Candi Asu Nan Membisu


Hari itu kira-kira seminggu selepas  lebaran. Setelah beberapa rangkaian hari-hari sebelumnya kami isi dengan ujung alias silaturahmi kepada  sanak famili, kami sengaja mengagendakan jelajah ke beberapa situs candi yang ada di kaki Merapi. Dan candi pertama yang kami dapati merupakan candi dengan nama yang sungguh unik. Candi Asu!

Candi Asu2Candi Asu terletak di sekitar Desa Sengi, termasuk wilayah administrative Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi bercorak Hindu ini konon dulunya merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Shiwa. Kenapa nama Candi Asu menjadi unik? Tentu saja bagi siapapun yang paham dengan Bahasa Jawa langsung tahu maknanya. Asu, dalam Bahasa Jawa, bermakna anjing. Jadi kalua diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Candi Asu menjadi Candi Anjing.

Keberadaan asal-usul nama Candi Asu konon dikaitkan dengan penemuan jasad atau bangkai anjing di lokasi penggalian candi yang pada waktu itu tertutup material vulkanik akibat letusan gunung Merapi. Jadi jangan memberikan kesan nama Candi Asu sebagai ungkapan pisuhan atau umpatan lho ya.

Candi Asu tentu saja sangat miniatur jika dibandingkan dengan Prambanan ataupun Borobudur. Bangunan candi yang tidak lebih dari 40 meter persegi tersebut tentu memiliki peran spiritual tersendiri karena termasuk candi yang paling berdekatan dengan puncak Merapi. Sebagaimana kita ketahui dalam sistem kepercayaan Hindu, puncak gunung merupakan tempat yang sangat sacral dan magis. Gunung menjadi simbol dunia parahyangan yang menjadi tempat bermukimnya para dewa. Gunung menjadi hulu asal-muasal kehidupan di jagad palemahan dan patirtan atau lautan.

Candi AsuSemenjak diketemukan dan diekskavasi oleh Balai Konservasi Jawa Tengah, kondisi banguan Candi Asu memang sudah tidak utuh. Bagian atap candi sebagai struktur puncak dan juga bagian dinding pada keempat sisinya juga hampir tidak bersisa. Jadilah bangunan Candi Asu yang praktis masih tersisa hanyalah bagian dasar hingga teras utama candi. Demikian halnya dengan relief yang biasanya menghiasi sisi samping dan belakang candi kebanyakan tidak utuh lagi. Bahkan candi persembahan yang biasanya dilengkapi dengan patung Shiwa maupun Lembu Andini, tidak lagi bisa dijumpai di Candi Asu.

Meskipun dari sisi arsitektural bangunan Candi Asu sudah tidak utuh lagi dan tidak sepenuhnya menghadirkan kemegahan dan keindahan bangunan candi, namun candi tersebut teta[p menghadirkan keanggunan masa silam dan sisi mistis sejarah yang belum sepenuhnya terkuak. Sebagai khasanah situs peninggalan sejarah, keberadaan Candi Asu tetap sangat penting dalam mengungkap kehidupan keberagamaan ummat Hindu di kaki gunung Merapi di masa keemasan pemerintahan Dinasti Sanjaya.

Candi Asu memang kini tinggal sebatas tumpukan batu. Kehadiran candi tersebut seolah sudah semakin terpinggirkan dari denyut kehidupan masyarakat modern di sekitarnya. Tumpukan batu itu memang seolah semakin membisu. Namun di dalam sunyi kebisuannya, candi tetaplah candi yang menyimpan sejuta makna. Ia adalah simbol pesan moralitas dari nenek moyang yang tiada akan pernah lekang oleh jaman. Ia bisu dalam keabadian.

Candi Asu3Ada tiga pilihan alternatif untuk mencapai Candi Asu yang berada di sekitar aliran Kali Tlingsing tersebut. Jika kita menuju Candi Asu dari arah Jogja, setelah mencapai Muntilan ambil arah kanan sebelum Klenteng Hok An Kiong. Susuri terus Jalan Talun. Melewati Pasar Talun terus ambil jalan menyeberangi jembatan Kali Pabelan, hingga mencapai pasar sayur-mayur. Pertigaan selepas pasar sayur ambil lurus kea rah atas hingga menemukan pertigaan. Dari pertigaan ambil arah kiri kira-kira 300 meter, maka Candi Asu terletak tepat di sisi kanan jalan.

Untuk Anda yang datang dari arah Semarang atau Magelang, arah Candi Asu dapat ditempuh dari jalur Jalan Blabak – Sawangan atau yang juga dikenal sebagai jalur Ketep Pass. Perempatan Blabak sebelas pabrik kertas, ambil arah kiri dan susuri jalanan arah Ketep Pass hingga sampai di pertigaan Tlatar. Dari pertigaan ambil arah kanan melintasi jembatan gantung yang membentang di Kali Tlingsing. Dari arah ini Candi Asu berada di sisi kiri jalan.

Adapun alternatif bagi Anda yang berasal dari arah Boyolali, Anda dapat menyusuri jalur Selo yang berada di celah antara gunung Merapi dan Merbabu. Setelah melewati kawasan wisata air terjun Kedung Kayang maupun gardu pandang Ketep Pass, terus ambil jalan menurun kea rah Blabak. Kurang lebih 3 km dari Ketep Pass, sesampainya di pertigaan Tlatar ambil arah kiri. Jalur selanjutnya sama persis dengan jalur yang berasal dari arah Blabak tadi.

Meskipun termasuk bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah, namun Candi Asu tidak dijaga secara khusus. Memang ada sebuah gardu penjagaan berbentuk gazebo joglo di sudut pelataran candi, namun tidak setiap saat ada petugas jaga yang menungguinya. Kompleks bangunan candi yang memang tidak seberapa luas hanya dipagari denga kawat berduri yang sudah semakin berkarat. Candi ini senantiasa terbuka dan membuka diri untuk menerima siapapun tamu yang hendak berkunjung. Tentu saja dengan pengelolaan yang demikian longgar, untuk memasuki area dan bangunan candi pengunung tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis. Monggo dolan Candi Asu,

Ngisor Blimbing, 21 Agustus 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Candi Asu Nan Membisu

  1. Ping balik: Candi Pendem, Candi Terpendam di Tengah Ladang | Sang Nananging Jagad

  2. Ping balik: Candi Lumbung, Candi Gelandangan Pasca Erupsi Merapi | Sang Nananging Jagad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s