Puasa dan Sepak Bola


 

Tulisan ini memang senada dengan tulisan yang pernah saya posting kira-kira dua tahun yang lalu. Tulisan yang saya maksudkan berjudul Sepak Bola dan Puasa. Mungkin kita masih ingat, Ramadhan dua tahun silam bersamaan waktunya dengan perhelatan Piala Dunia 2014 di negeri Brasil. Adapun Ramadhan kali ini justru berbarengan dengan pelaksanaan Piala Copa Amerika dan Piala Eropa. Belum lagi turnamen Torabika di dalam negeri juga sedang seru-serunya mempertemukan tim-tim papan atas lokal.

Meskipun level gengsinya di bawah Piala Dunia, namun turnamen-turnamen tingkat benua tetap tidak kalah seru dan tak urung menyedot banyak perhatian para bola mania. Demikian halnya di lingkungan kanan-kiri kita pada saat ini. Dari waktu selepas Isya’ sekitar pukul 20.00, jelang tengah malam pukul 23.00, dan jam 02.00 dini hari, kita dapat menyaksikan siaran langsung pertandingan Piala Eropa dari Prancis. Setelah itu, giliran dari jam 04.00 hingga 09.00 gempuran siaran Piala Copa Amerika langsung dari kota-kota di negerinya Barack Obama.

Bagi para pecandu pertamdingan sepak bola yang maniak, tentu saja kesempatan pergelaran turnamen tingkat dunia dalam rentang waktu yang bersamaan merupakan sebuah “berkah” melimpah ruah. Jika pada waktu-waktu sepanjang tahun mereka lebih sering menikmati sajian beberapa liga terkemuka dalam lingkup satu negara saja, maka kali ini negara-negara raksasa sepak bola saling beradi nyali untuk menjadi sang juara. Demi sepak bola, mungkin segala tanggungan pekerjaan yang lain akan dipinggirkan demi menomorsatukan sepak bola. Ya, aji mumpung harus dikeluarkan. Kapan lagi menyaksikan para bintang lapangan hijau saling beradu teknik main bola. Tidak menutup kemungkinan, sore, malam, pagi hingga menjelang waktu hanya dihabiskan untuk nonton bola. Nonton lagi dan nonton terus lagi!

Dari sudut ummat Islam, adanya turnamen olah raga paling digemari masyarakat awam bersamaan dengan Ramadhan tentu menjadi sebuah dilema tersendiri. Ramadhan bulan pernuh berkah dan ampunan yang seharusnya diisi dengan puasa dan berbagai ibadah sunnah pelengkapnya menjadi bentrok dengan jadwal siaran pertandingan di tivi. Tak heran jika tarawehan, tadarusan, hingga qiyamul lail kemungkinan banyak ditinggalkan oleh ummat Islam di Ramadhan tahun ini. Akhirnya amalan Ramadhan kita menjadi kurang optimal.

Kesimpulannya tetap sama dengan dua tahun yang lalu, kesamaan ghirah Ramadhan tahun ini juga rama di awal, surut di pertengahan dan sepi menjelang akhir. Babak penyisihan ramai, babak pertengahan semakin sepi, hingga babak akhir sunyi senyap. Duh Gusti, nyuwun pangapunten! Jika begini menjalani Ramadhan-Ramadhan kita, kapankah kita dapat merengkuh kelimpahan anugerah lailatul qadar?

Lor Kedhaton, 14 Juni 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s