Semakin Peduli Kepada Anak Berkebutuhan Khusus


Tuhan sungguh Maha Agung. Atas perkenannya, pada liburan panjang akhir pekan kemarin, saya diperjalankan untuk menengok kampung halaman. Lebih terasa berarti lagi pada kesempatan tersebut saya mendapat kesempatan pula untuk bersilaturahmi dengan beberapa teman lama. Lebih unik lagi, bahkan Tuhan mempertemukan saya dengan beberapa siswa dari sebuah SLB di Muntilan dalam sebuah pengajian akbar yang dihadiri belasan ribu jamaah.

CNKK-SLB Muntilan2

Pengajian dengan tema “Menanam Kebaikan” pada Sabtu Malam Ahad, 26 Maret 2016 yang menghadirkan Kiai Mbeling Emha Ainun Nadjib beserta gamelan musik Kiai Kanjeng memang diselenggarakan dalam rangka penggalangan dana untuk pembangunan SLB yang bersangkutan. Dalam kesempatan yang sama turut hadir dua tokoh ulama Magelang, Gus Yusuf dari PP API Tegalrejo dan Gus Mansur dari PP Usuluddin Salaman. Ada pula budayawan Komunitas Lima Gunung, Tanto Mendut.

Malam menjelang larut terlantunlah sebuah rangkaian lirik nan syahdu mengharu biru diiringi Kiai Kanjeng: Rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa; Sejak lama sampai kini tetap suci dan abadi; Takkan hilang selamanya sampai datang akhir masa; Takkan hilang selamanya sampai datang akhir masa; Renungkanlah….
Perasaan insan sama, ingin cinta dan dicinta; Bukan ciptaan manusia, tapi takdir Yang Kuasa; Janganlah engkau pungkiri, segala yang Tuhan beri.

Lagu Renungkanlah karya M Mashabi yang dibawakan oleh Kiai Kanjeng mengiringi dua anak siswa SLB, Musa dan Rohmat, naik ke atas panggung di depan hadirin. Dengan didampingi beberapa pengasuh dan Gus Mansur, kedua anak berkebutuhan khusus (ABK) tersebut kemudian memperkenalkan diri.

Mengenai kedua anak istimewa tersebut, Cak Nun melemparkan pertanyaan retorik kepada para hadirin, “Berat mana penderitaan anak-anak kita ini dengan penderitaan Bapak-Ibu, Mas-Mbak, Simbah, para rawuh semua?  Apakah mereka meminta terlahir sebagaimana kondisinya saat ini? Mereka adalah insan Tuhan yang menerima pemberianNya dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Dengan tanggungan penderitaan yang mereka sangga, kira-kira mereka lebih dekat ke surga atau kita semua yang lebih dekat?”

Lebih lanjut Cak Nun menguraikan, “Tuhan telah memastikan derita hidup yang mereka alami lebih mendekatkan mereka masuk surga! Mereka lebih terjaga daripada perbuatan hina dan dosa. Mereka hadir apa adanya dalam kemulian sejati di mata Tuhan. Sementara kita-kita yang diberikan jasmani yang utuh, panca indera yang lengkap, keutuhan raga dan rupa yang sempurna belum tentu masuk surga. Nasib mereka sudah pasti, sementara kita masih belum jelas karena berbagai dosa-dosa.”

“Karena anak-anak kita ini sudah dijamin, sudah diberikan kepastian masuk surga, maka kita-kita ini sebagai manusia yang lebih beruntung dari segi jasmani harus ikut berpegangan kepada mereka. Dengan mengasihi, dengan mendampingi, dengan menemani, mengayomi, dan memberikan mereka kesempatan untuk bisa lebih mandiri, maka mudah-mudahan Tuhan berkenan memasukkan kita ke surganya,” demikian Cak Nun menambahkan.

Keberadaan SLB sebagai rumah, sebagai tempat belajar, sebagai sarana aktualisasi diri anak-anak kita yang berkebutuhan khusus telah menebarkan cinta kasih terhadap sesama. Maka anak-anak itupun harus bersyukur bahwa meskipun mereka tidak dapat selalu bersama-sama di tengah keluarga kandungnya, namun Tuhan telah menghadirkan orang-orang mulia yang mau peduli bahkan menyayangi sebagaimana keluarga sendiri.

Pada kesempatan selanjutnya, Gus Mansur dan Gus Mus menekankan bahwasanya setiap manusia diciptakan dengan kelemahan dan kelebihannya. Anak-anak kita di SLB, meskipun dari pandangan masyarakat dinilai menyandang kekurangan, namun di mata Tuhan mereka jauh lebih mulia dikarenakan dengan berbagai kekurangannya justru mereka memiliki kelebihan untuk lebih mendekat kepada Tuhan dan terhindarkan dari perbuatan sia-sia serta dosa.

Dalam Ngaji Bareng Cak Nun tersebut, Musa membacakan sebuah geguritan, puisi dalam bahasa Jawa, dengan judul Wuta. Ungkapan sederhana mengenai perasaan terdalam seorang penyandang tuna netra siswa SLB tersebut benar-benar menghanyutkan perasaan para hadirin. Semua terbawa dalam suasana mengharu biru. Bahkan sebagai bentuk penghormatan dari Cak Nun, Musa diminta untuk mengulangi pembacaan geguritannya dengan diiringi musikalisasi puisi oleh Kiai Kanjeng.

Malam hingga dini hari tersebut, para jamaah benar-benar mendapatkan banyak pencerahan mengenai bagaimana bersikap penuh kasih sayang kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan menanam kebaikan terhadap mereka, hadirin diajak melakukan permenungan panjang untuk lebih peduli kepada nasib dan masa depan anak-anak kurang beruntung tersebut.

Lor Kedhaton, 29 Maret 2016

Gambar dipinjan dari sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s