Naik Haji Bagi Yang Sudah Napsu


Hari-hari ini bertepatan dengan rangkaian puncak ibadah haji di tanah suci Mekah. Sebagai ummat Islam, kita semua pasti tahu bahwa ibadah haji merupakan rukun Islam yang ke-5. Sebagai sebuah kelengkapan atau totalitas seorang ummat dalam beragama Islam, ibadah haji dianggap sebagai puncak ibadah yang membuat seseorang yang telah menjalankannya memiliki keutuhan bahkan kesempurnaan dalam beragama. Ibadah haji ibarat mahkota dari sebuah bangunan rumah yang indah.

Sangat berbeda dengan pembacaan dua kalimat syahadat, melaksanakan atau mendirikan sholat, serta melaksanakan puasa Ramadhan, rukun Islam pembayaran zakat dan pelaksanaan ibadah haji merupakan ibadah yang membutuhkan biaya yang tidak setiap ummat Islam mampu menjalankannya. Karena alasan inilah, wabil khusus ibadah haji, sering diajarkan sebagai ibadah yang hanya “wajib” dijalankan bagi yang mampu.

Masyarakat umum pastinya juga sudah sangat tahu, berapa juta rupiah uang yang harus dikeluarkan untuk beribadah haji ke Tanah Suci. Untuk beberapa tahun terakhir, ongkos naik haji alias ONH berkisar pada angka Rp 40 juta. Terlbih lagi sebagaimana namanya yang ongkos naik haji, ongkos itu semakin menanjak naik dan naik terus dari waktu ke waktu.

Uang sejumlah ONH itu bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang gaji bulanannya pada kisaran UMR tentu terasa sangat mahal. Penghasilan yang pas-pasan belum tentu cukup untuk sekedar uang makan sekeluarga, biaya anak sekolah, dan kebutuhan pokok lainnya. Belum lagi kalau ada anggota keluarga yang dilanda sakit dan memerlukan biaya perawatan yang tidak murah. Naik haji bagi sebagian besar warga negeri ini mungkin tinggal sebagai sebuah impian atau keinginan yang sulit untuk diwujudkan, bagaikan pungguk yang merindukan rembulan.

Indonesia memang negeri dengan jumlah penduduk muslim yang terbesar di dunia. Dengan memiliki 250 juta penduduk, 80% lebih diantaranya tercatat beragama Islam. Dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sudah pasti dari segi persentasi penduduk yang ingin menunaikan ibadah haji juga besar. Hal ini tidak mengherankan jika kemudian untuk setiap tahunnya, negeri kita memberangkatkan jamaah calon haji tidak kurang dari 180 ribu ummat.

Ibadah haji adalah ibadah yang sangat terikat dengan ketentuan ruang dan waktu. Ibadah haji harus dilakukan di Tanah Suci, Makkah Al Mukaromah dan Madinah Al Munawaroh. Kita tidak bisa berangkat haji ke Aceh atau ke Papua. Demikian halnya ke Paris apalagi ke New York. Tidak bisa ditawar dan tidak bisa tidak, ya harus ke Tanah Suci.

Berkaitan dengan waktu, pelaksanaan ibadah haji harus dilaksanakan pada saat Bulan Haji, alias Dzulhijah. Ibadah haji tidak syah dilaksanakan di bulan Muharam, bulan Syawwal, bahkan di bulan Syawwal sekalipun. Kedua batasan ruang dan waktu tersebut menjadikan pula keterbatasan kapasitas ruang dalam pelaksanaan dan pelayanan ibadah haji. Kapasitas Mekkah dan Madinah dan situs sekitarnya akhirnya mengharuskan adanya pembatasan jamaah agar rangkaian ibadah haji dapat berlangsung secara lancar, nyaman dan tidak menimbulkan gangguan keselamatan kepada para tamu Allah.

Keterbatasan itupun kemudian berimbas kepada pemabatasan alias pemberlakukan kuota jumlah jamaah calon haji yang diberikan kepada negara-negara yang memiliki warga muslim. Imbas lebih lanjut yang terjadi adalah antrian daftar calon yang jamaah haji yang sangat panjang. Untuk di tanah air kita, di beberapa daerah bahkan antrian sudah mencapai angka 20-25 tahun. 

Kondisi antrian yang sangat panjang ini pada satu sisi mengindikasikan semakin meningkatnya kesadaran beragama di kalangan ummat muslim Indonesia untuk menyempurnakan Rukun Islamnya. Di sisi lain, angka tersebut juga mengindikasikan semakin meningkatnya jumlah jamaah yang semakin mampu (dari sisi kemampuan finansial) untuk berhaji.

Akan tetapi di balik indikasi positif yang saya sebutkan sebelumnya, ada juga beberapa sisi buram yang berkaitan dengan ritual agung ibadah haji. Dua ratusan ribu haji yang kita produk setiap tahunnya, ternyata belum sepenuhnya berhasil memberikan pengaruh positif yang nyata untuk mengurangi angka korupsi di tanah air. Bahkan tidak jarang terjadi para tersangka maupun terpidana korupsi justru seorang muslim yang sudah bergelar bapak haji ataupun ibu hajah. Bagi sebagian orang, haji masih dipandang sebatas sebagai pencapaian status sosial. Masih banyak para alumni haji dari tanah suci yang berhaji hanya untuk dipanggil pak haji atau bu hajah. Sungguh sebuah kenyataan yang mengundang kerpihatinan bersama.

Di sisi lain, antrian calon jamaah haji yang mencapai puluhan tahun telah menjadikan beberapa kalangan nekad berhaji ilegal dengan memanfaatkan kuota negara lain sebagaimana berita marak mengenai calon jamaah haji kita yang berhaji dengan menggunakan paspor negara tetangga Philipina. Dan untuk nekad melakukan hal tersebut ternyata harus ditebus pula dengan biaya yang sangat tidak murah. Ada yang setiap keberangkatan satu orang jamaah dibandrol ongkos 120 juta rupiah. Tentu hanya kalangan orang berada yang sanggup membayarnya.

Berhaji memang perintah agama sebagaimana ia menjadi salah satu bagian dari Rukun Islam. Namun melihat beberapa kejadian ekses negatif, beberapa kalangan justru memandang status haji sebatas sebagai komoditas. Gelar haji bisa menaikkan gengsi. Haji bisa membuka peluang ekonomi, bahkan modal dalam berpolitik praktis. Bagi kalangan yang demikian, bisa jadi syarat mampu untuk dapat menunaikan ibadah haji hanya dianggap sebatas kemampuan finansial semata. Bisa jadi secara moral lahir batin mereka sebenarnya belum “mampu”. Berhaji seperti hal itu bisa saja diartikan lebih didorong oleh nafsu untuk bergelar haji itu tadi.

Jika dulu kita yakin dengan rumusan Rukum Islam yang ke-5 naik haji bagi yang mampu, bukan sebuah hal yang berlebihan untuk konteks kasus yang saya paparkan di atas kitapun bisa mengatakan “naik haji bagi yang sudah nafsu.”

Lor Kedhaton, 5 September 2016

Sumber foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s