Menyepi ke Taman Sunyaragi


Kunjungan ke Cirebon untuk ke dua kalinya bertepatan dengan liburan panjang akhir pekan lalu membawa kami ke sebuah taman di pinggiran sisi barat Kota Udang. Taman tersebut terkenal dengan sebutan Taman Sunyaragi. Konon pada jamannya, taman tersebut menjadi tempat peristirahatan dan meditasi bagi para bangsawan keluarga Keraton Pakungwati atau yang kini dikenal sebagai Keraton Kasepuhan Cirebon.

Taman Sunyaragi1Nama Taman Sunyaragi berasal dari bahasa Sansekerta. Sunya atau sunyi bermakna kosong, sunyi, atau hening. Adapun ragi atau raga, berarti badan wadag atau jasmani. Dengan demikian kata sunyaragi dapat dimaknai secara utuh sebagai pengosongan diri dari segala macam nafsu dan kehendak jasmaniah. Taman Sunyarugi selanjutnya memiliki fungsi sebagai tempat mengheningkan diri, menyepi, bermeditasi atau bertapa sebagai suatu proses penggemblengan diri menjadi manusia yang sejati.

Dengan angkot D5 kami berangkat dari kawasan Jalan Siliwangi. Selepas Jalan Kesambi, angkot itupun bersedia mengantar kami langsung ke sisi belakang Taman Sunyaragi, tentu saja dengan sedikit ongkos tambahan. Kamipun diturunkan di sebuah pelataran mushola yang berbatasan langsung dengan pagar sisi belakang taman yang kami tuju. Meskipun ada sebuah pintu tembusan, namun sayangnya pintu tersebut terkunci rapat dan nampaknya memang tidak pernah dibuka lagi. Akhirnya kamipun terpaksa harus berjalan sedikit memutar untuk menuju pintu utama taman di sisi Jalan Bypass Brigjen Dharsono.

Taman Sunyaragi2Selintas mengelilingi pagar sisi selatan taman, nampak nuansa klasik yang membawa aroma sejarah masa silam. Namun hal tersebut sedikit ternoda dengan kondisi sisi pinggiran taman yang nampak kurang terawat, bahkan ada yang berantakan. Demikian halnya sisi akses masuk utama yang kurang tertata indah sebagaimana bayangan kita mengenai sebuah taman yang asri. Untuk memasuki Taman Sunyaragi setiap pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000,-. 

Begitu memasuki area Taman Sunyaragi, pengunjung akan melintasi sebuah panggung terbuka yang cukup luas. Panggung tersebut merupakan bangunan tambahan yang difungsikan untuk tempat pementasan kesenian Cirebonan pada acara-acara tertentu yang digelar secara rutin.

Setelah naik dan menyeberangi panggung pagelaran terbuka, pengunjung dapat memilih jalur jelajah sisi samping kiri panggung ke arah pesanggrahan, atau ke sisi belakang panggung menuju gerbang gabura berbentuk Candi Bentar yang akan membawa ke gua-gua karang tempat meditasi atau pertapaan.

Secara umum kompleks Taman Sunyaragi terdiri atas dua kawasan. Kawasan pertama berupa bangunan pesanggrahan tempat peristirahatan. Bagian ini berada di sisi kiri dari panggung pagelaran terbuka. Dengan menapaki jalur setapak selebar kira-kira satu meter, kita akan dibawa ke undak-undak yang mengantarkan ke bangunan pesanggrahan. Bangunan pesanggrahan sendiri merupakan bangunan berbentuk limas dengan sisi depan dan belakangnya berupa pendopo terbuka. Di bagian tengah terdapat koridor yang menghubungkan antara pendopo sisi depan dan belakang. Adapun di sebelah kanan dan kiri koridor penghubung terdapat bilik-bilik tertutup yang dulunya dipergunakan sebagai tempat peristirahatan. Dulunya bangunan pesanggrahan tersebut dinamakan sebagai Bangsal Jinem.

