Tadabur untuk Ummat Awam


Sungguh menarik sesi terakhir ketika Tanto Mendut memaparkan keyakinannya bahwa keberadaan kerajaan Nabi Sulaiman di wilayah ekotropika Nusantara, khususnya Jawa Tengah dan lebih spesifik lagi Magelang. Pendapat budayawan Lima Gunung tersebut lebih berdasar kepada keyakinan tanpa dukungan referensi tekstual sebagai rujukan sebagaimana diiajarkan barat melalui metode ilmiahnya dalam pencapaian sebuah pengetahuan. Hal ini diungkapkan pada acara Ngaji bareng Cak Nun dengan tema “Menanam Kebaikan” di SLB Ma’arif Muntilan, Ahad 27 Maret 2016 dini hari.

Merasa disudutkan oleh pernyataan sahabat yang lebih dai 40 dolan bareng, Cak Nun memberikan uraiannya. Dalam khasanah Qur’an, manusia atau ummat Islam tidak pernah diperintahkan untuk melakukan tafsir. Dan pada saat ini tafsir sudah menjadi idiom ekslusif sehingga hanya sosok pribadi dengan kriteria dan kualitas tertentu yang bisa secara absah bertindak sebagai mufasir. Justru di berbagai literatur Al Qur’an, ummat Islam banyak diperintahkan untuk bertadabur dan bertafakkur.

Manusia adalah makhluk Allah yang diperlengkapi dengan akal dan pikirannya. Oleh karena itu tinggi rendahnya manusia dalam menggapai keimanan, ketaqwaan, serta selanjutnya mencapai pribadi yang berakhakul karimah juga ditentukan oleh penggunaan akal dan pikirannya. Maka tidak berlebihan jika manusia memiliki sebutan sebagai makhluk yang berpikir. Bahkan salah satu filosof barat merumuskan, “Aku berpikir, maka aku ada.” Eksistensi manusia dintentukan dari cara berpikirnya.

Menurut Cak Nun apa yang dilakukan oleh Tanto Mendut dengan pencapaian keyakinan pengetahuan tanpa banyak menyandarkan referensial tekstual untuk menemukan suatu kebenaran obyektif adalah salah satu perilaku bertadabur dan bertafakkur sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT. Kalau melakukan tafsir itu menjadi ranah para intelektual ulama dengan syarat-syarat yang ketat untuk merenungkan, mendalami, memikirkan, dan lain sebagainya sehingga mendapatkan suatu kebenaran obyektif. Maka hanya ulama sekaliber Buya HAMKA, Qurais Shihab, Mbah Bisri yang layak dan diakui untuk melakukan tafsir.

Lalu bagaimana pengertian tadabur. Secara sederhana Cak Nun menjelaskan bahwa tadabur itu aktivitas apapun yang kita semua lakukan yang semakin membawa kedekatan kepada Allah SWT. Ketika kita melihat batu, daun, tanah, matahari, bulan, bintang dan sebagainya, kita semakin merasa dekat dan mendekat kepada Allah. Bahkan melihat “tlethong-pun” kita semakin kagum dengan penciptanya. Itulah tadabur. Dengan demikian khasanah yang harus ditanamkan kepada setiap ummat Islam pada saat ini adalah budaya bertadabbur.

Dalam pemahaman banyak orang dewasa ini, tadabbur justru dimaknai secara menyempit hanya sebatas merenungi dan mengagumi alam ciptaan Allah. Maka di sekolah-sekolah islam, TKIT, SDIT, dlsb. yang sering dilakukan selalu tadabbur alam. Pergi ke gunung, ke danau, ke pantai dan berbagai tempat lain untuk merenungkan keagungan ciptaan Allah yang terhambar di muka bumi dan di bawah bentang galaksi.

Lor Kedhaton, 28 Maret 2016

Foto dipinjam dari sini dan sini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s