Jaburan Tinggal Kenangan


Malam-malam di bulan Ramadhan senantiasa terasa istimewa. Berbeda dengan bulan-bulan yang lain, ummat Islam sangat dianjurkan untuk menegakkan qiyamul lail atau qiyamul ramadhan. Amalan qiyamul ramadhan yang paling utama tentu saja sholat tarawih. Di kampung halaman kami di tepi gunung Merapi, ceramah atau kultum pasca sholat tarawih tidak bisa terpisahkan dengan jaburan.

Jaburan merupakan sajian atau hidangan yang disuguhkan setelah sholat tarawih dilaksanakan. Jaburan biasanya terdiri atas minuman dan sajian makanan kecil pelengkapnya. Jika untuk menjamu orang puasa yang akan berbuka pada saat adzan Maghrib tiba, masyarakat menyumbangkan ta’jil, maka jamuan untuk para jamaah yang usai menunaikan sholat tarawih inilah yang disebut sebagai jaburan. Kedua istilah ini kini sudah menjadi salah kaprah dan saling menggantikan satu sama lain.

Baik sumbangan hidangan ta’jil maupun jaburan, keduanya sejatinya merupakan aktualisasi pengamalan ajaran berbagi. Sebagaimana kita ketahui, bersedekah dan saling berbagi kepada sesama sangat diajurkan dalam bulan Ramadhan. Hal ini sangat berkaitan dengan keberkahan pahala yang berlipat ganda, bahkan setiap amalan sunnah akan diganjar setimbang amalan wajib di luar Ramadhan.

Khususnya di lingkungan dusun kami pada masa lampau, jaburan identik dengan minuman sedap dari santan yang direbus hingga mendidih. Pada larutan santan itu ditambahkan gula jawa sebagai pemanis. Seiring perebuasan, santan harus senantiasa diaduk agar tidak mengental atapun buihnya pecah. Untuk menghadirkan aroma wangi dalam minuman khas ini ditambahkan panili.

Selain santan sebagai larutan utama, di dalam jaburan juga sering ditambahkan irisan kelapa muda, kolang-kaling, ataupun cendol. Cita rasa jaburan sangat mirip dengan minuman bandrek di Sunda ataupun saraba di Makassar. Aroma yang sedap, rasa yang manis menjadikan jaburan sebagai hidangan pemulih tenaga bagi para jamaah yang usai melaksanakan sholat tarawih.

Selain menjadi ajang bersedekah bagi para warga sekitar masjid, jaburan juga menjadi penyemangat anak-anak untuk rajin mengikuti rangkaian ibadah sholat tarawih. Anak-anak sangat senang menikmati sajian minuman jaburan. Bahkan diantara sesama anak-anak, berapa cangkir jaburan yang didapatkannya pada suatu malam menjadi nilai kebanggaan. Anak-anak merasa lebih daripada yang lain jika minum jaburan lebih banyak daripada teman-teman yang lain. Maka tidak mengherankan jika pada saat pembagian jaburan anak-anak kadang saling berebut dan sedikit membuat kegaduhan.

Pada awalnya jaburan dihidangkan dalam cangkir. Seiring dengan perjalanan waktu, penggunaan cangkir digantikan menggunakan gelas. Seusai sholat tarawih lengkap dengan witir dan rangkaian wirid, dzikir dan doanya ditunaikan, jamaah akan berdiri beriringan membentuk lingkaran panjang sambil saling bersalaman. Setelah selesai salaman jamaahpun duduk rapi untuk mendengarkan ceramah kultum. Di saat inilah jaburan keluar dari peraduannya.

Para remaja laki-laki biasanya digilir menjalankan tugas untuk menghidangkan jaburan. Gelas atau cangkir yang telah diisi jaburan ditata rapi di dalam nampan. Sambil laku dhodok alias berjalan jongkok, nampan itupun diusung ke tengah-tengah jamaah. Satu per satu gelas jaburan dihidangkan. Sungguh nikmat merasakan siraman rohani sambil sekaligus menikmat siraman rasa santan manis dengan harum aroma panili yang khas. Jaburan kini tinggak menjadi kenangan dan tidak mudah lagi ditemukan. Setidaknya di masjid kampung kami. Bagaimana dengan masjid di lingkungan panjenengan, masihkan ada jaburan?

Karawang, 24 Juni 2016

Gambar dipinjam dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Jaburan Tinggal Kenangan

  1. jarwadi berkata:

    Saya pernah mengalami beberapa kali waktu saya masih sd. Sekarang sudah punah

    Suka

  2. Achmad Muttohar berkata:

    Di desaku sendiri masih, mas. Tapi udah terhmgantikan dengan yg lebih modern berupa minuman dalam kemasan seperti Ale-ale, Teh Gelae dan sebangsanya. Entah kenapa rasanya jadi beda saja. Kalau dulu jaburan ya kolak dengan aneka isian seperti cendol, pisang, nangka atau kolang-kaling.

    Suka

  3. Arif Wahyu berkata:

    Setelah baca tulisannya, ternyata saya termasuk yg salah kaprah antara takjilan sama jaburan. Sperti yang sudah saya beritahukan di fb, bahwa kegiatan takjilan di desa saya masih ada setiap harinya dibulan ramadhan waktu maghrib tiba. sedangkan jaburan ini kok rasanya blm pernah ngerti ya. Yang ada malah wedangan setelah tadarusan setelah tarawih, cuma nggak ada istilah jaburan gitu.

    Suka

    • sang nanang berkata:

      ada yang memang mempersamakan setiap sajian itu sebagai jaburan, shg tidak terlalu salah pula bahwa sajian yang diberikan pada waktu takjilan juga disebut jaburan

      Suka

  4. Bahtiar berkata:

    Masih ingat
    Dulu akhir tahun 79-an
    Di masjid baiturahman sukoharjo
    Pada suatu malam setelah teraweh
    Jaburannya masing – masing jamaah dewasa diberi rokok sak leeer . . . 🙂

    Suka

    • sang nanang berkata:

      nah itu dia beruntungnya generasi masa lalu, anak saya saja kalau saya ceritain yang bangsa gituan jadi iri dengan jaman bapaknya

      Suka

  5. abu4faqih berkata:

    Ide yg inspiratif… tahun depan, Insya’Allah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s