha Agung.

Tangguh, 23 September 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s