Hari Anak di Pusaran Pokemon Go


Anak anane mergo dianak-anake! Barangkali demikian ungkapan ringan para sesepuh pendahulu kita. Adalah kedua orang tua menjadi perantara kehadiran seorang anak manusia di muka bumi. Anak kemudian menjadi amanah simalakama jika tidak ditunaikan dengan penuh tanggung jawab.

GBB8Anak sholeh dan sholihah membawa pahala jariah yang mengalir tiada henti serta menghantarkan orang tua ke dalam surga-Nya. Sebaliknya anak tholeh, si anak durhaka justru menjerembabkan orang tua ke panasnya api neraka. Surga atau neraka adalah pilihan. Satu kata kunci, bagaimana mendidik mereka bahkan semenjak benih, menjadi janin, bayi, bocah, hingga remaja dengan baik!

Anak adalah benih, adalah bibit. Ia memiliki ruang dan waktu untuk bertumbuh kembang. Adalah kedua orang tuanya yang memiliki kewajiban luhur untuk menyediakan tempat penyemaian yang cocok untuk anak-anaknya. Orang tua sebagai manusia yang lebih dewasa memiliki pengetahuan serta pengalaman yang sepatutnya dijadikan bekal bagi buah hatinya. Mendidik anak adalah menumbuhkembangkan minat dan bakat anak bagaikan menyemai benih di lahan persemaian.

Mbah Kakung dan cucuUjung1Anak adalah manusia yang memiliki harkat, martabat, beserta hak-hak yang telah melekat semenjak dia diadakan. Anak bukanlah miniatur manusia dewasa. Anak memiliki ruang dan waktu kejiwaannya sendiri sebagaimana manusia dewasa. Dia memiliki kebebasan untuk menentukan masa depannya. Mereka bukanlah bonsai yang dibentuk secara paksa, secara terpaksa, secara tanpa daya, tanpa tawar menawar, tanpa kesempatan untuk berargumen, secara tanpa kehendaknya sendiri di hadapan para orang tuanya. Anak adalah manusia.

Dunia anak adalah dunia bermain. Anak harus bermain, tetapi anak-anak kita sama sekali bukan alat permainan. Bocah kudu dolanan, bocah dudu dolanan!

Di hari ini, kita kembali berkesempatan dipertemukan dengan tanggal 23 Juli 2016. Tanggal ini adalah tanggal keramat bagi anak-anak kita, dan tentu saja bagi setiap orang tua dari anak-anak tersebut. Hari tersebut adalah Hari Anak Nasional. Meskipun ada Hari Anak Internasional, juga Hari Anak Universal, yang sama-sama tidak pernah kita ingat dan peringati, tetapi setidaknya kita harus ingat dengan Hari Anak Nasional.

Dengan peringatan Hari Anak Nasioanal kita kembali diingatkan akan kewajiban asasi selaku oang tua dari anak-anak kita. Demikian halnya kita harus kembali merenung mengenai hak-hak paling asasi dan mendasar bagi anak-anak kita. Anak sebagai benih memerlukan ruang ekspresi untuk bertumbuhkembang menjadi manusia utuh yang kelak berguna bagi duni. Sudahkah kita memberikannya?

Jaman telah mengantarkan manusia kepada era teknologi. Dengan kemajuan dunia digital, dunia komputer, internet, dan informatika telah menyajikan berbagai pilihan sarana dan metode untuk mendidik anak-anak masa kini. Game, sebagai bagian dari modernitas manusia masa kini telah merambah otak, jantung, hati, dan segala panca indera semua kalangan, termasuk tak terkecuali anak-anak kita.

Demi menyenangkan buah hati, atau mungkin asal anak bisa diam dan tenang tidak mengganggu aktivitas orang tua, tak jarang anak dipegangi dengan gadget untuk bermain game. Game dalam bahasa Inggris kita artikan permainan dalam bahasa Indonesia baku. Tetapi dalam khasanah bahasa keseharian, kita membedakan kata permainan dan kata game. Game adalah permainan modern yang didukung kecanggihan teknologi dan menjadi kesenangan bagi anak-anak jaman sekarang.

Hari Anak Nasional kali ini, dunia tengah berada dalam gegap gempitanya game baru bernama Pokemon Go. Tidak hanya anak-anak, remaja, pemuda-pemudi, bahkan orang dewasa dan tua renta juga bermain Pokemon Go. Tidak hanya di rumah, tetapi di teras, di kebun, di sekolah, di pasar, di jalan-jalan dan tempat terbuka lainnya, orang-orang melakukan Pokemon Go.

Pokemon Go dan juga game-game lainnya adalah tantangan bagi masa depan anak-anak kita. Di satu sisi mungkin ada unsur-unsur edukasi positif yang bisa digali. Namun di sisi yang lain juga terkandung unsur-unsur kurang baik bagi tumbuh-kembangnya jiwa dan sikap mental anak-anak kita. Anak-anak yang menjadi egois, asosial, individualis, lebih menuntut hak tanpa menghiraukan kewajiban yang melekat padanya adalah beberapa kondisi yang menjadi kekhawatiran bersama.

Kita percaya dan yakin, setiap hal senantiasa hadir dengan sisi kebaikan dan kemudharatannya. Kembali pilihan berada di tangan kita. Apakah Pokemon Go akan memperkuat karakter dan jati diri anak-anak kita serta menghantarkannya menjadi sosok-sosok yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama ataukah justru membuat anak-anak terperosok menjadi manusia gagal, semua kebali kepada kearifan kita masing-masing dalam bersikap. Semoa Tuhan melindungi kita bersama.

Dirgahayu anak-anak Indonesia. Selamat Hari Anak Nasional 2016.

Ngisor Blimbing, 22 Juli 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s