Hati-hati Saat di Masjid


Sandal3Siang itu sekira waktu selepas sholat Jumát. Ratusan jamaah masih antri di penitipan sandal-sepatu di sisi dalam pintu Al Fattah, Masjid Itiqlal. Keriuhan jamaah yang ingin segera mendapatkan barang yang dititipkannya berubah menjadi gaduh tatkala ada Bapak-bapak yang setengah berteriak membela diri. Satu bapak yang lain dan seorang berseragam doreng dengan kuat memegang tangan Bapak-bapak yang berteriak tadi. Bahkan sebuah sajadah hijau bermotif kotak-kotak sudah nggubet di tangan sang pembikin gaduh.

Atas usulan dari beberapa petugas masjid yang lainnya, si Bapak itu kemudian digelandang ke kantor keamanan masjid. Usut-punya usut, ternyata si Bapak tersebut tertangkap tangan mengail ikan di air keruh. Pada saat para jamaah antri di penitipan dan saling berebut untuk dilayani duluan, konsentrasri para penitip tersebut tertuju kepada para petugas penitipan barang. Banyak diantaranya yang lengah dengan keamanan dompet di kantong, hape di saku, ataupun barang berharga yang lainnya. Nah, di saat itulah si tangan jahil melancarkan aksinya. Nggogohi kantong dan saku yang lepas dari kewaspadaa pemiliknya.

Di sudut lainnya nampak pula seorang pria bule mondar-mandir dengan raut muka yang menunjukkan kebingungan. Si Ponang sempat nyeletuk bertanya, “Pak, ada juga orang bule luar negeri yang ikut Jumátan ya?” Sayapun hanya menanggapi singkat, “Ya meskipun bule kalau orang Islam yang pasti ikut sembahyang Jumát Le!”


Ketika si Bule sampai di depan kami, kepada petugas ia menanyakan bagaimana menemukan sepatunya yang tidak lagi berada di tempat ia meletakkannya ketika akan memasuki masjid. Dengan berusaha ramah, petugas masjid menanyakan apakah sepatu tersebut tidak dititipkan ke tempat penitipan yang telah disediakan, si Bule menggelengkan kepalanya.

Petugaspun kemudian menjelaskan panjang lebar, bahwa untuk keamanan para jamaah yang datang beribadah, pihak pengurus masjid telah menyediakan tempat penitipan di setiap sudut pintu masuk Masjid Istqlal. Ribuan jamaah yang datang pada saat Jumátan menjadikan titik krusial apabila tidak diantisipasi. Sepatu ataupun sandal yang ditaruh sembarangan biasanya diembat oleh orang-orang yang sengaja memanfaatkan keadaan. Mereka ini mungkin sekelompok oknum jamaah yang hanya mengamalkan satu nasehat dari khatib “ambillah yang baik dan tinggalkanlah yang buruk-buruk”. Cilakanya nasehat tersebut diamalkan justru dengan cara merugikan orang lain, ngembat sepatu atau sandal.

Si Muslim Bule geleng-geleng kepala. Ia seolah tidak percaya. Dengan sedikit menggerutu ia sempat berucap, “I don’t believe that. This is in mosque. This is Ramadhan month! Oh my God!” Akhirnya ia berlalu keluar tanpa mendapatkan solusi dan harus berjalan nyeker di tengah jalanan ibukota yang panas siang itu.

Kejadian sedulur Bule yang kehilangan sepatu tersebut terus terang mengingatkan saya yang pernah mengalami kejadian serupa di Masjid India Kuala Lumpur lebih dari setahun silam. Untuk mengantisipasi pengunjung masjid dari jauh, apalagi orang luar negeri, pulang nyeker tanpa alas kaki, mungkin sebaiknya pihak masjid dapat menyediakan sekedar sandal sederhana. Kalaupun khawatir fasilitas tersebut disalahgunakan oleh orang-orang yang sengaja ingin mendapat sandal gratis dengan berpura-pura alas kakinya hilang, dapat saja dibuat prosedur orang yang merasa perlu sandal tersebut harus dicatat identitas diri sesuai bukti yang syah.

Ramadhan yang dikatakan sebagai bulan dimana setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan gerbang surga dibentang selebar-lebarnya justru dinodai dengan perbuatan orang-orang yang keji dan munkar. Masjid sebagai simpul ummat dan simbol kebesaran Islam juga dinodai oleh ulah para pencuri dompet, sandal, sepatu, hape dan barang bawaan lainnya.

Jika di bulan dimana setan sudah dibelenggu masih ada orang yang nekad melanggar larangan Allah, apakah setan itu berada di luar diri manusia ataukah jangan-jangan setan itu adalah diri kita yang asli ya? Dasar jaman edan!

Ngisor Blimbing, 18 Juni 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s