Antara Dubur dan Tadabur


SERI ILMU KENDURI CINTA – Edisi Mei 2016

Bukan Kenduri Cinta atau forum Maiyyah lainnya jika tidak terdapat berbagai banyolan dan ungkapan menggelitik tetapi senantiasa dapat digali sebagai ilmu pengetahuan baru yang membawa kepada suatu pencerahan pemikiran. Termasuk ungkapan Cak Nun yang menggiring sebuah pertanyaan kepada Cak Fuad mengenai kedekatan hakekat antara dubur dengan tadabur di tengah sesi diskusi bulanan Kenduri Cinta, Sabtu 14 Mei 2016 dini hari tadi.

Cak FuadSebelumnya sebagai sebuah prolog pemaparan, Cak Fuad yang merupakan kakak tertua Cak Nun menguraikan sejarah awal mula dan asal-usul keberadaan forum Padhang Mbulan di Jombang pada era 70-an. Konsep kajian yang pertama kali diterapkan adalah pengajian tafsir Al Qurán.  Tafsir merupakan metode cara memahami Al Qurán dengan mencari makna dari huruf per huruf,  kata per kata, kalimat ke kalimat hingga kesatuan utuh sebuah ayat, bahkan surat tertentu. Untuk melakukan tafsir diperlukan kemampuan khusus yang tidak semua orang dapat melakukannya. Merekalah orang-orang yang disebut mufasir.

Tafsir Al Qurán yang ada hingga saat ini bermacam-macam. Ada tafsir yang sederhana, seperti kitab Jalalulain yang disusun secara bersama oleh dua orang yang sama-sama bernama Abdul Jalal. Ada pula tafsir yang lebih mendalam dan meluas dimana setiap kata, sinonim kata, hingga makna yang diyakini mufasirnya diuraikan secara mendetail dalam beberapa jilid kitab.

Dalam perjalanannya, Padhang Mbulan dengan format kajian tafsir Al Qurán sebagaimaa diurai di atas diasuh oleh Cak Fuad untuk tafsir tekstual. Sedangan tafsir kontekstual disampaikan oleh Cak Nun. Seiring berjalannya waktu, disadari bahwa kajian tafsir sebenarnya eksklusif menjadi kebutuhan ummat yang relatif memiliki intelektualitas yang tinggi. Adapun untuk ummat di kalangan masyarakat awam, metode tafsir yang njlimet bin ruwet disadari kurang cocok untuk diterapkan. Dari sinilah kemudian konsep Padhang Mbulan dan juga simpul maiyyah lainnya bergeser kepada tadabur. Kenapa tadabur?

Dalam beberapa ayat Al Qurán, ummat Islam secara umum justru diperintahkan untuk mentadaburi kandungan kitab suci tersebut. Tidak ada kewajiban untuk mentafsir bagi kalangan awam. Jika tafsir merupakan metode dengan cara dan ilmu yang khusus, tadabur relatif tidak terkekang oleh kaidah-kaidah keilmuan bahasa. Tadabur lebih bersifat sebuah perenungan dari setiap individu muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau meningkatkan keimanan yang penuh kemantapan tanpa keragu-raguan.

Jika tafsir lebih menitikberatkan kepada metode, langkah-langkah epitemologis dalam menggali pemahaman terhadap tekstual dalil-dalil Qurán, maka tadabur justru lebih konstektual penggalian pemahaman yang terfokus kepada tujuan atau output kedekatan diri kepada Tuhan. Pada titik inilah relevansi dari hubungan antara dubur dengan tadabur sebagaimana ungkapan menggelitik dari Cak Nun yang tadi sempat saya singgung di depan.

Menurut Cak Fuad, kata dubur bermakna sesuatu yang ada di belakang. Selain makna fisik sebagaimana kita pahami bersama, makna di belakang tadi juga bisa berarti output atau hasil dari sebuah proses. Jadi antara dubur dan tadabur sama-sama mengutakan output dari sebuah proses.

Segenap jamaah Kenduri Cinta pada malam itu sungguh sangat berbahagia dengan kehadiran Cak Fuad. Cak Fuad sendiri saat ini tercatat sebagai salah seorang anggota Dewan Penyantun Pusat Kajian Pengembangan Bahasa Arab Internasional (King Abdul Aziz International Center) yang merupakan badan dunia yang merumuskan pengembangan Bahasa Arab di seluruh dunia. Dari 9 orang anggota dewan, lima dari internal Arab Saudi, satu dari Eropa, satu dari Afrika, dan satu dari Asia non Arab, yaitu Cak Fuad. Dengan demikian, meskipun sosok Cak Fuad senantiasa berendah hati, yang pasti kita semua yakin akan kapabilitas kemampuan beliau dalam ilmu Bahasa Arab.

Ngisor Blimbing, 14 Mei 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s