Tradisi Balon, Tradisi Idul Fitri


Balon LebaranIdul Fitri senantiasa hadir dengan seribu satu tradisi di masing-masing daerah. Ibarat pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, sudah pasti setiap daerah memiliki beragam adat dan tradisi dalam rangka menyambut Idul Fitri. Negeri kita dengan ratusan suku bangsa, pastinya juga memiliki ratusan tradisi yang berkaitan dengan Idul Fitri. Mulai dari mudik, takbiran, ujung, badan, sungkeman, mercon, termasuk soal balon.

Melengkapi tulisan yang pernah saya tuliskan berkaitan dengan tradisi balon lebaran sebagai simbol kebersamaan yang masih bertahan, tulisan ini sekedar sebuah catatan kecil mengenang detik-detik peluncuran balon lebaran di dusun kami pada kesempatan Idul Fitri tahun ini. 

Dusun kami, sebagaimana dusun-dusun lain di wilayah kaki Gunung Merapi memang sangat lekat dengan tradisi balon udara sebagai salah satu simbol kegembiraan merayakan Idul Fitri. Balon udara yang saya maksudkan bukanlah balon ukuran biasa sebagaimana mainan anak-anak. Jika sampeyan pernah melihat balon udara yang dilengkapi dengan keranjang tempat penumpang naik mengendarai balon dan dilengkapi dengan sumber api agar balon dapat berjalan menjangkau tempat yang jauh, maka sebesar itulah ukuran balon yang dibuat anak-anak di dusun kami.

Bahan utama balon terbuat dari plastik yang direkat satu per satu membentuk rangkaian yang besar dan panjang dengan bentuk-bentuk tertentu. Ada balon dengan model bentuk kendil, bentuk botol, bentuk gadha, bentuk peluru, bahkan maaf-maaf bentuk kondom. Balon merupakan salah satu puncak kreasi seni bocah dusun yang senantiasa keahliaannya diturunkan dari generasi ke generasi.

Selepas menunaikan sholat Idul Fitri di pelataran halaman masjid, para bocah, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dan simbah-simbah, tanpa komando ba-bi-bu langsung menuju pekarangan lapang di belakang rumah Mbah Murah. Di sana segera beberapa para remaja sudah mulai mempersiapkan untaian plastik panjang. Beberapa remaja lain mulai cuthik geni, mempersiapkan perapian yang akan menghasilkan asap tebal untuk mengisi balon udara yang akan dinaikkan.

Balon Lebaran2

Untuk tahun ini balon yang kami buat cukup fantastik besarnya. Ukurannya hampir menyamai ketinggian batang bambu petung yang lebih dari dua puluh meter tingginya. Balon raksasa dengan ukuran sebesar itu dapat mengangkat beberapa orang dewasa sekaligus. Dengan demikian, cara mempersiapkan dan menaikkan balon itupun menghadapi tantangan yang cukup sulit.

Selain memerlukan pekarangan yang cukup lapang agar balon tidak nyangkut di pepohonan maupun kabel listrik yang melintang, posisi balon yang terisi penuh udara harus benar-benar lurus agar nantinya ketika dilepas akan bergerak lurus ke arah atas. Tantangan lainnya berkaitan dengan rentengan mercon atau petasan yang harus dipasang dengan tepat dan dinyalakan sumbunya pada saat yang tepat pula. Sumbu petasan yang sangat “keras” menjadikan percikan api yang kecil saja akan langsung merembet dengan super cepat. Dan jika percikan api tersebut telah masuk ke dalam batang petasan, sesaat kemudian petasan tersebut pasti akan segera meledak. Nah, apabila penyalaan ini terlalu cepat maka ketika balon belum terangkat naik bisa-bisa petasan keburu meledak. Kondisi ini tentu saja sangat berbahaya.

Detik-detik balon mulai terangkat membuat sebagian dari kami deg-degan. Namun sebagian besar para bocah dan penonton yang lainnya tersenyum lebar. Radya, Nadya, Daffa, Citra, Cintya, dan para bocah lainnya nampak berada di lingkaran terdepan  turut mengelilingi perapian. Mereka seolah ingin turut melepas dengan tangan sendiri balon kebanggan dusun kami tersebut. Sebentar lagi balon akan segera terbang tinggi, mengangkasa ke langit jauh dan bergabung dengan balon-balon lain yang sudah dinaikkan oleh desa-desa lain.

Balon Lebaran3Sejenak berlalu, balon perlahan namun pasti segera melesat ke udara lepas. Terpaan angin pagi yang mulai kencang bertiup menjadikan balon yang perlahan naik itu terombang-ambing dan sebagain isi udaranya di dalamnya termuntah keluar. Sungguh sebuah momentum yang mendebarkan. Akankah balon tersebut mengudara dengan mulus dan akan segera melontarkan bunyi keras ledakan petasan yang menggema? Ataukan balon akan nggembos, atau mungkin terbakar, dan gagal total untuk naik?

Akhirnya perlahan namun pasti balon kami benar-benar segera mengudara. Ia nampak besar dan anggun. Segera balon tersebut membaur dengan balon-balon lain yang telah mengudara sebelumnya. Setelah kami lega balon mengudara dengan sempurna, tibalah giliran kami untuk menunggu bunyi ledakan fantastis dari rangkaian petasan yang turut kami terbangkan. Sedetik-dua detik, semenit-dua menit, hingga beberapa menit berlalu ternyata tidak terdengar bunyi petasan kami meledak menggemparkan angkasa raya.

Ternyata kekeliruan fatal sebagaimana terjadi beberapa tahun silam terulang kembali. Rentengan petasan panjang yang sudah dipersiapkan tidak jadi meledak karena sumbu petasan mati di tengah jalan. Ya, sudah. Meskipun terasa ada yang kurang mantap dengan hasil karya anak-anak di dusun kami untuk tahun ini, namun setidaknya regenerasi pembuat balon sudah mengalir.

Untuk tahun-tahun depan tentunya mereka akan memperbaiki diri untuk lebih ahli dalam membuat balon sekaligus memastikan rentengan petasan meledak sempurna di udara. Setidak kami tetap gembira, kami tetap tersenyum lebar, kami tetap bahagia. Idul Fitri adalah puncak siklus kegembiraan yang hadir setia setiap tahunnya. Semoga kita masih akan dipertemukan dengan Idul Fitri di tahun-tahun mendatang. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Lor Kedhaton, 28 Juli 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s