Sabtu Pagi Bersama Kyai Budi


Kyai BudiSabtu pagi itu memang di luar rutinitas sehari-hari. Dengan tergesa saya harus bangun ekstra lebih pagi. Langsung mandi dan menanti waktu adzan berkumandang. Tentu saja, sangat tidak seperti biasanya. Begitu sholat Subuh tertunaikan, sebuah taksi langsung saya naiki melaju membelah Surabaya yang belum terbangun dari mimpi indahnya.

Selepas menyusuri jalanan tengah kota dan jalan tol yang masih lengang, sebuah gerbang tempat parkiran pesawat tengah gagah menanti. Area inilah yang kami tuju untuk mengantarkan ke kota di ujung pulau yang lain.

Meskipun pagi belum sepenuhnya membangunkan segenap anak manusia, namun di beberapa sisi terminal nampak rombongan para manusia setengah baya dengan pakaian batik yang seragam. Ada tiga atau empat rombongan jika menilik dari ragam seragam batik yang nampak. Mereka adalah rombongan para tamu Allah yang akan berangkat umrah ke Tanah Suci. Rombongan tersebut sedikit membuat riuh suasana pagi yang masih buta, meski bulan purnama masih menggantung di sisi barat langit.

Selepas mengurus urusan ini dan itu, kamipun segera melenggang menuju titik terakhir check point. Dengan segala prosedur melepas setiap perangkat berbau logam, termasuk sabuk ikat pinggang, setiap orang dicek satu per satu dengan seksama. Sesaat selepas menjalani pengecekan, sambil sedikit minggir, saya kembali mengenakan ikat pinggang yang sebelumnya harus dilepas. Di saat bersamaan, nampaklah sesosok manusia unik keluar dari gerbang pengecekan anti logam.

Aneh? Ya, bagi kebanyakan orang di sekitaran, orang ini mengenakan pakaian dengan gaya yang paling berbeda. Dengan kaos oblong warna putih sedikit kusam, dipadu dengan kain sarung warna merah marun tua, dan bersandal selop tentu saja sosoknya sedikit banyak mengundang perhatian orang di sekitar. Ditambah lagi, nah ini mungkin yang paling nggilani, sebuah surban berbentuk “ban vespa” bekas berlilitkan kain hitam bertengger dengan tenang di atas kepala orang aneh tersebut.

Bagi saya, tentu saja sosok berkostum aneh itu bukanlah orang asing. Dengan pelan saya segera mendekat dan menghampirinya. Kemudian dengan agak lirih saya sapa beliau, “Assalamuálaikum Kyai Budi!”

Yang saya sapapun langsung gapyak membalas sapaan, “Waálaikum salam!”

“Arek KC Kyai!” timpal saya sebelumnya sang Kyai menanyakan banyak hal panjang lebar. Dengan spontan iapun membalas, “Lha ya, nggak bareng CN?”

Kamipun terlibat perbincangan kilat sekilas. Beliau menjelaskan bahwa dirinya harus bergegas menuju Balikpapan. Ketika saya tanyakan acara pakah di sana, beliau dengan gaya santainya hanya ngeles, “Biasalah acarane wing ngglidhik.”

Ia justru segera mengajak berfoto. Dengan penuh kehangatan dan senyum lebar, kamipun mengabadikan pertemuan dadakan tersebut atas bantuan seorang rekan. Adakah Sampeyan tahu juga dengan sosok Kyai unik yang saya temukan tersebut? Baiklah, agar tidak menambah rasa penasaran, beliau adalah Kyai Budi Harjono.

Kyai satu yan unik memang salah satu narasumber dalam berbagai forum pengajian, khususnya di jaringan Padhang Mbulan. Tidak hanya di Gambang Syafaat Semarang, beliau juga rutin hadir di Kenduri Cinta Jakarta, Mocopat Syafaat Jogja, Padhang Mbulan Jombang, dan forum lainnya. Mengingat pagi buta itu merupaka penghujung bulan purnama di bulan Rajab, maka dengan penuh keyakinan pastilah baru selesai menghadiri Padhang Mbulanan di Menturo, Jombang.

Bagi saya yang sudah puluhan menyimak uraian ceramah Kyai dari Semarang ini, selalu teringat akan ceramah yang berbalut kata-kata indah penuh mutiara hikmah yang tiada tara. Sosoknya sangat lekat dengan gaya bicara yang penuh metafor tetapi sangat lugas dan menusuk kalbu para pedengarnya. Meskipun gayanya sangat santai bahkan kadang terkesan nyelelek, namun pesan-pesannya sangat mendalam. Bagi saya pribadi, sosoknya muncul sebagai jelmaan Jalaruddin Rummi. Ya, Kyai Budi adalah Jalaruddin Rummi-nya Indonesia. Setidaknya bagi saya dan beberapa rekan yang lain.

Matur suwun Kyai atas perbincangan hangatnya di pagi yang masih temaram. Meski sekedar hanya sak kedheping mata, namun sungguh padat makna tegur sapa kita di pagi itu. Semoga Kyai senantiasa diberikan kesehatan, umur yang panjang dan energi untuk terus berbagi ilmu ke seantero negeri. Salam Maiyyah!

Ngisor Blimbing, 24 April 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Sabtu Pagi Bersama Kyai Budi

  1. Muh.Ahsan berkata:

    Nogo-nogo-ne kok jadi semacam Kyai Budi dan muridnya Kyai Kalamwadi dalam Dharmagandul..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s