Relativitas Pandangan Orang


Rambut boleh sama hitam, tetapi isi kepala orang belum tentu sama. Demikian pesan pepatah dari orang-orang tua kita yang akan terus relevan dalam setiap episode jaman, terutama di era jaman edan sekarang ini. Jaman edan memang wolak-waliking jaman. Jaman terbalik-balik. Yang hitam bisa kelihatan putih. Yang benar bisa dianggap salah. Yang jahat bisa diagungkan sebagai kebaikan. Yang pintar justru diperbodohkan, dan lain sebagainya.

Adalah di tengah perangai hedonisme saat ini, sudah jamak banyak orang tidak lagi mengindahkan norma dan aturan. Demi menjadi kaya, seseorang bisa menghalalkan segala cara. Sikut kanan, sikut kiri. Injak depan, injak belakang. Meludah ke bawah dan menjilat  ke atas. Manipulasi, kolusi, hingga korupsi. Harta, pangkat, dan jabatan menjadi parameter utama pencapaian sukses manusia.

Sebutlah Prasojo, ia bekerja pada sebuah kantor pemerintahan. Di tengah persaingan antar sesama karyawan untuk berkarir dengan mencapai jenjang pangkat dan jabatan yang setinggi-tinggi, ia justru melawan arus. Ia tidak pernah ingin mengejar karir, terlebih jika hal itu harus dilakukan dengan persaingan yang tidak sehat. Ia ingin lebih fokus untuk menjalankan amanah tugas yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya. Dengan bekerja amanah, ia yakin bahwa persoalan rejeki sudah dijamin oleh Gusti Allah. Berkarya lebih utama daripa berkarir.

Dengan berkarya seseorang akan lebih fokus untuk menjalankan amanah sebaik-baiknya. Bahwa dengan karya nyata yang dilakukan kemudian ia mendapatkan kepercayaan yang akan berimbas terhadap nasib karirnya, hal itu dianggap sebagai sebuah konsekuensi moral dari sebuah proses. Ambisi pribadi yang biasanya lahir dari nafsu serakah selayaknya harus disingkirkan jauh-jauh.

Sikap Prasojo yang tidak umum di kalangan teman sejawatnya, membuat beberapa teman sekantornya memiliki bermacam pandangan terhadapnya. Terlebih ketika pada suatu kesempatan dirinya pernah dipromosikan untuk menjabat sebuah jabatan yang prestisius dan strategis, namun ia menolaknya. Berbagai pandangan dan komentar meluncur dari teman-temannya.

Ada yang menganggap Prasojo bodoh, karena menolak rejeki nomplok. Ada yang menyayangkan sikap tersebut dikarenakan organisasi sedang membutuhkan sosok-sosok orang yang mampu mengemban amanah. Ada yang berpendapat dirinya egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Ia tak mau berperan dalam membenahi kondisi kantor yang dirasakan banyak pihak sedang berada di titik nadir nan kritis.

Sekedar sebagai sebuah ilustrasi, di tempat kerja Prasojo pada saat tersebut memang tengah terjadi krisis organisasi. Krisis tersebut berkenaan dengan hadirnya beberapa sosok pejabat di tingkat pimpinan yang tidak memiliki kemampuan di bidang yang semestinya. Hal tersebut berimbas terhadap tidak adanya tingkat kepercayaan dari seluruh komponen organisasi. Sebuah organisasi yang kemudian terjebak dalam situasi “tanpa kepemimpinan”.

Di tengah keruwetan organisasi, kebanyakan orang di dalamnya terempas dalam sikap apatisme terhadap keadaan yang ada. Di sisi lain, kondisi yang tidak menentu justru dimanfaatkan oleh banyak oknum untuk meniti karir dan ambisi pribadi. Mereka mampu merebut perhatian para pimpinan untuk ditempatkan pada jabatan-jabatan tertentu namun tanpa pernah melakukan perubahan yang berarti bagi organisasi. Terlampau banyak bermunculan para oprtunis yang sebenarnya hanya ingin mementing dirii sendiri, bahkan ada yang sekedar ingin memperkaya diri sendiri. Intinya di dalam organisasi tersebut semakin sulit menemukan sosok yang amanah dan bisa menjadi teladan untuk bertindak benar sesuai aturan main.

Dengan latar belakang kondisi tersebut, sesungguhnya Prasojo memiliki pandangan yang lain. Pandangannya mungkin tidak searah dan sejalan dengan pandangan umum. Ia merupakan sosok anti mainstream. Ia ingin membuktikan bahwa tidak setiap orang tidak mampu bersikap tidak terhadap godaan pangkat dan jabatan. Ia ingin membuktikan bahwa yang turut membangun organisasi tidak hanya para pejabat dan orang berpangkat tinggi. Karyawan kecil, pegawai rendahan, semua memiliki kontribusi dalam keberadaan sebuah organisasi sesuai dengan peran, tugas, dan tanggung jawab yang diembannya. Bahwa harus ada yang berperan sebagai bawahan, ada yang harus menjadi atasan, adalah semata-mata keharusan sebuah pembagian tugas dan tanggung jawab secara berjenjang. Dengan demikian perlu ada sebuah contoh untuk mengatakan tidak terhadap tawaran sebuah jabatan.

Manusia boleh sama makan nasinya. Tetapi tidak berarti setiap manusia memiliki pandangan yang sama untuk setiap hal. Kaya, pangkat tinggi, jabatan tinggi, tidak serta merta dianggap mulia oleh masyarakat. Status tersebut hanya akan menjadi baik jika diserta dengan nilai kesholehan sosial yang memberikan kemanfaatan kepada banyak orang, bahkan  terhadap kemaslahatan kehidupan.

Mungkin kisah ini hanya sekedar relativitas sebuah pandangan hidup. Namun hal ini juga sangat erat dengan sudut pandang, jarak pandang, cara pandang, yang kesemuanya menentukan sikap seseorang dalam menanggapi keadaan di sekitar dirinya. Suatu relativitas pandangan yang harus disikap secara arif dan bijaksana agar terhindar dari sikap menyalah-pahaminya. Semoga bisa menjadi bahan perenungan bersama.

Simpang Lima, 12 April 2016

Gambar dipinjam dari sini.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s