Sunatan Akhir Ramadhan


SUNATANKotagede memang kita kenal sebagai bagian dari sejarah penting keberadaan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopati. Kotagede, kota tua dengan sejuta kenangan, jejak sejarah, bahkan tradisi adiluhungnya yang masih terpelihara hingga kini. Masjid Agung, Makam raja-raja awal Dinasti Mataram, Pasar Legi, rumah kalang, perak, kipo adalah sisi-sisi kota di sudut tenggara Kota Budaya Jogjakarta.
Di luar keterkaitan sosio historis yang diajarkan di bangku sekolah melalui, sebenarnya saya secara peribadi juga memiliki hubungan emosional yang cukup mendalam dengan Kotagede. Kira-kira lebih dari dua puluh lima tahun silam, pada suatu Sabtu sore yang berawan, sebuah mobil station warna krem membawa Bapak, Simbah, Padhe, dan beberapa kerabat inti yang kesemuanya laki-laki. Tujuan dari rombongan kecil tersebut adalah untuk mengantarkan saya sunat. Ya, saya termasuk alumni produk jasa salah satu bong supit ternama di Kotagede.


Sunat, ya SAmpeyan pasti sudah paham. Sunat yang dilakukan khusus untuk bocah laki-laki tentu berbeda dengan pengertian hukum sunat dalam kaidah dunia fiqih. Sunat, sebagaimana dituntunkan pertama kali melalui ajaran Nabi Ibrahim merupakan salah satu cara untuk mensucikan alat vital dari kemungkinan-kemungkinan adanya najis yang terkumpul akibat proses istinjak atau pembersihan organ pasca buang air kecil.
 Adalah di Bong Supit Mbah Darmo, saya menjalani ritual yang sering disebut oleh masyarakat muslim Jawa sebagai “ngislamke”. Sunat menjadi penanda peralihan dari masa anak-anak menuju remaja untuk selanjutnya mempersiapkan diri menjadi manusia dewasa.
Tiga hari menjelang Lebaran, roda waktu seolah memutar kembali kenangan lama pada saat saya disunat. Kembali sebuah rombongan kecil, kali ini dua mobil dan tidak hanya terdiri kaum laki-laki, mengantar bocah laki-laki untuk disunat. Ya, tujuan rombongan tersebut sama persis sebagaimana rombongan Bapak dan Simbah yang mengantar saya, ke Bong Supit Mbah Darmo. Namun untuk kali ini bocah yang akan disupit adalah anak lelaki putra kami. Off course, si Ponang supit jelang Lebaran tahun ini.

Sunatan1Kenapa jauh-jauh dari Muntilan, dari Magelang, nglurug sunat ke Kotagede? Begini kisahnya sedulur semua. Adalah Bapak Cahyo Santoso,salah seorang cicit atau cucu buyut dari Mbah Darmo kebetulan teman sejawat Bapak. Maka ketika saya dulunya menginjak usia untuk sunat, Bapak diweling untuk menyunatkan saya ke Kotagede. Waktu itu Om Cahyo sendiri masih bujang dan beliaulah sendiri yang mengeksekusi saya ketika sunat.
Pertemanan Bapak dengan Om Cahyo tidak terbatas pertemanan sejawat dikarenakan urusan pekerjaan. Hubungan itu berlanjut menjadi tali kekerabatan yang sangat akrab. Dalam beberapa kali kunjungan Om Cahyo ke rumah kami, sempat Beliau mengungkapkan bahwasanya saya sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Tentu saja keadaan waktu itu Beliau belum menikah.
Seiring dengan waktu dan kepindahan Om Cahyo yang tidak lagi mengajar di Magelang, komunikasi diantara kedua keluarga kami sempat tidak intens. Maka ketika saya mengutarakan niat untuk mengkhitankan si Ponang, Bapak justru sigap langsung tancap gas ke Kotagede. Drama itupun berulang, Om Cahyo langsung weling agar diperkenankan untuk menyunat si Ponang. Kamipun tidak keberatan dan menganggap momentum kali ini merupakan pesan Tuhan agar silaturahim diantara keluarga kami dan keluarga Kotagede kembali terajut.
Jadilah di Ahad Pahing, 3 Juli 2016 bertepat dengan 28 Ramadhan 1437 H, kami menyambangi Bong Supit Mbah Darmo Kotagede untuk “ngislamke”si Ponang.
Mengenai keberadaan Bong Supit Mbah Darmo sendiri sudah ternama sebagai mpu sunat yang mumpuni semenjak jaman pemerintahan Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VIII. Mbah Darmo dipercaya sebagai salah satu bong supit untuk para pangeran Keraton Jogja. Di samping memenuhi kewajiban menyunat para pangeran, Mbah Darmo juga didaulat untuk memberikan layanan sunat kepada siapapun rakyat Mataram, khususnya warga Ngayojakarta Hadiningrat, untuk dikhitan secara cuma-cuma dengan biaya yang ditanggung dari kas bendahara keraton. Hal ini berlangsung hingga masa pemerintahan HB VIII dan awal masa HB IX.
Om Cahyo sendiri merasa bahwa perhatian keratin selaku pemangku pemerintahan dan negara kala itu justru sangat perhatian dengan kebutuhan setiap rakyatnya, terutama dalam urusan khitan. Komitmen itu juga muncul mengingat bahwa tradisi sunatan atau “ngislmkan”bocah itu tadi sangat erat kaitannya dengan ajaran dalam syariat Islam. Tidak heran jika kebutuhan khitan dipenuhi sebagai salah satu hak rakyat yang harus diemban oleh keraton. Justru kondisi pasca kemerdekaan seperti sekarang ini setiap warga harus membiayai khitanan untuk anak-anak mereka.
Alhamdulillah, atas limpahan kasih saying Gusti Allah dan juga berkah Ramadhan, proses khitanan si Ponang dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala berarti. Bersama dengan tulisan ini keluarga kami berharap sedulur semua berkenan turut mendoakan agar putra kami segera diberikan kesembuhan dan semoga kelak di kemudian hari putra kami dapat menjadi manusia yang sholeh,serta berguna bagi nusa bangsa dan agama. Tiada balasan terindah atas doa panjenengan semua kecuali balasan bahala dan kebaikan dari Allah SWT. Amien ya rabbal álamin. Smeoga.

Tepi Merapi, 5 Juli 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s