Puasa Separo Pahala Separo


Menurut para ulama yang pernah saya dengar, ada dua hari sangat penting menjelang Hari Raya Idul Adha. Kedua hari tersebut jatuh pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Masing-masing disebut sebagai Hari Tarwiyah dan Hari Arofah. Mengingat sangat pentingnya hari tersebut, maka ummat Islam wabil khusus yang tidak sedang menunaikan rangkaian ibadah haji, disyariatkan untuk berpuasa sunnah.

Hari Arofah sangat berkaitan dengan pelaksanaan wukuf di Padang Arofah bagi jamaah yang tengah menunaikan ibadah haji. Wukuf merupakan rukun utama daripada ibadah haji. Puasa sunnah di hari tersebut kemudian disebut sebagai Puasa Arofah. Puasa Arofah sangat besar pahalanya. Dalam beberapa dalil disebutkan bahwasanya bagi siapa yang melaksanakan ibadah puasa sunnah di Hari Arofah, maka baginya pengampuan dosa satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang.

Berkanaan dengan Puasa Arofah, ada kisah yang cukup membuat perenungan mendalam bagi saya. Semenjak beberapa hari menjelang Hari Arofah, si Ponang dan teman-teman sekolahnya sudah heboh ingin berpuasa Arofah. Ketika si Ponang memberitahukannya kepada saya mengenai niatan tersebut, tentu saja terbesit kebanggaan mengingat anak-anak yang belum genap sepuluh tahun sudah tahu amalan puasa sunnah dan ingin mengamalkannya.

Nah, di balik keharuan dan kebanggaan itu ternyata si Ponang mulai berdiplomasi untuk tawar menawar. Memang pada puasa Ramadhan yang lalu, ia cukup full bolehnya puasa. Namun karena sudah sekian minggu berlalu, tentu ia sudah sedikit kagok untuk berpuasa langsung satu hari penuh. Maka ia mencoba menawar, “Pak kalo puasanya setengah hari saja gimana?”

Saya menanggapinya dengan datar dan standar, “Ya nggak boleh to Le! Namanya puasa sunnah yang harus full seharian. Soalnya puasanya kan sangat khusus, tidak bisa digantikan di lain hari.

Tapi kalo aku setengah hari kelaparan terus gimana? Kan sudah lama tidak puasa Pak!” si Ponang tetap berusaha ngeyel.

“Nganu dech Pak! Puasa Arofah kalau penuh seharian kan pahalanya diampuni dosanya dua tahun. Aku diampuni setahun saja nggak papa dech Pak! Jadi puasanya setengah hari saja ya!” si Ponang tetap merajuk penuh silat lidah diplomasi dengan logika bocahnya.

Welha dalah!  Saya jadi tertegun dan benar-benar gumun. Ini bocah memang canggih bolenya berlogika. Kalau puasa full satu hari dikasih pahala berupa ampunan dosa dua tahun. Kalau puasanya hanya setengah hari, dapatnya ampunan pahala yang hanya setahun. Logis memang! Lho, tapi apa logika dan pikiran Tuhan sama dengan si Ponang ya? Kalau memang demikian, lumayan juga ya dapat diskon puasa setengah hari. Nah loe, yang tua-tua juga mulai ikut-ikutan berpikir dengan logika bocah kan!

Lor Kedhaton, 15 September 2013

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s