Makna Filosofis Nasi Tumpeng Nasi Ambeng


Menyambung tulisan mengenai Nasi Tumpeng Nasi Ambeng yang pernah saya posting sebelumnya, tulisan ini ingin membicarakan secara lebih panjang lebar mengenai makna filosofis di balik nasi tumpeng nasi ambeng.

KendurianKronggahan-copy

Budaya masyarakat Jawa dalam segala dimensinya sangat lekat dengan simbolisasi. Setiap benda dan kejadian senantiasa menyimpan makna yang mendalam sebagai pengkayaan nilai serta norma kearifan kehidupan. Beberapa uraian mengenai makna filosofis nasi tumpeng nasi ambeng telah banyak dipublis melalui berbagai situs, seperti situs berikut.

Makna filosofis yang inging saya tuliskan dalam postingan ini merupakan makna yang kami pahami berdasarkan tradisi yang hidup di wilayah tempat kelahiran kami di lereng Gunung Merapi, wilayah Kabupaten Magelang.

Masih berkaitan dengan proses pembuatan nasi tumpeng nasi ambeng. Berbeda dengan proses pembuatan nasi tumpeng maupun nasi ambeng pada era sekarang yang pada umumnya dicetak dari nasi, proses pembuatan nasi tumpeng nasi ambeng yang masih klasik ya menggunakan kukusan. Kukusan berupa peralatan dapur yang terbuat dari anyaman berbentuk kerucut runcing dengan bagian ujung lain berbentuk melebar. Pada saat dipergunakan, puncak kerucut kukusan justru ditempatkan pada posisi di bawah.

Setelah nasi diliwet, nasi kemudian diaru atau dipindahkan ke dalam kukusan yang di bawahnya terdapat air yang telah mendidih. Uap yang berasal dari air mendidih akan mengalir ke bagian atas yang mematangkan nasi yang dilewatinya. Dengan cara memasak menggunakan kukusan ini, maka nasi pada bagian kerucut akan secara otomatis membentuk kerucut gunung lancip. Di samping itu, akibat tekanan dari nasi di sisi bagian atas maka kerucut nasi tumpeng juga menjadi bagian yang memadat. Jika dibandingkan tingkat kepadatan yang terjadi, maka nasi paling padat terdapat di ujung kukusan dan menurun hingga bagian atas.

Keadaan perbedaan kepadatan nasi dan juga posisi atas bawah menyimpan kandungan makna filosofis yang adiluhung. Di satu sisi, bawah melambangkan kedalaman. Posisi pucuk nasi tumpeng di bawah juga memiliki kepadatan yang paling tinggi. Seseorang yang semakin mendalam ilmu pengetahuan dan pengalaman hidupnya, justru semakin mengurangi pencitraan fisik. Ia akan semakin menutupi diri dengan sifat andhap asor dan lembah manah alias rendah hati.

Kondisi pada saat proses akan berbalik tatkala nasi telah matang. Penyajian nasi tumpeng dan nasi ambeng di atas tatakan atau ancak menempatkan puncak tumpeng benar-benar di sisi atas. Pada saat tersebut benar-benar terlihat secara kasat mata bahwa puncak tumpeng menjadi puncak tertinggi dari sejumlah nasi ambeng di sekitarnya. Demikian halnya dari sekali proses pemasakan nasi menggunakan kukusan tadi dihasilkan satu nasi tumpeng dengan beberapa nasi ambeng.

Nasi tumpeng melambangkan kekhususan. Nasi ambeng melambangkan keumuman. Tumpeng lambang tokoh, sementara ambeng menjadi lambang masyarakat umum. Sekali lagi hal ini menjadi pralambang keluhuran budi, ketinggian akhlak, ilmu, kasekten, kemuliaan, dan juga pengalaman asam garamnya kehidupan oleh seseorang yang telah dituakan.

Simbolisasi puncak tumpeng sebagai lambang keluhuran derajat seseorang inipun kemudian menjadi penentu dimana nasi tumpeng ditempatkan dan kepada nasi tumpeng tersebut layak untuk diberikan. Sesuatu yang berderajat tinggi selayaknya ditempatkan pada posisi tempat yang mulia pula. Dalam suatu perhelatan ritual kenduri, nasi tumpeng ditempat pada posisi yang paling tinggi diantara nasi ambeng ataupun hidangan yang lain. Posisi luhur juga sering dikaitkan dengan yang paling jauh dari pintu masuk rumah dan biasanya terdekat dengan posisi senthong atau ruang dalam.

Dalam pembagian nasi berkat atau nasi kenduri, nasi tumpeng biasanya diperuntukkan kepada seseorang yang dianggap memiliki keluhuran atau kelebihan dibandingkan orang kebanyakan. Keluhuran tersebut dapat berkaitan dengan usia yang lebih tua, jabatan yang lebih tinggi, strata sosial ekonomi yang lebih tinggi, maupun ilmu pengetahuan yang lebih luas. Dengan demikian nasi tumpeng diperuntukkan untuk para sesepuh, para pemimpin,  para ulama, ataupun orang yang dituakan.

Inilah wang sinawange mata terkait nasi tumpeng nasi ambeng. Yang nampak rendah justru sejatinya yang berderajat tinggi. Yang di bagian atas justru dari segi kesejatian hidup menempati derajat yang lebih rendah. Yang rendah bisa terbalik menjadi yang tinggi. Yang tinggi bisa terbalik menjadi yang rendah. Inilah ibarat cakramanggilingan atau perputaran roda dunia, kadang di atas dan pada saat yang lain di bawah.

Lor Kedhaton, 2 September 2016

Sumber referensi:

  1. http://dewantaramagazine.blogspot.co.id/2015/03/makna-simbolis-nasi-tumpeng.html
Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Makna Filosofis Nasi Tumpeng Nasi Ambeng

  1. batu mustika berkata:

    nasi tumpeng sudah menjadi tradisi di tanah jawa.
    daerah mana saja yang masih menggunakan tradisi nasi tumpeng untuk tradisi slametan?

    Suka

    • sang nanang berkata:

      kalo di daerah pedesaan/pinggiran kebanyakan tradisi kenduri dengan nasi tumpeng-nasi ambeng masih lestari, bahkan kita masih bisa menyaksikan gunungan dalam upacara-upacara grebegan

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s