Hati-hati Main Api


Malam baru saja menjelang. Petang baru saja turun ke batas cakrawala. Waktu Maghrib baru sesaat tiba. Sebagian dari warga di kampong kami bergegas menunaikan sholat Maghrib di mushola. Selepas turun dari sholat jamaah, barulah kehebohan itu terjadi.
Orang-orang, tua-muda, laki-perempuan, bapak-ibu, anak-anak dan juga  para bocah berhamburan menuju sebuah rumah salah satu warga. Kehebohan itu berawal dari suara yang keras melengking dari dalam rumah tersebut, “Kebakaran….kebakaran! Tolong….tolong!” Celakanya lagi suara tersebut merupaka suara seorang bocah.

Adalah si Reji, bocah berumur enam tahun sehari-harinya ditinggal bekerja oleh ayah dan ibunya. Ayahnya seorang tukang ojek di pengkolan sebuah gerbang perumahan elit. Adapun ibunya menjadi petugas kebersihan di sebuah lapangan futsal di samping pasar. Sepanjang waktu di rumah, Reji hanya ditemani oleh Aldi, kakaknya yang sudah duduk di kelas tujuh SMP.


Senja itu sebagaimana biasanya, kedua kakak beradik Rejid dan Aldi di rumah berduaan saja. Tanpa pengawasan dari orang yang lebih dewasa, bersamaan dengan waktu turunnya senja, Reji justru bermain korek api. Konon ia menyalakan beberapa lilin untuk sekedar bermain tiup lilin ulang tahun.
Tak seberapa lama dating pula kawan tetangga sebayanya. Kedua bocah sebaya itu kemudian berganti main air sambil bermandi ria di kamar mandi. Mereka sama sekali tidak menghiraukan ataupun membereskan lilin-lilin yang digunakan untuk main sebelumnya. Ketika tengah asyik-asyiknya bermain air di kamar mandi, tiba-tiba terhembus asap pekat menyeruak dari ruang depan. Aldi, sang kakak yang tengah keasyikan bermain handphone juga terkejut. Secara spontan iapun berteriak meminta tolong warga yang lain.
Mas Yanto, tetangga yang tinggal tepat di sebelah rumah tempat kejadian merasakan keanehan saat asap putih mengepul dan menyeruap ke dalam ruang di rumahnya melalui langit-langit. Tatkala ia berusaha mencermati darimanakah asap itu berasal, ia mendengar teriakan minta tolong dari rumah sebelah. Iapun berhambur keluar dan mendapati rumah tetangganya sudah pekat dengan asap putih yang tebal sekali.
Sambil berteriak minta tolong kepada para tetangga yang lain, ia segera menyeruak masuk ke rumah tetangganya. Ia mendapati jilatan api telah merambat dengan sangat cepat di atas kasur. Dengan sigap ia segera mengeluarkan kasur yang baru terbakar di bagian ujungnya ke halaman depan rumah. Orang-orang yang datang segera turut membantu memadamkan api yang menjilat kasur tersebut. Puji syukur semua masih dapat dikendalikan dan api belum terlanjur menjadi besar. Namun demikian, api sudah sempat menyambar tiga lapis kasur yang kebetulan bertumpukan di sudut ruangan tempat kejadian.
Dari mana datangnya api? Tentu saja api berasal dari lilin yang sebelumnya dipergunakan untuk main-mainan ulang tahun oleh Reji. Entah sebab apa, lilin yang menyala itu terjatuh dan menimpa ujung kasur yang berisi padatan kapas kering itu. Walhasil apipun membesar dalam tempo yang relatif singkat.
Api adalah sahabat manusia. Kita sehari-hari mempergunakan api untuk berbagai keperluan. Api bisa menjadi cahaya pelita yang menerangi kegelapan malam bagi saudara-saudara kita yang belum terjangkau aliran listrik. Saya termasuk generasi anak bangsa yang dibesarkan dalam lingkungan yang belum menikmati terangnya lampu listrik hingga di usia masuk SMP. Lampu senthir, gembreng, hingga petromak menjadi sahabat sehari-hari dalam melalui gelapnya malam hari. Kami belajar, mengaji, dan melakukan aktivitas malam hari lainnya dengan penerangan lampu yang menyala dari api.
Api juga sangat berguna sebagai sarana untuk memasak, terutama bagi sebagian masyarakat kita yang belum dapat menikmati keberadaan kompor gas maupun kompor listrik. Sebagian usia kami mengalami sebagai keluarga sederhana yang kesehariannya dapur mengepul dengan sumber api dari kayu bakar. Menjerang air, memasak nasi, menyayur, menggoreng, mengukus, merebus, dan semua aktivitas di dapur menggunakan katu bakar. Baru sekitar delapan-sepuluh tahu terakhir kami bisa menikmati keberadaan gas elpiji untuk menunjang dapur kami.
Api, dalam jumlah dan kadar yang memadai sangat bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari. Namun api juga memiliki sisi yang membahayakan apabila tidak ditangani dengan baik dan benar. Kita tentu sangat paham, berapa kejadian kebakaran yang ada di sekitar kita. Kebakaran rumah, kantor, pasar, bahkan kebakaran hutan. Api dalam jumlah yang sangat besar justru menjadi musuh bagi keselamatan manusia. Bahkan hubungan arus pendek listrik juga menimbulkan percikan api yang tak jarang menjadi pemicu kejadian kebakaran besar.
Dan bila kebakaran sudha terjadi, bayangkan seberapa besar kerugian yang harus kita tanggungkan? Kasur terbakar, lemari terbakar, buku-buku terbakar, baju dan pakaian terbakar, uang terbakar, terlebih surat-surat penting yang tinggal menjadi abu. Lebih dari itu, kebakaran juga sering membawa jatuhnya korban jiwa yang terpanggang hidup-hidup di tengah bara api yang luar biasa panasnya.
Ada mutiara hikmah yang sangat berharga dari peristiwa nyata yang saya tuliskan ini. Setidaknya anak-anak yang masih di bawah umur harus senantiasa dalam pengawasan orang yang lebih dewasa, termasuk ketika mereka bermain di dalam rumah. Anak-anak yang pada umumnya masih sederhana pola pikirnya seringkali belum paham dan mengetahui baik-buruk sesuatu hal yang mereka lakukan.
Kedua, segala hal ataupun benda di sekitar kita yang dapat menimbulkan risiko bahaya bagi anak-anak kita harus diamankan pada saat kita akan meninggalkan rumah. Kompor gas, korek api, peralatan listrik, dan lain sebagainya seharusnya dijauhkan dari jangkauan anak-anak kita. Terlebih jika tidak ada satupun orang dewasa yang dapat mendampingi anak-anak kita sepanjang waktu.
Ketiga senantiasa pesankan untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menjurus kepada munculnya suatu bahaya. Hal ini harus senantiasa diingatkan oleh orang tua pada saat akan pergi meninggalkan anak-anak di rumah. Di pagi hari pada saat akan berangkat kerja, tidak ada salahnya senantiasa mengeccek seluruh kondis rumah dan meninggalkan pesan ini pesan itu demi kebaikan anak-anak yang kita tinggalkan.
Semoga kisah ini menjadi pembelajarang yang sangat berharga bagi kita semua.

Ngisor Blimbing, 14 Agustus 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s