Baik pendopo atau teras pesanggrahan sisi depan dan belakang kini difungsikan sebagai ruang pajang terbuka yang menampilkan beberapa deretan foto-foto jejak sejarah keberadaan Keraton Cirebon, khususnya Istana Pakungwati atau Kasepuhan. Diantara deretan gambar nampak suasana Keraton di paruh abad 18 dari masa ke masa, beberapa kegiatan perayaan keraton, pusaka-pusaka keramat, pentas tari, dan juga keberadaan Taman Sunyaragi sendiri.

Menuruni undakan di ujung pendopo terbuka sisi belakang, pengunjung akan dibawa pada sebuah taman berumput hijau yang diselingi dengan beberapa gerumbul tanaman bunga-bungaan. Terbayang betapa teduh dan heningnya taman ini di masa itu. Sedikit ke sisi belakang taman, menghampar sebuah kolam ikan yang di tengahnya terdapat gundukan pulau kecil yang menambah eksotisme pemandangan sisi belakang pesanggrahan. Benar-benar merupakan sebuah konsep tata taman yang mengagumkan untuk kondisi masa itu.

Turun dari undakan pendopo sisi belakang pesanggrahan, dengan menyusuri jalanan setapak ke arah kiri,  pengunjung akan mulai dibawa ke area pertapaan atau meditasi. Melalui sebuah pintu gerbang kayu, mulailah pengelanaan melalui berbagai alur sempit nan berliku dimulai. Suasana tersebut seolah membawa setiap orang ke suatu dunia penuh liku, dengan berbagai sisi rahasia nan misterius. Itulah gambaran kehidupan yang sangat kompleks penuh rahasia hidup yang tidak bisa diungkap sepenuhnya oleh insan manusia. Pada titik itulah manusia kembali merasa kerdil, merasa kecil, merasa tiada arti apapun dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Agung.

Di area meditasi, terdapat berbagai gua yang konon dulunya memang dipergunakan untuk bermeditasi. Ada Gua Peteng, Gua Arga Jumud, Gua Padang Ati, Gua Kelanggengan, Gua Lawa. Di samping itu terdapat pula beberapa gua yang dipergunakan sebagai sarana pendukung keberadaan keluarga bangsawan yang sedang melakukan proses meditasi, baik untuk keperluan penjagaan, logistik perbekalan, ataupun penyimpanan pusaka, seperti Gua Pengawal, Gua Pandekemasang, Gua Langse, dan Gua Pawon. Gua-gua tersebut merupakan lubang sempit diantara celah bebatuan karang yang indah namun juga tajam dan membahayakan.

Menyusuri berbagai lorong sempit di tengah himpitan batu karang yang tertata artistik sisi kanan-kiri dinding maupun bagian atas sungguh mendatangkan nuansa hening. Di beberapa puncak gua yang membentuk gundukan bukit karang berdiri beberapa bangunan beratap limas bergaya gasibo. Di samping berfungsi sebagai tempat gardu pandang untuk menikmati keindahan pemandangan di sekitar taman, bangunan tersebut juga berguna sebagai tempat pengintaian dan penjagaan yang sangat strategis.

Di beberapa sela lorong gua, terdapat kolam-kolam air yang mendatangkan kesejukan udara akibat sirkulasi angin yang datang pergi. Pemandangan tersebut bertambah unik oleg keberadaan beberapa ornamen patung karang berbentuk gajah, perempuan perawan sunti, maupun patung garuda. Ada pula bangunan bale kambang yang dulunya dikitari oleh hamparan air kolam yang menggenang.

Membayangkan sekian masa silam, Taman Sunyaragi tentu saja sangat jauh berbeda dengan kondisi yang ada saat ini. Keterbatasan sumber daya untuk merawat dan mengelola taman yang sangat bersejarah tersebut menjadikan beberapa sudut taman nampak tidak terurus, bahkan rusak berantakan. Nampaknya hal ini harus menjadi perhatian bersama agar keberadaan taman indah tersebut dapat lestari.

Lor Kedhaton, 11 Mei 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s