Tradisi Malam Kur-kuran


Selikur, rolikur, telulikur, patlikur, dan seterusnya hingga sangalikur merujuk kepada urutan angka dari dua puluh satu hingga dua puluh sembilan. Tentu saja dalam bahasa Jawa. Berkaitan dengan sepertiga akhir bulan suci Ramadhan, angka-angka tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Terutama pada malam-malam ganjilnya, diriwayatkan dari berbagai dalil bahwasanya Tuhan menganugerahkan turunnya malam lailatul qodar. Malam yang kebaikannya menyamai 1000 bulan.

Berkaitan dengan penyambutan terhadap akan datangnya malam istimewa lailatul qodar, masyarakat Islam di pulau Jawa memiliki tradisi selikuran. Tentu saja selikuran dilaksanakan pada malam ke selikur alias ke dua puluh satu, tepat pada datangnya malam ganjil yang pertama. Lalu apa yang dilakukan dalam rangka tradisi selikuran?

Di tiap-tiap daerah wilayah tanah Jawa, masyarakat Islam Jawa memperingati malam selikuran dengan beragam kegiatan. Ada yang menyelenggarakan haul, pengajian akbar, hingga selamatan atau kenduri. Di beberapa daerah, justru acara selikuran tidak eksklusif menjadi milik masyarakat setempat, bahkan kerabat ataupun ummat Islam dari berbagai penjuru tempat datang ke suatu daerah untuk turut memperingati tradisi selikuran. Hal ini antara lain yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tirto, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang yang mempercayai keberadaan makam Sunan Geseng di puncak bukit sebelah desa tersebut.

Masih berkaitan dengan jaburan yang telah saya tuliskan pada postingan sebelumnya, tradisi berbagi atau bersedekah bagi ummat Islam khususnya pada malam-malam likuran akan semakin meningkat. Jika pada dua puluh malam sebelumnya hidangan jaburan yang disuguhkan untuk para jamaah yang selesai melaksanakan sholat tarawih hanya berupa minuman dan makanan kecil pendampingnya, maka perangkat sedekah meningkat menjadi nasi ambeng lengkap dengan sayur dan lauk pauknya.

Dalam kesempatan seepertiga terakhir bulan Ramadhan, masyarakat dalam satu dusun biasanya secara bergilir dijatah untuk membuat nasi ambeng tersebut. Nasi ambeng berupa nasi putih yang dicetak melingkar dengan puncak rata biasanya dihidangkan dengan sayur tanpa kuah, mie atau mihun, keper, thontho, tahu atau tempe bacem, juga krupuk. Biasanya nasi ambeng tersebut ditempatkan pada baskom atau panci besar yang dialasi dengan daun pisang. Segala uba rampe pendukungnya juga dipincuk, ditom, atau dibungkus pula dengan daun pisang.

Yang paling istimewa dengan hidangan nasi ambeng ini adalah suana keakraban yang terjalin. Dalam satu malam biasanya 4-5 keluarga bergiliran membuat nasi ambeng. Setelah didoakan oleh Pak Kaum, nasi ambeng yang ada kemudian dibelah kecil-kecil sesuai dengan jumlah jamaah yang ada. Masing-masing bagian dibungkus dalam daun pisang. Setiap bagian juga mendapatkan sayur serta lauk pauk yang lengkap. Selanjutnya para jamaah dengan masing-masing bagiannya akan makan bersama-sama, atau istilah kerennya kembul bujono. Kebersamaan menikmati keberkahan rejeki yang berlimpah inilah yang menjadikan malam-malam likuran tambah istimewa.

Tradisi menghidangkan nasi ambeng lengkap dengan sayur dan lauk-pauk pelengkapnya ini serngkali juga disebut sebagai sedekahan. Jika sedekah di awal dan pertengahan Ramadhan berupa jaburan ringan dan suguhan takjil, maka di hari likuran sedekah yang dikeluarkan berupa nasi ambeng. Hal ini tentu saja sangat berkaitan dengan pengharapan akan didapatkannya keberkahan malam lailatul qodar sebagaimana telah dijanjikan oleh Gusti Allah.

Bagaimana dengan tradisi selikuran di kampung halaman panjenengan?

 Ngisor Blimbing, 26 Juni 2016

Gambar dipinjam dari sini, sini, dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Tradisi Malam Kur-kuran

  1. jarwadi berkata:

    di dusun saya sudah menghilang mas, sejak beberapa tahun yang lalu 🙂

    Suka

    • sang nanang berkata:

      sayang ya, padahal setiap tradisi kearifan lokal yang kita miliki sebenarnya menjadi sendi penguat kebersamaan hidup yang guyup

      Suka

  2. Achmad Muttohar berkata:

    Kalau malam selikuran di desaku hampir sama, mas. Warga ngumpul di masjid atau langgar, masing-masing membawa wadah berisi makanan. Kebanyakan sih pisang. Setelah selesai do’a pisang dan makanan yang dibawa ditukar satu sama lain dan disantap bersama-sama.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s