Mudik BHI Reunion


Pagi menjelang setengah siang hari kemarin Stasiun Gambir lebih sibuk dari hari-hari biasanya. Bukan tanpa alasan dan bukan tanpa sebab, kemarin ternyata sudah memasuki H-6 Lebaran tahun ini. Hari-hari dimana hampir setiap perantau bermobilisasi massal pulang ke tanah leluhur. Mudik, sebuah tradisi tahunan yang semakin hingar-bingar sebagai hajatan nasional.

Mudik BHI ReunionSetelah mencetak boarding pass sebagai ketentuan baru PT KAI, meskipun saya sudah pegang tiket tercetak, rombongan keluarga kecil kami segera masuk ke area tunggu di Lantai 2 stasiun. Banyak para calon penumpang menunggu kereta masing-masing. Saking banyaknya calon penumpang yang menunggu, banyak diantaranya yang tidak kebagian kursi dan terpaksa lesehan ngglesot di lantai ruang tunggu.

Tidak sebagaimana pengaturan boarding di hari-hari biasa, jadwal padat kereta angkutan mudik membuat pengelola stasiun ekstra ketat mengatur calon penumpang agar tidak merasakan ketidaknyaman berdesakan terlalu lama di area peron. Satu per satu persiapan kereta yang akan berangkat diumumkan para petugas. Bahkan ada petugas yang berkeliling di ruang tunggu dengan membawa mikrophone pada saat kereta tertentu siap boarding. Akhirnya saat giliran barding kereta yang akan kami tumpangi tiba.

Pada tiket dan boarding pass yang saya pegang jelas tertera keluarga kecil kami akan naik KA Argo Anggrek tujuan Surabaya, berangkat pukul 09.30. Lho kok tujuan Surabaya? Bagaimana mungkin orang Magelang mau mudik malah naik kereta tujuan Surabaya? Beginilah sedulur, namanya musim mudik! Strategi apapun terkadang harus kita tempuh untuk sampai ke kampung halaman, terlebih jika tidak lagi kebagian tiket kereta sesuai tanggal dan tujuan yang kita rencanakan. Demi menuju Magelang, kereta jurusan Surabayapun tidak mengapa. Tokh bisa numpang hingga Stasiun Tawang Semarang. Barulah dari Semarang kita atur kembali strategi untuk pulang ke Magelang.

Selepas petuga mengumumkan bahwa kereta sudah siap di peron, rombongan kecil keluarga kamipun segera menuju peron. Di tengah hiruk pikuk para calon penumpang yang “rempong”inging segera berebut untuk masuk ke gerbong sesuai tiket masing-masing, ada suara yang menyapa saya, “Halo Ndoro!” Seorang lelaki sebaya melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Sebuah senyum yang dulu pernah saya jumpai sehari-hari di Ndalem Kebon 70.

Lelaki itu ternyata juga berombongan dengan keluarganya. Ada istri dan dua orang anak perempuan lakinya yang saya kenal sebagai Ken dan Bre. Lelaki itu lebih dari teman karena kami sama-sama pernah berguru di padhepokan yang sama. Lelaki itupun seolah sudah seperti saudara sendiri karena di masa awal kami merantau di ibukota kamipun sama-sama tinggal ngringkel di satu pondokan yang sama. Lelaki yang seringkali menjuluki saya sebagai Ndoro Seten itupun sering saya sapa sebagai Ndoro. Dialah Ndoroo Sinyo Saipul alias Bangsari, lelaki asal Bangsari. Satu desa damai di sudut Kecamatan Kawunganten, Cilacap.

Bangsari berikut istri, Ken dan juga Bre tengah memulai perjalanan mudik ke Surabaya. Surabaya merupakan kampung halaman istri Bangsari. Konon rangkaian mudik mereka tahun ini akan mengambil titik tujuan dari Jakarta-Surabaya-Cilacap lalu balik kembali ke Jakarta.

Hari itu di Gambir merupakan pertemukan kejutan yang sama sekali tidak kami rencanakan. Mungkin memang Tuhan kembali menjodohkan kami untuk tetap tersambung dalam tali paseduluran yang harusnya selalu kami pupuk, kami rawat, kami pelihara dan langgengkan sampai kapanpun. Tuhan barangkali sengaja mengingatkan kami bahwa selama ini kami sudah terlampau sibuk dengan urusan pekerjaan dan aktivitas kami masing-masing dan sedikit lupa untuk saling berkomunikasi.

Pertemuan kami tentu saja mengingatkan kebersamaan kami ketika dulu sama-sama masih sangat gandrung dengan aktivitas blongging. Saking semangatnya meluap-luap, kamipun senantiasa duduk melingkar di pinggiran Bunderan Hotel Indonesia yang sempat melahirkan Komunitas Blogger BHI yang legendaris itu. Jadilah saya setuju dengan ungkapan Kang Denden bahwa pertemua kami dalam satu kereta ini sebagai Blogger BHI reunion. Matur nuwun Tuhan atas indahnya momentum yang telah Engkau hadirkan di hari kemarin.

Simpang Lima Semarang, 30 Juni 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Blogger dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mudik BHI Reunion

  1. Ikhsan berkata:

    Lha kok pas kebenaran ya mas bisa ketemu mas Bangsari di stasiun, di tunggu cerita mudik lainnya mas 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s