Ngabuburit Family Edition


Bulan Puasa dengan segala hiruk-pikuk aktivitas di dalamnya memang telah tiga minggu lebih berlalu. Namun masih ada beberapa catatan penting yang justru tidak sempat tergores di postingan di hari-hari yang lalu. Satu diantara catatan itu baru sempat dituliskan pada edisi postingan kali ini.

Ngabuburit Keluarga

Ngabuburit, semula saya menghubungkannya dengan kata ngabur atau kabur. Belakangan kata yang diadopsi dari khasanah bahasa Sunda ini sangat populer di bulan Ramadhan. Istilah ini mungkin jauh lebih populer dibandingkan taraweh, qiyamul lail, tadarus, iktikaf, dan mungkin zakat fitrah. Jika kesemua kata sebelumnya berhubungan dengan ibadah yang dituntunkan agama dan pastinya berasal dari ungkapan bahasa Arab, ngabuburit jelas paling genuin dan sangat berasa lokal total sebagai kata yang mewakili aktivitas kongkow-kongkow menunggu saat berbuka puasa tiba.

Ngabuburit ataupun buka bersama (bukber), biasa dilakukan bersama-sama mulai dari di tempat terbuka umum, seperti di alun-alun dan di taman-taman. Ada pula yang ngumpul di restoran, warung sederhana, hingga warung angkringan pinggir jalanan. Namun demikian ada pula yang tetap ngabuburit dengan mengadakan pengajian ataupu ceramah-ceramah tematik sebagaimana masih banyak kita jumpai di berbagai masjid dan mushola.

Demikian halnya dengan siapa ngabuburitpun ada banyak ragamnya. Ada yang ngabuburit dengan teman sekantor, teman sekolah, teman alumni, teman seorganisasi, dan lain sebagainya. Ajang bukber ini seringkali dijadikan wahana untuk kembali bertemu dan mengukuhkan kembali tali pertemanan ataupun persaudaraan yang di hari-hari biasa mungkin tidak sempat dilakukan dikarenakan kesibukan masing-masing yang padat.

Ngabuburit dengan teman, mungkin sudah sangat biasa. Tetapi pernahkah kita mengkhususkan diri bergabung bersama dengan keluarga besar kita untuk ngabuburit di alun-alun kota misalnya? Sayapun termasuk jarang, atau bahkan belum pernah mengajak kakak, adik, ipar-ipar, keponakan, apalagi orang-orang tua untuk bersama-sama menikmati keriuhan suasana alun-alun sambil meunggu bedug Maghrib bergema. Namun sungguh beruntung di akhir Ramadhan tahun ini, saya berkesempatan barengan kakak, adik, ipar, ponakan, prunan, dan tentu saja anak-istri nongkrong di Alun-alun Magelang sambil menunggu kumandang azdan Magrib.

Ngabuburit Keluarga2

Yang namanya alun-alun di sore hari bulan Puasa, sampeyan tentu dapat membayangkannya sendiri. Seluas lapangan rumput yang terbentang, ratusan anak-anak dan para bocah asyik menikmati sajian berbagai permainan yang ada. Ada yang naik odhong-odhong. Ada yang main layangan. Ada yang main otopet, mancing ikan-ikanan, bahkan berfoto ria dengan badut-badut lucu.

Demikian halnya bagi para pedagang, kesempatan ngabuburit menjadi lahan basah untuk menambang uang. Di samping para penyedia jasa aneka mainan anak-anak, alun-alun juga dipenuhi dengan beragam pedagang yang menyajikan sajian khas pembuka puasa. Ada yang jual kolak pisang, es dawet, wedang ronde, es campur, es buah, es degan, hingga teh maupun kopi anget.

Ramadhan di alun-alun senja hari adalah pusat kerumunan dan keramaian orang. Ratusan orang bersantai ria menikmati keindahan sore hari. Alun-alun bagaikan dipenuhi manusia-manusia yang bersenda gurau, berbincang ringan, bahkan berlarian laksana ikan-ikan segar yang bugar bergerak lincah di dalam kolam. Dan bila saatnya bedug ditabuh, saat adzan berkuamndang di Masjid Agung, seketika manusia-manusia yang sebagian besar diantaranya tengah berpuasa segera menunaikan buka bersama.

Ngabuburit Keluarga3

Ngabuburit di alun-alun senantiasa membawa kebahagiaan tersendiri. Kesempataan ngabuburit untuk tahun ini memang telah usai. Namun bila umur dipanjangkan-Nya, insya Allah kita akan dapat menikmati kembali nuansa ngabuburit di tengah-tengah ringin alun-alun, dan tentu saja harapan besarnya dapat ngabuburit kembali bersama keluarga. Semoga!

Lor Kedhaton, 26 Juli 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s