Teror Modal Kolor


Magelang, kotaku tercinta, memang kota yang adem ayem. Saking adem ayemnya, Magelang sangat jarang terdengar di dunia pewartaan Indonesia. Meskipun Borobudur yang dulu pernah menjadi salah satu keajaiban dunia berada di Magelang, namun Magelang termasuk jarang disebut orang. Media nasional, apalagi internasional hampir tidak perna ada yang melansir dinamika denyut nadi kehidupan warga Magelang.

Teror Magelang

Magelang yang tadi saya katakan adem ayem itu, kini sedikit terusik. Kota yang seolah mendapat jaminan keamanan karena keberadaan AKMIL dan dua batalyon Armed, di samping tentunya aparat kepolisian, kini tengah dilanda tindakan teror yang mengganggu rasa aman masyarakat.

Sebagaimana digembar-gemborkan media nasional, baik koran, tivi, maupun media online, ada tindakan teror misterius dari orang yang tidak bertanggung jawab. Meskipun belum tergolong tindakan teror kelas berat sebagaimana penculikan, perampokan, pembunuhan, ataupun bom kotor, namun tindakan teror yang terjadi secara berantai seolah sebuah kemustahilan yang terjadi di Kota Magelang. Kota yang adem-ayem tata tentrem kini tengah gelisah.

Teror yang terjadi memang bukan teror dengan pelor. Bukan pula teror dengan kolor sebagaimana isu kolor ijo yang dulu sempat menggegerkan. Justru teror yang mengusik ini dilakukan dengan modal senapan angin dan gotri sebagai pelornya. Sosok pelaku teror yang belum terungkap beberapa kali melakukan “penembakan” terhadap para perempuan. Ada pelajar, pelayan toko hingga penjual buah-buahan. Lokasi penembakan juga terpusat di kawasan Pecinan, mulai Jalan Pemuda, Jalan Ikhlas, dan Jalan Tidar.

Sedikit menduga motif pelaku teror yang modal kolor ini, sepertinya tujuannya hanya sekedar tindakan iseng untuk menebar rasa takut. Jika memang ingin benar-benar membinasakan orang lain, mungkin ia akan benar-benar menggunakan peluru tajam, atau setidaknya peluru karetlah. Namun ini teror pelor gotri yang biasa dipakai untuk pemberat alat pancing para mancing maniak. Oleh karena itu, masyarakat harus tetap solid, guyub rukun, tidak saling curiga, dan yang pasti tidak perlu merasa ketakutan.

Teror yang ingin menebar rasa takut harus dilawan dengan keberanian bersama diantara semua warga masyarakat. Sebuah teror akan gagal apabila tujuan untuk menebar rasa takut justru dilawan oleh masyarakat dengan pernyataan keberanian bersama. Makanya saya sangat sepakat dan mendukung ajakan öjo wedi dolan pecinan yang banyak disebarluaskan oleh berbagai pihak di berbagai media sosial.

Ojo wedi dolan Pecinan

Kersehaan sudah berlarut-larut. Pihak keamanan sudah mulai turun tangan. Beberapa pernyataan kesaksian korban sudah dihimpun. Meskipun tidak ada korban jiwa, namun rasa aman warga masyarakat telah ternoda. Terakhir sudah dilansir kabar bahwa kepolisian sudah menangkap seseorang yang diindikasikan sebagai pelaku tindakan teror iseng yang menggelisahkan tersebut. Kita semua tentu berharap agar kasus ini segera terungkap. Pelaku yang tidak bertanggung jawab sebegar ditangkap dan Magelang kembali aman, adem ayem, dan tata tentrem.

Sampeyan takut dengan teror? Takut dengan teror memang sebuah sifat manusiawi. Tetapi sangat penting agar kita tidak terhanyut secara emosional untuk larut dalam rasa takut. Teror harus dilawan dengan keberanian bersama. Ojo wedi dolan ning Pecinan, jangan takut jalan-jalan ke Pecinan Magelang!

Cilegon, 29 April 2016

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Magelangan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s