Menyeberang ke Salawati


Semenjak melihat di atas hamparan peta, jarak bentangan tempat kami terasa tidak begitu jauh. Hanya kurang lebih 120 km perjalanan darat. Namun jika membayangkan jalanan tanah kasar ataupun sirtu (pasir+batu) di berbagai pesisir Papua, tentu perjalanan kali inipun tidak bisa dibilang ringan. Karim Marine Terminal di sisi bawah daratan Kepala Burung menjadi titik tumpu kami untuk menyeberang menuju Pulau Salawati.

salawati1Dengan mobil Forturner double gardan, seorang sejawat kami menjemput di tempat penginapan. Sebelum memulai perjalanan, terlebih dahulu kami harus mampir ke Kantor PT Pertamina EP untuk mengambil surat jalan dan juga perlengkapan pakaian dna helm keselamatan. Bagaimanapun kami tentu tidak dapat serta-merta mengabaikan pemenuhan terhadap persyaratan keselamatan dengan standar tinggi sebelum memasuki area dengan potensi risiko bahaya yang tinggi pula.

Sesaat kemudian mobil yang kami tumpangi segera meluncur membelah jalan utama di tengah Kota Sorong. Selepas keluar kawasan kota di depan Bandara Domine Eduard Osok, kami menapaki jalanan beraspal yang cukup mulus. Sekian menit kemudian kami telah menjumpai menjumpai sebuah lapangan luas terbuka yang dikenal sebagai Alun-alun Kota Aimas. Wilayah ini pada saat kini menjadi ibu kota Kabupaten Sorong pasca pemekaran Kota Sorong sebagai pemerintahan tersendiri.

Ketika kami melewati Alun-alun Aimas, nampak ada suasana kemeriahan. Beberapa arak-arakan mobil terbuka maupun tertutup yang dipenuhi dengan penumpang yang mengenakan beragam atribut dari beberapa partai politik yang ada yang menghadirkan kesemarakan tersendiri. Suasana bertambah gemebyar oleh tambahan warna-warni bendera ataupun umbul-umbul di sepanjang tepian alun-aluan serta di beberapa ruas jalanan sekitarnya. Rupanya hari itu mengawali prosesi pendaftaran dan kampanye calon kepala daerah yang akan berkontes pada pemilihan mendatang.

Selepas Alun-alun Aimas, mobil Fortuner yang membawa kami berbelok ke arah kanan. Jalanan sedikit menyempit dan di sisi kanan-kiri terhampar pemukiman dan deretan perumahan warga binaan transmigrasi. Berpuluh tahun mereka berhasil menyulap lahan rawa-rawa menjadi lahan pertanian produktif dan membentuk kawasan pertumpuhan pembangunan yang semakin ramai.

Lama-semakin lama lapisan jalanan aspal menghilang. Jalanan mulus berganti dengan butiran debu yang mengambang ringan di atas jalanan yang tertata dari pasir dan batu. Sepanjang menyurus jalanan sirtu lebih dari satu jam, kanan-kiri jalanan semakin sepi dari permukiman penduduk maupun keberadaan kampung-kampung. Tanah-tanah rawa yang mengering telah ditumbuhi rerumputan dan gerumbul semak-belukar serta pepohonan perdu. Berjajar di barisan pepohonan perdu tersebut dipagari dengan pepohonan yang lebih besar yang menandakan keberadaan hutan hijau dataran rendah pantai yang cukup lebat.

Satu lagi kesan unik yang kami rasakan ketika menapaki jalanan sirtu menuju Pulau Salawati. Dengan koendisi jalanan yang bergelombang kasar menjadikan mobil tidak dapat melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan seringkali kami harus pelan dan ekstra hati-hati. Ketika mobil berjalan pelan, justru kami disuguhi pemandangan taman safari alami ala pesisiran daratan Kepala Burung. Berdiri berderetan di sepanjang jalanan, segerombolan sapi tengah sangat asyik merumput, mneikmati kesegaran rerumputan hijau nan segar.

Akhirnya pos penjagaan keamanan kami capai. Kamipun segera melaporkan maksud dan tujuan kami dengan menunjukkan surat jalan yang kami pegang. Pada pos penjagaan tersebut terdapat empat orang petugas keamanan sipil yang didampingi dua orang petugas kepolisian berpakaian preman. Di sisi atas menara pemantau, nampak beberapa anak-anak ataupun pemuda penduduk pribumi bersenda gurau riang sambil cakrukan bersama.

Selepas melewati pos penjagaan, masih dengan kondisi jalanan yang sama, ternyata titik tujuan kami masih cukup lumayan jauh. Beberapa saat kemudian barulah terbentang tebing rerumputan tertata rapi yang membentengi kolam luas dengan air mancur yang menjulang tinggi. Jalanan sedikit lebih halus dan rata. Dengan mengikuti arah petunjuk yang ada, rombongan kecil kamipun akhirnya tiba di Karim Marine Terminal (KMT). Dermaga inilah yang mengantarkan pengunjung yang akan menyeberang ke Pulau Salawati.

Sorong, 22 September 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s