Detik-detik Jelang Mudik


Sebagai orang yang luru pangupa jiwa alias mencari penghidupan di tanah rantau, lebaran adalah momentum yang sangat istimewa. Lebih dari lima belas tahun di tanah orang tidak pernah menjadi penghalang untuk senantiasa pulang di Hari Lebaran. Orang mengistilahkannya dengan mudik. Jadi berlebaran selalu di kampung halaman. Ibarat pepatah dimanapun tanah rantau, lebarannya selalu di Magelang.

MudikLebaran dan mudik adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan bagi para perantau sebagaimana keluarga kecil kami. Mudik menjadi semacam titik balik siklus kehidupan kami. Sebelas bulan penuh dengan kesibukan kerja bagi kami sebagai orang tua, sekolah bagi anak-anak, dan beragam aktivitas yang lain menjadikan suatu kejenuhan tersendiri. Salah satu cara untuk mencairkan rasa jenuh itu ya dengan mudik, merayakan lebaran di kampung halaman.

Mudik dan lebaran kemudian menjadi saat untuk rehat. Selepas mudik dan lebaran, kamipun kembali ke perantauan untuk kembali mengulangi siklus kesibukan masing-masing hingga mencapai titik jenuh selanjutnya dan mudik serta lebaran berikutnya. Demikian irama hidup terus berputar menjalin roda-roda kehidupan. Entah sampai kapan, pastinya selama Yang Maha Hayat masih menitipkan ruh kehidupan di jasad dan raga manusia.

Hari-hari belakangan memang telah memasuki sepertiga masa akhir bulan Ramadhan. Sebagai perantau yang sudah jauh-jauh hari merencanakan dan mempersiapkan untuk mudik, tentu detik-detik menjelang mudik semakin dekat. Anak-anak yang kebetulan sudah mendapatkan liburan kenaikan kelas semenjak awal bulan Puasa pastinya yang paling menunggu-nungggu saat untuk pulang kampung.

Mereka semakin sering memperbincangkan keasyikan menikmati Ramadhan bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri. Asyiknya bermain dan bercanda ria dengan para sepupu yang juga ngumpul bersama di rumah Mbah. Bayangan kolam ikan di sudut belakang rumah. Sungai kecil di pojokan dusun samping kebun salak. Juga sawah ladang, bahkan kuburan kampung kami. Mereka seolah sudah tidak sabar untuk segera menyatu dengan alam, rahim tempat persemayaman segala rupa yang memiliki hidup.

Mbah Kakung dan cucuAkhirnya saat itupun tinggal menunggu saat ayam jantan berkokok. Sesadar ketika bangun dari tidur, selekas santap saur yang tersaji terakhir di tanah rantau kali ini, kami sudah sangat tidak sabar untuk segera menuju stasiun Gambir. Dari Gambir, dengan sebuah kereta api kami akan susuri jalur Pantura hingga di sisi tengah Pulau Jawa. Sedikit lurus ke arah selatan perjalanan akan menghantarkan kami ke tanah leluhur kami. Bumi Panca Arga dengan puncak-puncak Maha Gelang, Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Sumbing, hingga pagar alam raksasa pegunungan Menoreh. Di titik inilah kami senantiasa melangkahkan diri untuk mudik, untuk merayakan lebaran kami, untuk menikmati Idhul Fitri kami, untuk mengekalkan silaturahim kami.

Magelang aku datang! Selamat menyambut Hari Raya Idhul Fitri 1437 H, mohon maaf lahir dan batin.

Ngisor Blimbing, 29 Juni 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Detik-detik Jelang Mudik

  1. Mas Ivan berkata:

    Manteb sedulur…sami dongo-dinonga “moga diberi kelancaran dan selamat sampai tujuan”.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s