Sebuah Tantangan Mengharu Biru


Selepas alunan kalimah Yasin, di rumah kami masih terkumandang beberapa surat suci yang lain. Malam itu memang malam Jum’at. Sebagaimana tradisi di rumah Ngisor Blimbing, maka menu kalimah thoyyibah diikhtiarkan untuk dilantunkan agar menghadirkan para malaikat Tuhan dan gelombang-gelombang keberkahan. Namun beberapa saat menjelang waktu Isya’, tiba-tiba terdengar sebuah suara mungil, “Pak, main catur!”

Duo Master CaturJika suara tantangan tersebut berasal dari si Ponang, saya masih mafhum. Lha kali itu justru yang menantang sang maestro di Ndalem Ngisor Blimbing justru si Kecil Noni. Bocal mungil yang baru lewat usia dua tahun itu kok ya tahu-tahunya ingin mau main catur. Lha gimana hayo?

Beberapa bulan terakhir si Kakak dari si Kecil Noni memang begitu keranjingan dengan permainan perang di lapangan hitam putih. Setelah sering berlatih dengan teman sebayanya menggunakan papan catur milik bapak-bapak di pos ronda depan rumah, si Ponang langsung berani tanding melawan bapaknya. Tidak tanggung-tanggung setiap malam ia selalu meminta battle!

Pertandingan seru yang kami lakukan selepas Isya’ hingga menjelang larut malam, tentu saja tidak pernah disaksikan atau ditonton oleh si Noni. Lha jika demikian halnya kok bisa-bisanya ia tiba-tiba menunjukkan nyali untuk menantang saya, selaku bapaknya. Bukan merasa tersinggung ditantang bocah wingi sore, tetapi saya justru penasaran darimana Noni kenal main catur? Siapa yang mengajari si Kecil yang masih pakai pempers setiap malam tersebut tahu dunia percaturan.

Tentu saja, saya tidak perlu berpikir panjang lebar hingga mengerutkan dahi. Sayapun kemudian menduga bahwa si Noni juga turut nongkrongi kakaknya pada saat battle di pos ronda depan rumah.

Ah, subhanallah ya Tuhan. Saya begitu takjub dan bersyukur tiada henti kepada Tuhan. Bagaimanapun sederhananya kehidupan kami sehari-hari, namun Tuhan secara teramat sangat terasa senantiasa menghadirkan kegembiraan-kegembiraan istimewa di Ndalem Ngisor Blimbing kami. Dari hal-hal kecil itulah kami semakin yakin Tuhan tidak pernah tidur untuk mengurus setiap tarikan nafas makhluk-Nya, bahkan pada setiap gerak helai daun setiap tetumbuhan.

Sebagaimana umumnya para orang tua, kami senantiasa berteori dan membanggakan diri mampu mendidik anak-anak kami. Namun dari waktu ke waktu kami semakin menyadari bahwa pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki tidaklah mampu untuk mengajarkan berbagai hal kepada mereka. Kami harus sadar dengan sepenuh hati bahwa semua tiada akan pernah berjalan dengan baik sesuai pengharapan kami tanpa adanya campur tangan Tuhan secara langsung. Sejatinya Dialah yang mendidik anak-anak kami. Bukan kami-kami yang fakir terhadap segala pengetahuan ini.

Lor Kedhaton, 1 April 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s