Ajur Ajer Tan Luluh


Bertempat di Dusun Gowok Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, kembali akan digelar hajatan besar khusus untuk anak-anak, Festival Tlatah Bocah ke-X Tahun 2016. Sedikit lebih singkat dari penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya, acara inti festival kali ini hanya diagendakan berlangsung selama dua hari, yaitu 27-28 Agustus 2016.

Ajur-ajer tan luluh! Itulah sebaris kata penuh makna yang diangkat sebagai tema festival tahun ini. Ajur dan ajer adalah dua kata majemuk yang membentuk pengertian bersatu padu, menyatu, melebur, bersenyawa. Demikian ungkapan sederhana itu dapat dimaknai saling menguatkan satu sama lain. Namun demikian penyatuan yang terjadi tanpa pernah mengabaikan ataupun menghilangkan asal-usul unsur pembentuknya, ajer tetapi tan luluh.

Ajer-ajur tan luluh sebenarnya senada dengan ungkapan bhinneka tunggal ikha yang merupakan semboyan luhur bangsa kita. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Bersatu dalam tanah air yang sama, bersatu dalam bangsa yang sama, bersatu dalam bahasa yang sama. Namun kebersatuan suku bangsa-suku bangsa yang ada tanpa sedikitpun memusnahkan unsur-unsur ciri khas kepribadian masing-masing suku yang ada. Di dalam lingkaran persatuan Indonesia yang Jawa tetaplah Jawa seutuhnya. Yang Batak tetap Batak. Yang Sunda tetap Sunda. Yang Bali tetap Bali, dan seterusnya.

Semenjak usia dini anak-anak harus senantiasa diajarkan dengan kenyataan keragaman kehidupan. Satu sama lain manusia saling berbeda. Ada yang hitam, ada yang putih. Ada yang tinggi, ada pula yang pendek. Ada yang kaya, ada juga yang miskin. Ada yang pandai namun ada pula yang terbelakang. Semua kenyataan itu merupakan garis takdir Tuhan Yang Maha Agung.

Manusia dengan segala perbedaannya juga memiliki banyak kesamaan. Sebagai bagian dari anak bangsa Indonesia, kita lahir dan besar di tanah yang sama. Kita menghirup udara yang sama. Kita meminum air yang sama. Kita menikmati kehangatan mentari yang sama. Kita berteduh di langit yang sama. Bahkan kita menikmati semua anugerah Tuhan yang sama.

Dalam kehidupan bebrayan agung, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, adalah sebuah spirit dan nilai yang sangat penting itu terus menyatukan persamaan diantara satu sama lain. Perbedaan yang ada, sebagai sebuah realitas dan kasunyatan kehidupan harus diterima namun sembari dengan itu kita lebih mengedepankan rasa persatuan dan kesatuan yang semakin erat. Sebagai makhluk sosial yang tidak pernah bisa lepas dari pergaulan bersama manusia yang lain, kita harus mampu mengedepankan kepentingan bersama. Membaur satu sama lain dalam pergaulan sosial kemasyarakatan yang saling menghargai martabat, saling bertoleransi atas setiap perbedaan, saling asah, saling asih, dan saling asuh.

Ajur-ajer tan luluh, inilah makna kemanunggalan abadi antara kawula lan gusti, antara anak dan orang tua, antara pribadi dan masyarakatnya, dan tentu saja antara rakyat dan negaranya. Dan nilai luhur tersebut harus disemai semenjak anak-anak, dipupuk dan dirawat agar dapat bertumbuh kembang dengan subur menjadi dasar kebersamaan hidup yang bersahaja.

Lor Kedhaton, 29 Juli 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s