Menapaki Bumi Papua Barat


Perjalanan kali ini sejatinya merupakan perjalanan terjauh saya di wilayah negeri tercinta. Dengan durasi penerbangan hampir lima jam, seiring terbitnya fajar di ufuk timur, pesawat yang membawa kami mendarat selamat di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong. Dini hari hingga pagi itu kami seolah benar-benar menyongsong, bahkan mempercepat datangnya mentari pagi.

bandara-sorong  bandara-sorong1

bandara-sorong2Sorong merupakan kota terpenting di Provinsi Papua Barat. Meskipun secara definitif pusat pemerintahan Provinsi Papua Barat yang terbentuk dari pemekaran Provinsi Papua yang dulunya dikenal sebagai Irian Jaya, adalah Manokwari, namun perkembangan Kota Sorong melampaui ibu kota provinsinya. Sorong menjadi pintu gerbang yang sangat penting untuk menuju destinasi wisata bahari di Kepulauan Raja Empat.

Selintas sehari menapaki beberapa ruas jalanan utama di Kota Sorong, selain warga pribumi asli Bumi Papua, kamipun banyak menjumpai putra daerah lain hampir di setiap sudut kota. Sorong seolah sudah menjadi tempat pembauran berbagai anak suku bangsa lain dari penjuru tanah air. Ada orang Lumajang, Sidoarjo, Madiun, orang Minang, Madura, Bugis, dll. Banyak diantara mereka-mereka yang merantau ke daerah ini sebagai peserta program transmigrasi.

Di samping menunaikan misi dan tugas dari kantor, dalam perjalanan menapaki Bumi Papua saya dipertemukan dengan salah seorang saudara sepupu (satu nenek-kakek dari garis ibu) yang kebetulan sudah beberapa bulan terakhir menjalani kedinasan di Papua Barat. Dari beberapa obrolan yang kami perbincangkan, hal yang menurut saya paling unik dan khas adalah perihal kuatnya masyarakat lokal dalam memegang adat warisan leluhur mereka.

Satu hal yang paling ketat dari adat masyarakat setempat adalah perihal penghargaan terhadap nyawa setiap anggota suku. Jikalau ada kelompok lain yang membuat masalah ataupun menyinggung suatu kelompok masyarakat, maka kelompok yang merasa dirugikan dapat menuntut tebusan uang adat. Contoh nyatanya pada banyak kasus kecelakaan kendaraan di jalan raya. Seorang korban kecelakaan lalu lintas, bahkan seandainya sampai meninggal dunia, maka kelompok atau suku induknya akan menuntut ganti rugi berupa uang denda adat yang harus ditebus oleh orang yang menyebabkan kecelakan atau kematian. Dan tebusannya tidak main-main bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah. Lalu apabila uang denda adat itu tidak dibayarkan atau diabaikan, maka jawabannya adalah perang suku!

Alih-alih soal korban manusia dari anggota suatu kelompok masyarakat atau suku asli, bahkan seandainyapun babi miliknya ditabrak di tengah jalan, maka uang denda adat juga harus dibayarkan. Saking tingginya nilai babi bagi harga diri suatu keluarga, nilai denda babi betina disetarakan dengan jumlah puting susunya dikalikan dengan sekian juta rupiah.

Kedua fakta adat yang dipegang sangat teguh oleh kelompok ataupun suku asli masyarakat Sorong memberikan kesimpulan banyak pihak bahwasanya mayat manusia atau bangkai babi di Bumi Papua Barat ini jauh lebih berharga daripada ketika masa hidupnya.

Fakta adat kukuh yang lainnya soal pengalihan hak kepemilikan atau jual beli tanah. Tanah bagi masyarakat asli Sorong, di samping sebagai milik pribadi ataupun keluarga tertentu, tanah adalah aset milik suku atau kelompok masyarakat induknya. Seseorang tidak akan dapat membeli tanah siapapun tanpa adanya persetujuan dari kepala suku. Persetujuan kepala suku soal pengalihan hak atas sebidang tanah juga dinilai dengan nominal uang tertentu yang harus dibayar oleh calon pembeli.

Setelah kepala suku memberikan persetujuannya dan uang tebusan dibayarkan, maka proses jual beli selanjutnya baru dapat dilanjutkan dengan nego diantara pemilik tanah dan calon pembelinya. Dengan demikian, uang tebusan adat menjadi biaya tambahan tersendiri dalam setiap berurusan dengan masyarakat lokal. Inilah gambaran betapa sangat kuatnya masyarakat memegang adat yang terkadang justru menimbulkan biaya tersendiri yang seringkali menghambat kemajuan pembangunan.

Sorong, 19 Semptember 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s