Tradisi Cucurah Jelang Puasa


Berbicara mengenai tradisi jelang bulan Ramadhan di lingkungan kampung halaman kami, setidaknya ada dua tradisi khas yang bisa disebutkan. Pertama, tradisi nyadran. Tradisi ini biasanya diselenggarakan oleh anak turun dari para leluhur pada sebuah makam. Tujuan utamanya adalah berkumpul bersama untuk mendoakan ruh-ruh para leluhur yang telah bersemayan di alam baka. Di samping itu, melalui nyadran anggota trah atau anak turun suatu keluarga besar dapat kembali menjalin tali kekerabatan. Istilah kami, ngumpulke balung pisah.

Adapun tradisi yang ke dua biasanya dilaksanakan tepat satu hari menjelang permulaan bulan Ramdhan. Tradisi berupa penyucian raga dengan aktivitas mandi besar ini disebut sebagai padusan. Meskipun pembersihan diri hanya dilakukan secara fisik dengan pembersihan badan, namun pada hakekatnya padusan juga bertujuan menyucikan jiwa dan batin seseorang agar memiliki kesiapan mental untuk dapat menjalani ibadah puasa dengan baik.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Lain ladang memang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Peribahasa tersebut merupakan sebuah penggambaran betapa setiap daerah memiliki adat kebiasaan atau tradisinya masing-masing. Termasuk tentu saja mengenai tradisi penyambutan bulan suci Ramadhan. Salah satu tradisi yang baru belakangan saya kenal adalah cucurah.

Cucurah merupakan kebiasaan masyarakat suku Sunda untuk berkumpul diantara sesama kerabat dan saudara, maupun diantara teman dan sahabat, ataupun diantara teman sejawat kerja untuk makan bersama. Inti dari cucurah, ya makan itu. Tentu saja hal ini sedikit berbeda dengan tradisi nyadran yang di dalamnya juga biasanya ada acara makan bersamanya juga, tetapi acara intinya adalah birul walidaini terutama berkenaan dengan bulan Ruwah yang berasal dari akar kata arwah.

NyadranKrg4

Acara cucurah bisa dilakukan dengan menyiapkan jamuan bersama di salah satu pihak yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Bisa pula, jamuan makanan tinggal dipesan dari restoran, rumah makan atau jasa cateringan. Bahkan bisa pula, serombongan orang datang mekan bersama ke suatu rumah makan. Tidak ada agenda khusus selain menikmati makan bersama sebagai persiapan puasa karena pada hari-hari berikutnya selama satu bulan penuh setiap ummat Islam berpuasa di siang harinya.

Entah pengaruh dari semangat cucurah masyarakat Sunda atau hal lain, masyarakat urban di ibukota terutama di kantor-kantor perusahaan maupun pemerintahan juga banyak yang melakukan makan bersama jelang Ramadhan. Tentu semangatnya bukan dalam rangka muas-muasin diri menjelang bulan “penjara” dari makan-minum selama sebulan berikutnya, tetapi saya yakin semangatnya lebih kepada semangat kebersamaannya itu sendiri.

Secara positif event makan bersama bisa dijadikan ajang untuk saling mengakrabkan diri, saling bertegur sapa secara lebih rileks dan intens dengan sejenak melupakan hirarki organisasi yang seringkali kaku dan beku. Makan bersama bisa juga dijadikan sarana untuk mengkonsolidasi sebuah organisasi satau sistem. Dimulai dengan kebersamaan di meja makan, kebersamaan diharapkan dapat tumbuh-kembang dalam tataran hubungan kerja maupun pergaulan sehari-hari. Harapan besarnya tentu saja semakin terwujudnya organisasi yang semakin solid dan kompak yang akan dapat menunjang pencapaian tujuan organisasi.

Berbicara mengenai tradisi jelang Ramadhan, baik nyadran, padusan, ataupun cucurah, bahkan tradisi yang lain secara umum, ada satu benang merah yang menjadi titik persamaan, yaitu soal kebersamaan. Masyarakat Nusantara adalah kumpulan individu yang didasari semangat komunal. Sebuah struktur sosial kemasyarakatan yang mengedepankan perwujudan manusia sebagai makhluk sosial. Hidup bersama-sama penuh kebersamaan. 

Ciri kebersaman itu menjadi bibit-bibit nilai kearifan lokal yang bertumbuh kembang dan membuahkan semangat kegotong-royongan, saling asah-asih-asuh, tepo sliro, dlsb. Inilah hebatnya manusia Nusantara. Masyarakat yang sangat toleran bahkan menyerap berbagai pengaruh positif darimanapun untuk diakulturasikan menjadi tradisi yang adi luhung. Ibarat kata arab digarap, barat diruwat, jawapun juga disangga. Semua hal diolah sedemikian rupa untuk menjadi energi positif, spirit positif, yang selanjutkan akan membentuk pola pikir, ucap, serta tingkah laku yang positif pula.

Lor Kedhaton, 3 Juni 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s