Nuansa Ngung di Simpang Lima Semarang


Menikmati ngabuburit di ibukota Pemerintahannya Jateng tentu sebuah kesempatan langka bagi kami. Maka sembari transit saat perjalanan mudik ke kampung halaman di Magelang, berhubung dapatnya tiket kereta api Argo Anggrek jurusan Surabaya, kami sempatkan rehat di Semarang.

Senja Simpang Lima

Di samping sekedar transit, kesempatan mampir di Kota Atlas dalam suasana akhir Ramadhan tentu teramat sayang apabila tidak sekaligus turut menikmati nuansa ngabuburit di pusat kota. Bicara mengenai kawasan yang menjadi sentral dan titik strategis di kota ini mana lagi kalau tidak menyebut Simpang Lima Semarang. Dan kamipun terkabul dapat menyambangi kawasan ini di kala senja menjelang waktu Maghrib.

Sebagai kawasan terbuka yang paling strategis, Simpang Lima Semarang memiliki beberapa keunggulan untuk tempat ngabuburit alias menunggu waktu buka puasa tiba. Di sini ada hamparang lapangan rumput hijau yang luas. Ada kawasan toko dan pusat perbelanjaan. Ada deretan pusat jajanan dan kulineran khas kota ini. Dan pastinya ada pula Masjid Raya Baiturahman di sudut barat laut.

Banyak ragam cara dilakukan penduduk Semarang maupun warga kota lain yang kebetulan sedang berada di Semarag untuk ngabuburit di kawasan Simpang Lima. Kamipun sekedar ngumbar mata menikmati suasana yang ada. Namun ketika melihat lapangan rumput menghijau yang luas, justru si Ponang dan terutama si Noni lebih tertarik untuk mengamati tanaman putri malu. Dengan menyentuh daunnya secara perlahan saja, daun yang tadinya segara mekar seketika menjadi kuncup mengkerut karena saking malunya.

Pengamatan kedua bocah kami terhadap putri malu di tengah lapangan tentu saja bukan sebagai hal yang memalukan. Namun demikian dibandingka dengan kebanyakan anak-anak seusia mereka yang lebih merengek untuk main sepedaan sewa, mobil-mobilan, atau belanja mainan tentu fenomena putri malu ini sungguh unik dan mungkin rumit untuk dijelaskan asal-muasal maupun sebab-musababnya. Tapi begitulah dunia anak. Justru apa yang mereka lakukan terkadang tidak bisa dilihat secara linear dari kaca mata pola pikir orang dewasa.

Tanpa terasa puncak aktivitas ngabuburit di senja itupun berakhir. Tentu saja hal itu ditandai dengan berkumandangnya adzan Maghrib. Namun sesaat sebelum adzan terkumandang justru ada bunyi lain sebagai penanda waktu berbuka yang telah tiba. Tiba-tiba terdengar bunyi “nguuuung” yang bergema dari puncak menara Masjid Raya Baiturahman.

Bunyi ngung semacam itu sebenarnya bukan sesuatu hal yang asing sebagai penanda tibanya waktu berpuka buasa di bulan Ramadhan. Dulu ketika masih seusia anak-anak dan tinggal di pelosok kampung, patokan utama datangnya waktu buka adalah bunyi ngung yang dikumandangkan dari radio RRI Jogja. Ngung sebenarnya merupakan bunyi sirene yang dipancarkan dari puncak menara yang ada di beberapa sudut beteng Keraton Kasultanan Jogja semenjak jaman Belanda dulu.

Ngung menjadi sangat melegenda bagi masa anak-anak generasi seperti saya. Jika kami berbicara mengenai tibanya saat berbuka puasa, maka kami menyebut wis ngung. Waktu buka puasa atau adzan Maghrib sudah tiba.

Setelah era informasi didominasi tivi maupun internet, tentu saja kita semakin langka dapat menemukan bunyi penanda buka puasa dengan bunyi ngung tadi. Apalagi jika bunyi ngung tersebut dipancarkan secara langsung dari sebuah menara di pusat keramaian kota sebagaimana yang dapat kami dengar di Simpang Lima Semarang sore itu. Bunyi ngung tersebut menghadirkan suasana, nuansa, dan juga aura yang sungguh magis. Ada suasana haru-biru. Ada nuansa syahdu berbalut khusyuk. Ada pula aura kegemberiaan karena telah berakhirnya perjuangan puasa selama seharian penuh. Pastinya lagi kita merasakan kemerdekaan sesaat untuk kembali minum kesegaran air kehidupan serta kembali menikmati menu duniawi setelah seharian kita belakangi dalam rangka ketaatan kepada-Nya.

Akh pokoknya sampeyan pasti tahu apa yang saya maksudkan dengan kesyahduan suara ngung saat menjelang buka puasa. Istimewanya lagi bunyi ngung di Simpang Lima Semarang. Selamat menikmati buka puasa Mas Bro dan Mbak Sis.

Ndalem Peniten, 2 Juli 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Nuansa Ngung di Simpang Lima Semarang

  1. Ikhsan berkata:

    Selamat datang di Magelang mas Nanang

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s