Emansipasi dari Desa


YuGindulSebut saja namanya Yu Sarjum. Ia adalah perempuan kebanyakan yang hidup sederhana di suatu desa yang jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota. Sebagai janda dengan tiga orang anak, ia sehari-hari harus membanting tulang mencari nafkah sebagai buruh tani. Pekerjaan seperti menanam padi, menyiangi rumput di sawah, hingga memanen hasil bumi menjadi tumpuannya untuk terus mempertahankan hidup. Meskipun tidak mudah dan menguras tenaga, namun ia jalani semuanya penuh dengan kepasrahan kepada Tuhan. Ia sangat yakin bahwa setiap usaha manusia tidak akan pernah sia-sia.

Ada lagi Lik Tumbu. Semenjak remaja ia telah mewarisi keahlian membuat tempe gembus dari orang tuanya. Ampas sisa produksi tahu di kampung sebelah diolahnya menjadi tempe gembus yang dibungkus dengan daun pisang atau awar-awar yang dilapisi kertas koran bekas. Malam selepas Isya’ ia membungkus adonan tempe gembus dengan dibantu beberapa tetangga. Keesokan harinya, ketika cahaya matahari masih remang-remang temaram menyapa pagi, ia sudah bergegas menggendong dagangan tempe gembusnya ke pasar kecamatan. Bukan hanya sebulan dua bulan profesi itu ditekuninya, tetapi puluhan tahun. Ia setia membuat tempe gembus untuk melayani para pelanggannya.

Lain lagi dengan Karsinah. Perempuan beranak dua yang bersuamikan pedagang gorengan keliling tersebut rela berpisah dengan suami dan anak-anaknya serta meninggalkan kampung halaman tercinta untuk mencari peruntungan ke negeri orang. Sudah lebih dari lima tahun ia menjalani kontrak sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Ia bertekad mengumpulkan gaji sebanyak-banyaknya untuk bekal usaha kelak apabila ia telah habis masa kontraknya. Hal itu ia lakukan semata-mata karena ingin dapat menyekolahkan anak-anaknya. Ia sangat sadar bahwa pendidikan anak-anak adalah kunci untuk memutus tali kekurang-beruntungan nasib. Lebih baik ia berkorban dengan kerja keras asalkan kelak anak-anaknya menemukan jalan kehidupan yang lebih baik dari dirinya.

Yu Sarjum, Lik Tumbu, dan juga Karsinah sebagaimana dikisahkan di atas hanyalah segelintir contoh para perempuan perkasa yang berjuang gigih untuk menghidupi diri dan keluarganya. Masih banyak lagi para perempuan yang terpaksa memanggul nasib keluarga sebagai tulang punggung yang harus mencari nafkah keluarga. Ada perempuan yang menjadi bakul di pasar, menjadi buruh di pabrik, berjualan makanan keliling, bahkan ada yang sampai harus mengadu nasib ke negeri orang menjadi TKI atau TKW. Mereka menjalani berbagai pekerjaan yang tidak ringan atas nama nasib yang sebenarnya diakibatkan oleh belum optimalnya kehadiran negara untuk menjamin hak-hak setiap warga negaranya secara memadai.

Berbicara mengenai emansipasi atau kesetaraan peran pria dan wanita, kita seringkali terjebak hanya pada perbincangan di ranah kegiatan atau pekerjaan formal. Guru perempuan mewakili kemajuan emansipasi. Polisi wanita, direktur perempuan, lurah, camat, bupati, menteri, bahkan presiden perempuan dianggap sebagai bukti kemajuan emansipasi perempuan di ranah kehidupan sosial kemasyarakatan yang luas. Apakah jasa emansipasi perempuan hanya menjadi milik para perempuan yang telah mengenyam pendidikan yang lebih baik dan selanjutnya mendapatkan kesempatan karir dan posisi strata sosial yang lebih beruntung semata? Apakah para perempuan desa yang harus bekerja keras, membanting tulang, memeras keringat untuk menegakkan dapur keluarganya tidak termasuk para perempuan yang turut memperjuangkan emansipasi kaumnya?

Dari segi bekal pendidikan, mayoritas para perempuan desa sebagaimana Yu Sarjum atau Lik Tumbu bisa jadi memang pas-pasan. Mereka mungkin tidak terlalu paham dengan tokoh Raden Ajeng Kartini yang lebih dari seabad silam sudah memperjuangkan persamaan martabat antara pria dan wanita. Mereka mungkin terlalu awam dengan konsep kesetaraan gender, dengan pengertian emansipasi wanita, dan segala macam teori pergerakan wanita yang sering diseminarkan para aktivitis di berbagai forum maupun media. Mereka lebih banyak paham bahwa kenyataan hidup di depan matanya harus disikapi dengan sebuah kewajaran kerja keras yang dilandaskan kepada keikhlasan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Desa dan kota tentu saja menghadirkan suasana yang tak serupa yang kemudian turut mempengaruhi pola pikir masing-masing individu penghuninya. Tentu saja hal ini juga menyangkut bagaimana wanita desa memiliki pola pikir yang tidak sama ketika menyikapi kenyataan kehidupan dibandingkan dengan para wanita dari kota. Mungkin saja dari sisi bekal pendidikan para perempuan desa kurang beruntung dibandingkan sejawatnya di perkotaan, tetapi mereka memiliki keunggulan berupa etos kerja, semangat, tekad, dan juga keikhlasan dalam bekerja. Mereka bekerja bukan semata-mata demi karir atau eksistensi diri. Mereka bekerja sebagai sebuah ikhtiar perjuangan untuk turut meringankan beban suami, mencukupi kebutuhan keluarga, di samping hal yang tak kalah luar biasanya untuk mengabdikan diri kepada bebrayan agung, kepada Tuhan, kepada kehidupan sosial kemasyarakatan yang lebih besar.

Soto3Persamaan hak dan kewajiban asasi antara pria dan wanita dewasa ini semakin mengalami kemajuan di negara kita. Dalam kedudukan sebagai sesama warga negara, pria dan wanita mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkiprah mengaktualisasikan diri dalam memberikan peranan untuk pembangunan atau kemajuan bersama. Tidak hanya pria, bahkan para pemimpin suatu unit kerja bahkan satuan pemerintahan telah banyak dijabat oleh sosok perempuan. Lurah perempuan, camat perempuan, bupati, gubernur, bahkan menteri sekalipun bukanlah suatu hal yang aneh lagi.

Pencapaian kesetaraan peran antara pria dan wanita hendaknya jangan sampai menghilangkan harkat serta martabat seorang perempuan yang tetap memiliki kewajiban untuk menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Hanya dari pangkuan dan belaian ibu yang penuh rasa welas asih, dapat tercetak generasi penerus bangsa yang memiliki kepribadian serta jatidiri yang dilandasi semangat kerja keras dan pantang menyerah dalam mencapai cita-cita. Tentu saja semuanya juga harus dibingkai dalam rasa ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud keluhuran budi pekerti dan akhlak yang mulia.

Harga diri perempuan juga menjadi penentu martabat bangsa. Sebuah bangsa apabila para perempuannya sudah kehilangan kehormatannya, menjadi para wanita murang tata, maka yang akan terjadi adalah sebuah kemunduran peradaban manusia. Jika hal demikian yang terjadi, janganlah heran jika kiamat akan semakin dekat. Semoga menjadi bahan perenungan bagi kita semua.

Ngisor Blimbing, 20 Maret 2016

Foto Yu Gindul dan Mbah Soto: koleksi pribadi,

Foto Mbah Tenong diambil dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s