Adat dan Ruwat


Pagi yang sedikit berbalut kabut mendung itu, saya sedikit berbincang dengan Bli Putu. Masih ingat berita besar menjadi isu utama di Pantai Kuta Bali minggu-minggu lalu? Berita menghebohkan mengenai meninggalnya seorang petugas kepolisian oleh seorang turis mancanegara itu mengundang rasa ingin tahu saya. Mungkin sebab-musabab peristiwa tragis tersebut mungkin sekedar kesalahpahaman, namun kita semua sangat menyayangkan hingga nyawa seseorang harus melayang.

Informasi di luar lingkup berita yang dikabarkan selama ini justru saya ketahui dari cerita Bli Putu. Pengungkapan motif, bukti, dan saksi oleh pihak berwajib memang terus dilakukan secara intensif. Bagaimanapun, di dalam wilayah negara hukum, ketentuan hukum harus ditegakkan. Secara legal formal tentu saja kasus itu akan bermuara kepada proses penuntutan, persidangan, hingga penjatuhan hukuman kepada terdakwa. Namun di luar hal yang legal formal tersebut, ternyata sebuah peristiwa pembunuhan bagi masyarakat adat di Bali juga memiliki sisi implikasi lain dari segi adat yang selama ini mereka taati.

Ibarat desa bersendi adat, setiap banjar sebagai suatu kelompok masyarakat pemangku adat juga memiliki adat yang melekat dan menjadi semacam “hukum” yang harus ditaati. Pembunuhan bagi suatu banjar di Bali adalah peristiwa pelanggaran adat yang dianggap sebagai sebuah petaka. Secara spiritual, wilayah banjar adat yang memiliki kesucian menjadi ternoda dengan peristiwa pembunuhan tersebut. Pembunuhan adalah sebuah aib! Sebuah kotoran yang menodai kesucian.

Bagi kepercayaan masyarakat adat Bali yang masih dipegang erat, kesucian diri, kesucian wilayah, lingkungan dan selanjutnya kesucian kehidupan. Kesucian adalah harga diri tertinggi yang menyangkut hidup-matinya seseorang. Ketika kesucian itu ternodai, terampas, ataupun hilang, hilanglah harga diri dan martabat seseorang.

Selayaknya setiap pribadi seseorang ataupun kelompok masyarakat tertetu yang mendapatkan aib, maka untuk mengembalikan kesucian yang telah diyakini secara turun-temurun harus dilakukan pebersihan diri dan lingkungan. Gampangnya orang, masyarakat, ataupun tempat kejadian yang mendatangkan aib itu harus diruwat. Kesucian yang ternoda dan konsekuensi untuk melakukan ruwat inilah yang bagi masyarakat adat Bali jauh melebihi harga diri dan nilai keadilan apapun. Dan memang untuk melakukan ruwat dibutuhkan biaya yang tidak main-main.

Di Pulau Dewata Bali, meskipun suatu kelompok masyarakat dan wilayahnya tunduk secara formal kepada kesatuan pemerintahan administratif mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga negara, namun mereka secara otonom masih sangat berdaulat sebagai sebuah kesatuan pemangkuan adat. Mengenai hal ini, konstitusi Undang-undang Dasar di negara kita sangat menghormatinya sebagaimana pernyataan bahwa hukum-hukum adat tetap dipelihara sebagai kekayaan budaya dan kearifan bangsa Indonesia.

Lebih lanjut Bli Putu menjelaskan perihal pelaksanaan ruwatan yang harus dilakukan untuk mengembalikan kesucian masyarakat adat yang ternoda oleh peristiwa aib seperti pembunuhan yang mengawali cerita tulisan ini. Setiap desa memiliki keyakinan dan kepercayaan masing-masing yang kemudian terjelma dalam tradisi dan ketentuan adat yang berbeda-beda pula. Demikian halnya setiap adanya peristiwa yang membawa aib dan menodai kesucian sebuah banjar, maka tindakan upacara ruwatan yang dilakukan juga berbeda-beda. Termasuk berkaitan dengan banten atau korban, baik wujud, jumlah, dan tentu saja harganya yang harus dikeluarkan pada saat ruwatan digelar juga tidaklah sama. Namun secara umum banten untuk ruwatan peristiwa pembunuhan sangatlah tidak sedikit dan tentu saja tidak murah.

Desa mawa cara, negara mawa tata, demikian ungkapan para sesepuh masyarakat Jawa dalam menyikapi keberagaman adat, tradisi dan budaya yang ada di tengah-tengah masyarakat. Setiap desa, daerah, atau kesatuan masyarakat pemangku adat lainnya memiliki adat dan istiadat masing-masing. Adat dan istiadat merupakan norma nilai kearifan lokal yang menjadi hukum positif guna mengatur tercapainya kehidupan sosial kemasyarakatan yang harmonis.

Masyarakat Bali secara umum merupakan kelompok masyarakat yang masih sangat teguh memegang dan mengamalkan adat istiadat yang diwarisi dari para leluhurnya. Adanya ketentuan pembersihan noda atau ruwatan yang berkaitan kejadian pembunuhan yang terjadi beberapa waktu lalu harus dihormati oleh semua pihak. Di samping dalam rangka penerapan adat yang ketat, ruwatan juga diharapkan dapat memberikan efek jera dan pembelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat untuk main-main dengan nyawa orang lain.

Kuta, 24 Agustus 2016

Foto dipinjam dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s