Napak Tilas Makam Sunan Ampel


Ampel1Pagi itu bertepatan dengan hari Jumát. Hujan deras mulai mengguyur Surabaya begitu matahari naik sepenggalah. Sedari hari sebelumnya, berhubung tanggungan pekerjaan sudah selesai, saya merencanakan untuk menunaikan sholat Jumát di Masjid Sunan Ampel. Bagi saya dapat melaksanakan ibadah Jumát di suatu tempat yang sangat bersejarah bagi perkembangan penyebaran Islam adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Diiringi rintik gerimis yang masih turun dari langit, saya bersama seorang teman bergegas menyusuri sebuah lajur trotoar di Jalan Pemuda Surabaya. Selepas melewati Monumen Kapal Selam di tepian Kali Mas, kamipun menyeberangi jembatan yang menghubungkan ke titik ujung Jalan Sumatera di depan Stasiun Gubeng. Dari sanalah perjalanan kami mulai dengan menumpang angkot warna kuning lane F menuju daerah Ampel.

Berkunjung ke Surabaya terasa hambar tanpa singgah sejenak ke masjid dan maka Sunan Ampel di daerah Nyamplungan. Napak tilas sebuah lintasan sejarah menjadi suatu nilai yang sangat berharga sebagai salah satu cara untuk senantiasa berefleksi diri mengenai perjalanan hidup hingga tiba di titik yang sekarang dijalani. Nama besar serta kharisma Sunan Ampel memiliki aura magis dan daya magnet yang sungguh luar biasa bagi sebagian ummat Islam di Nusantara hingga saat ini.

Sejarah telah mencatat bahwa penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada penghujung abad XV tidak bisa dilepaskan dari peranan Wali Sanga. Diantara tokoh yang termasuk ke dalam barisan Wali Sanga adalah Sunan Ampel. Sunan Ampel yang di kala mudanya menyandang nama Raden Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat merupakan keponakan dari Dewi Dwarawati, salah satu istri Prabu Brawijaya V.

Ampel2

Ketika keluarga besar istana Majapahit dilanda perpecahan menjelang keruntuhannya, Raden Rahmat diminta datang ke tanah Jawa untuk turut memberikan nasehat guna memperbaiki kondisi sosial kemasyarakatan yang semakin terpecah belah. Ia kemudian diberi tanah pelungguh di daerah Ampeldenta. Di sanalah ia mulai membangung pondok pesantren dan menyebarkan ajaran agama Islam. Semenjak itu ia lebih dikenal sebagai Sunan Ampel.

Kunjungan ke Ampel kali ini sebenarnya merupakan kesempatan ke dua kalinya bagi saya. Selepas turun dari angkot, kamipun bergegas berjalan ke arah barat menyusuri gang-gang di perkampungan Nyamplungan. Berjalan sejauh lebih dari 1,5 km dalam temaram cuaca mendung membuat kami tidak merasa kegerahan. Di sepanjang perjalanan, kamipun bergabung dengan banyak jamaah yang sama-sama menuju Masjid ataupun Makam Sunan Ampel.

Makam Sunan Ampel berada di pelataran sisi belakang bangunan masjid. Ribuan jamaah muslim berziarah ke makam tersebut setiap harinya. Ziarah akan semakin ramai di hari Jumát, di masa bulan Sya’ban maupun Ramadhan. Setelah memasuki area masjid, saya dan teman saya bergegas mlipir samping kiri masjid untuk berziarah sejenak ke makam salah seorang sesepuh Wali Sanga tersebut.

Ampel3

Gapura bercat hijau muda yang berdiri gagah nan anggun itu segera menyambut kedatangan kami. Terdapat dua buah pintu masuk di sisi kanan dan kiri untuk memasuki area makam bagian dalam. Di pelataran tanah makam banyak rombongan peziarah yang tengah khusyuk memanjatkan dzikir, membaca Al Qurán, melantunkan tahlil ataupun doa-doa. Sebagaimana biasanya, sayapun turut larut dalam suasana hening dan syahdu.

Dengan singgah ke makam para aulia, saya pastinya tidak memiliki setitik niat ataupun tujuan untuk ngalap berkah. Saya cenderung untuk mendalami kembali sejarah perjuangan Sunan Ampel dalam menyebarkan ajaran Islam di masa itu. Dengan pendalaman tersebut, saya berharap dapat mengambil banyak contoh, teladan, ataupun nasehat-nasehat beliau yang dapat senantiasa dijadikan pegangan hidup di jaman edan saat ini. Bagaimanapun seorang wali Allah harus tetap diposisikan sebagai wali tanpa pernah menggeser maqamnya para nabi ataupun rasul-Nya.

Ngisor Blimbing, 30 April 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s