Catatan Tentang Ali


Semenjak mendengar berita duka mengenai wafatnya sang petinju Muhammad Ali beberapa waktu lalu, saya sudah berniat untuk menuliskan sesuatu kesan yang berkaitan dengan Ali. Akan tetai karena satu dan lain hal, baru belakangan setelah jenazah Ali dikebumikan saya berkesempatan menuliskan hal tersebut.

Saya termasuk generasi yang dibesarkan dalam masa kejayaan TVRI sebagai satu-satunya media tivi di tanah air kala itu. Kondisi tersebut tentu saja menjadikan keterbatasan akses informasi yang di saat ini sudah hampir tidak terjadi bahkan di pelosok desa terpencil sekalipun. Pun di kala kecil saya, era kebesaran Muhammad Ali, sang petinju legendaris juga sudah pudar. Alhasil, saya dan teman-teman sebaya lebih banyak mendengar sepak terjang sang Ali ya dari dongeng dan penuturan Bapak maupun para simbah di dusun kami.

Pertama mendengar nama Ali, tentu saja ada banyak keheranan di benak saya. Di lingkungan desa kami setidaknya ada dua nama Ali yang saya kenal saat itu. Ada Mbah Ali Kakung, ayah dari Pakdhe Surahman sang juragan toko kelontong dan pupuk yang tinggal di dusun sebelah. Satu lagi, Mbah Ali alias Mbah Iyah. Kalau yang satu ini seorang janda sepuh ibu dari Lik Tumbu. Dua ibu beranak ini terkenal sebagai pengrajin tempe gembus di dusun kami. Tentu saja, nama Ali yang merupakan bagian dari bahasa Arab langsung mengindentikkan dengan orang-orang yang dalam pemahaman Islamnya. Sekali lagi, ini menurut pemikiran lugu saya kala itu.

Kembali kepada Muhammad Ali, sang petinju legendaris. Meskipun di saat itu masih sangat langka warga dusun kami yang memiliki tivi, terlebih adanyapun juga hanya stasiun TVRI, namun warga senantiasa memiliki waktu-waktu kebersamaan nonton bareng. Diantara sekian acara yang ada dan berkaitan dengan dunia olah raga, ada tiga tayangan olah raga yang menjadi favorit hampir semua warga dusun kami. Olah raga itu adalah tinju, sepak bola dan badminton.

Soal siaran pertandingan tinju yang ditayangkan di tivi, event tersebut membuat segala aktivitas kerja warga di dusun kami terhenti total. Jika sudah mau nonton pertandingan tinju, petani yang nyangkul di sawah akan langsung lari kipit meninggalkan cangkulnya. Mbah Mento yang sedang mbajak sawahpun biasanya juga langsung menggiring sapinya pulang kandang. Kerja bakti, segala macam sambatan, bahkan hajatan bisa terhenti demi melihat tinju di tivi. Segala hal seolah rela ditinggalkan guna mbela-mbelain nonton tinju.

Masih bicara mengenai tinju, saya kecil saya mulai muncul nama Mike Tyson. Sosok ini bisa dikatakan sebagai petinju kelas berat yang menggantikan kejayaan Muhammad Ali. Nah, pada saat-saat momentum Tyson naik ring inilah, para simbah sering membanding-bandingkan antara Tyson dengan Ali. Dari sinilah generasi kami mengenal nama Muhammad Ali. Beberapa gambar usang maupun video rekaman pertandingan Ali sempat saya dapatkan atau lihat di tivi.

Bersamaan dengan era munculnya Tyson, di tanah air juga tenar nama petinju Elyas Pical. Pemuda Nyong Ambon ini menjadi bintang ring di kelas Bantam Junior versi badan tinju IBF. Dengan latar cerita itulah, ketika menyebut-nyebut nama Muhammad Ali ada kebanggan tersendiri bagi saya yang masih anak-anak. Setidaknya nama Muhammad di depan nama Ali langsung meyakinkan kami bahwa Muhammad Ali adalah orang Islam. Sebagai sesama orang Islam, tentu saja saya turut bangga ada salah satu ummatnya yang melegenda sebagai petinju sejati.

Tidak hanya bangga kepada Ali karena ia seorang muslim, ada kebanggan lain soal Ali. Sumpah, sebelumnya saya tidak mengetahuinya dengan pasti. Dengan berpijak pada asumsi atau anggapan entah kenapa di benak saya tertanam pengertian bahwa Muhammad Ali adalah orang Indonesia. Mungkin perasaaan ini terbawa dengan kemunculan Elyas Pical. Saya langsung mengira bahwa Ali juga masih tetangga atau saudara Elyas Pical dan sama-sama dari Ambon.

Inilah pemahaman sesat yang pernah saya pegang erat hingga sekian lama. Maklum saya di kala itu masih sangat terbatas sumber informasi yang bisa diakses. Mungkin juga hal itu muncul sebagai kesan setelah mendengar dongeng-dongeng dari para simbah di dusun kami yang kebanyakan diantaranya juga hanya tahu dari kabar angin yang mampir di pucuk-pucuk pohon kelapa di tepi dusun kami. Tapi itulah kenyataan hidup!

Selamat jalan Ali, namamu akan senantiasa terkenang di hati anak-anak dusun kami yang kini telah menjadi orang tua bagi anak-anaknya. Mungkin kamipun kelak akan terus mewariskan cerita tentang sosokmu hingga akhir hayat kami. Damai sejati untuk saudara kami, Muhammad Ali.

Ngisor Blimbing, 12 Juni 2016

Gambar Ali dipinjam sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s