Ngobrol Ngalor Ngidul bin Ngawur


Radya SurjanSebagaimana biasanya, malam Jum’at selepas Isya’ adalah jamnya si Ponang nonton On The Spot tematik horor bin misterius di sebuah tivi swasta. Jangankan ngomongin hantu atau thuyul, justru tiba-tiba ia bertanya, “Pak, mbok kita pindah ke Malaysia saja. Saya pingin sekolah di sana je.”

Sayapun sambil sepintas lalu menanggapi, “Tapi kalo sekolah di sana harus bisa pakai bahasa Inggris lho ya!”

“Kan Upin Ipin sekolahnya pakai bahasa Melayu,” sanggahnya penuh argumentasi.

Welha dalah bocah ini sedemikian cas-cus juga pengeyelannya. Sayapun kemudian memberikan keterangan lebih lanjut, “Upin Ipin itu kan sekolahanya masih di tadika, taman pendidikan kanak-kanak. Ya, semacam TK-lah kalau di Indonesia. Kalau sudah sekolah SD, SMP, SMA, dan kuliah ya harus pakai bahasa Inggris.”

“Kenapa sih kok harus begitu?”

“Ya supaya anak-anak di Malaysia semenjak kecil sudah terbiasa berbahasa Inggris, sehingga kalau sudah besarnya nanti bisa keliling dunia.”

“Kenapa kok bahasa Inggris? Kok tidak bahasa yang lain?”

“Ya karena Malaysia dulunya dijajah oleh negara Inggris. Makanya mereka mengharuskan penduduknya fasih berbahasa Inggris.”

“Negara yang dulu dijajah sama Inggris mana saja to?”

“Ya, Malaysia, India, juga Australia.”

“Terus mana lagi?”

“Ya banyak Le. Banglades, Pakistan, juga Afrika Selatan.”

“Kalau Indonesia dulunya dijajah sama Belanda ya Pak? Terus sama manalagi?”

“Iya! juga pernah dijajah sama Jepang.”

“Kok Jepang njajah-njajah sih?”

“Ya Jepang kan negara kurang subur. Tidak punya hutan luas. Tidak ada sawah-sawah. Padahal mereka butuh bahan baku untuk pabrik-pabriknya. Jadilah mereka menjajah negara lain.”

“Kalau negara yang tidak pernah dijajah mana?”

“Ya Thailand!”

“Emang kenapa kok tidak ada yang njajah Thailand?”

“Kan Thailand dijadikan negara pembatas.”

“Pembatas apa maksudnya?”

“Ya dijadikan negara batas antara wilayah jajahan Inggris sama jajahannya Perancis.”

Lha yang dijajah sama Perancis mana saja to?”‘

“Ya ada Kamboja, Vietnam, sama Laos.”

“Oo, lha China pernah dijajah sama siapa?”

“Ya sama Jepang juga pernah.”

“Lha Jepang itu presidennya siapa to Pak?”

“Jepang tidak punya presiden!”

“Punyanya apa terus?”

“Jepang dipimpin oleh kaisar.”

“Sekarang siapa nama kaisar Jepang Pak?”

“Kaisar Akihito.”

“Kenapa sih ada negara yang dipimpin raja, sultan, kaisar, ada yang presiden?”

“Ya, terserah masing-masing negara. Kalau dipimpin raja, sultan, atau kaisar pemimpinya selalu turun-temurun. Yang meneruskan jadi pemimpin akan datang adalah anak dari pemimpin saat ini. Nah kalau presiden gonta-ganti dan dipilih.”

“Ooh. Pak, aku bisa jadi presiden nggak ya?”

“Lho kan kamu masih kecil. Ya belum bisa to Le!”

“Kan aku pinter sekolah kan Pak! Emang kenapa kalau masih kecil belum bisa jadi presiden?”

“Ya kan belum lulus SD! Belum juga punya KTP! Nah ndaftar presiden kan perlu KTP sama ijazah. Lagian mau ngapain kalau jadi presiden?”

“Ya aku pingin bikin banyak lapangan pekerjaan.”

“Lapangan kerja apaan?”

“Ya buat sawah-sawah baru yang banyak lah!”

“Dimana?”

“Ya di gunung-gunung dan hutan-hutan lah!”

“Kalau hutan dibabat jadi sawah, gundul to hutan-hutan kita? Terus gunungnya juga habis dipangkas jadi sawah.”

“Ooo iya juga ya.”

Jangan pada dibaca serius lho ya. Sekali lagi ini hanya obrolan ngalor-ngidul bin ngawur ala si Ponang menjelang malam Jum’at Kliwon.

Ngisor Blimbing, 7 April 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s