Buku Dibayar Dengan Buku


SampulBukuIbarat kata, nyawa dibayar dengan nyawa. Atau mungkin surat dibalas dengan surat, dan lain sebagainya. Di samping istilah yang sudah lazim tadi, rupanya ada pula buku dibayar dengan buku. Jika buku dibayar buku, apakah ini semacam pola perjual-belian secara barter sebagaimana manusia jaman dahulu menjalankan aktivitas ekonominya?Dan saya sendiri belum lama ini mengalami peristiwa dimana buku dibayar dengan buku.

Buku dibayar dengan buku? Apa maksudnya? Sebagaimana pernah saya tuliskan dalam beberapa edisi postingan sebelumnya, pada tahun ini sebuah naskah buku yang telah saya kirimkan kepada sebuah penerbit akhirnya berhasil diterbitkan menjadi sebuah buku. Meskipun buku tersebut hanya sekitar seratusan halaman tebalnya, namun sebagai sebuah pencapaian kreativitas dan karya penulisan, hal tersebut sangat berarti dalam sejarah hidup saya.

Dulu, atau mungkin dulu sekali, saya pernah mendengar informasi mengenai beberapa model pembayaran royalti bagi seorang penulis  naskah buku. Ada yang istilahnya dilakukan dengan sistem jual putus. Dengan sistem ini, pada saat sebuah perusahaan penerbit menyetujui sebuah naskah buku untuk diterbitkan menjadi buku, maka kontrak bagi hasil atau royalti yang disodorkan menyatakan bahwa pihak penerbit akan memberikan sejumlah uang kepada penulis. Pemberian ini hanya berlangsung satu kali di muka. Praktisnya bagi penulis, ia akan langsung menerima segepok uang yang cukup lumayan jumlahnya.

Adapun model pembayaran royalti yang lain dilakukan dengan memberikan sejumlah persentasi uang tertentu yang diperhitungkan berdasarkan hasil penjualan buku dalam kurun waktu tertentu. Kisaran royalti dengan sistem ini antara 10-15%. Dengan sistem ini, perolehan hasil bagi penulis sangat tergantung terhadap daya jual buku. Semakin populer dan laris buku yang diterbitkan akan semakin besar pula royalti yang akan diterima oleh si penulis. Dengan demikian, bisa jadi penerimaan royalti oleh penulis akan fluktuatif sesuai dengan kondisi penjualan di lapangan.

Nah kalau yang saya singgung sebagai buku dibayar dengan buku mengacu kepada model royalti yang mana? Tepat, Anda semua tentu sudah menduga. Sistem royalti buku dibayar dengan buku sangat mirip dengan model jual putus. Yang membedakan hanyalah jika sistem jual putus di masa lalu dibayar dengan uang, kini banyak penerbit yang  memberikannya dalam bentuk buku. Dengan sistem ini, seorang penulis membutuhkan effort untuk kembali menjual buku yang diberikan untuk dapat menikmati jerih payahnya menulis sebuah naskah buku.

Cara royalti buku dibayar dengan buku lebih praktis dari sisi pihak penerbit, namun sedikit ribet bagi sang penulis. Bagaimanapun diperlukan kreativitas dan tips khusus bagi penulis untuk dapat menditribusikan atau menjual buku yang menjadi hak royaltinya. Jika ia memiliki jaringan yang luas dan mampu memasarkan bukunya dan bukunya memang mendapatkan antusiasme para pembeli sesuai pangsa pasar yang disasar, tentu saja ia dapat menikmati uang yang cukup lumayan. Sebaliknya jika bukunya hanya numpuk di rak dan gagal dijual, maka alamat butung bagi si penulis.

Buku dibayar dengan buku yang jelas menjadi tantangan tersendiri bagi saya yang baru pertama kalinya menulis dan turut menjual sendiri buku yang saya tulis. Semoga tambah laris manis dan tambah berkah ingkang kathah. Amien. Monggo yang berminat beli dan membantu saya mendapatkan royalti saya.

Lor Kedhaton, 3 Mei 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s