Nusantara Nderes Al Qur’an


Bersamaan dengan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW bBeberapa hari silam, di beberapa stasiun tivi ditayangkan Gerakan Ngaji Nusantara. Tidak hanya di tivi, gaung gerakan ini sebelumnya sudah cukup menghangatkan diskusi di beberapa lini media sosial. Inti dari gerakan itu adalah mengajak kalangan masyarakat muslim secara luas untuk kembali mau membaca kitab suci Al Qur’an sebagai sebuah amalan harian.

Al Qur’an merupakan petunjuk hidup untuk setiap insan muslim. Sebagai sebuah kitab berupa rangkaian kata dan kalimat yang membentuk kesatuan ayat, surat, hingga juz, Al Qur’an harus dibaca, dipahami untuk kemudian baru bisa diamalkan. Nah, dewasa ini tradisi ummat Islam di tanah air untuk akrab setiap hari dengan kitab sucinya justru terasa kian memudar. Di tengah keluarga kita lebih banyak diwarnai tayangan acara tivi yang nyaris tidak pernah terhenti. Celakanya lagi, saat ini semakin sulit menikmati acara tivi yang mendidik dan mencerahkan pandangan hidup kita sebagai manusia mulia.

Beberapa minggu sebelumnya, kebetulan saya berkesempatan menyimak sebuah pengajian di mushola tempat kerja. Sang ustadz yang seorang ahli hadist lulusan Pakistan menguraikan bahwasanya “mengkhatamkan” Al Qur’an merupakan kewajiban seorang muslim. Lebih lanjut dikatakan dari beberapa riwayat setidaknya setiap sehabis melaksanakan sholat diwajibkan untuk membaca kita suci tersebut dua lembar mushaf. Ini berarti dalam sehari semalam seiring dengan sholat lima waktu maka satu juz dapat dibaca. Dengan demikian dalam satu bulan utuh, 30 juz akan dapat dikhatamkan.

Nah dengan acara amalan “membaca” Al Qur’an tersebut, kita hanya mengutamakan atau mengejar khatam semata? Bagaimana dengan mempelajari kandungan, makna, maupun tafsirnya? Menurut ustadz tersebut, dalam tinjauan hadist-hadist yang dikaji tersebut memang perintah untuk sekedar membacanya saja. Dan hal ini merupakan amalan perorangan yang harus menjadi rutinitas.

Adapun bagaimana mendalami lebih lanjut kandungan isi Al Qur’an maka setiap muslim juga berkewajiban untuk melakukannya, baik dengan membaca tafsir, mengikuti kajian oleh ustadz-ustadz yang ahli di bidangnya, maupun dalam berbagai forum ilmu dan pengajian. Jadi lebih tepatnya, anjuran untuk membaca Al Qur’an setiap hari itu lebih tepat dimaknai dengan nderes Al Qur’an sebagaimana tradisi yang dulu hidup di kampung-kampung dan dusun-dusun.

Sebelum era televisi merambah setiap rumah tangga seperti saat ini, bahkan kala itupun masih banyak wilayah tanah air yang belum terambah pemerataan listrik, adalah tradisi di sebagian besar dusun-dusun apabila waktu Maghrib telah tiba maka segenap warga berbondong-bondong menuju masjid atau mushola untuk menunaikan sholat berjamaah. Selepas Maghrib hingga menunggu waktu Isya’ tiba, khususnya anak-anak, mengaji bersama dibimbing pak kyai atau ustadz.

Ngaji sehari-hari yang dimaksud mulai dari mempelajari aksara, bacaan, hingga menderas Al Qurán. Wabil khusus untuk menderas Al Qurán, tidak hanya dilakukan oleh anak-anak, orang dewasa maupun para orang tua biasa melakukannya. Dalam selang waktu itulah bergema dan berkumandang lantunan bacaan Al Qurán memenuhi angkasa langit di daerah pedesaan. Sebuah nuansa indah yang kini semakin sulit ditemukan.

Gerakan Nusantara Mengaji tentu dimaksudkan untuk mengembalikan semangat membaca, mempelajari, kemudian mengalamalkan segenap kandungan kitab suci sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Qurán tidak hanya semata menjadi pajangan di rak, ataupun bahan diskusi di forum-forum pengajian, namun bisa lebih meresap dan dihayati di dalam setiap jiwa para pelantunnya. Tentu saja harapan yang jauh lebih besar dengan setiap orang kembali berpedoman kepada Al Qurán, maka akan turut mempengaruhi kehidupan dalam skala yang lebih luas, meliputi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Krisis moralitas, krisis spiritualitas, dan segala macam jenis krisis di negara kita akan terentas atau teratasi di bawah bimbingan Tuhan Yang Maha Esa.

Lor Kedhaton, 9 Mei 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s