Peringatan Earth Hour 2016


Bumi memang masih terus berputar. Selama Tuhan belum menghendaki Hari Kehancuran itu datang, bumi tetap setia dengan perannya sebagai tempat kehidupan manusia. Bumi adalah ibu pertiwi yang senantiasa memberi kasih keberkahan dengan segala kandungan kesuburannya. 

Meskipun bumi senantiasa taat untuk memberi tanpa pernah mengharap kembali, tetapi adalah kewajiban dan tugas manusia untuk membalas budi baik bumi dengan tindakan-tindakan yang ramah bumi, ramah lingkungan, alias ramah kepada alam. Adalah sebuah keniscayaan ketika setiap saat, setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun, setiap windu, setiap abad, bahkan setiap waktu bumi senantiasa menghamparkan diri untuk memberi bagi setiap kebutuhan manusia, maka manusia akan terikat sebuah hutang budi. Bagi manusia yang bermoral, hutang budi harus pula dibalas dengan budi kebaikan. Bagaimana membalas budi kebaikan kepada bumi?

Bumi yang juga merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berposisi sebagai singgasana manusia untuk menjalankan tugas kekhalifahan di alam semesta. Tatkala Tuhan menciptakan manusia, bumi seru sekalian alam dan segala isinya sujud dan tunduk kepada Adam, sang manusia pertama. Semenjak saat itulah, bumi mendapat amanah untuk tunduk kepada kebijakan khalifahtul fil ardzi.

Sebagai pemegang tongkat kekhalifahan, manusia bertugas memakmurkan bumi. Bumi terhampar menjadi sarana bagi sumber kemakmuran manusia. Di sinilah terdapat hubungan timbal balik secara langsung bahwa manusia harus memakmurkan bumi agar bumi dapat pula memberikan sumber kemakmurannya bagi manusia. Manusia memakmurkan bumi dengan menjaga dan melestarikan alam, sedangkan bumi memberikan hasil buminya bagi kelangsungan hidup manusia. Inilah tata keseimbangan etika alam yang sejati.

Seiring dengan modernisasi teknologi yang dikotori oleh pemikiran kapitalisasi eksploitatif manusia terhadap alam, banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran etika alam sebagaimana telah disebut di atas. Mineral dan batuan bumi dikeruk  dengan membabi buta. Hutan rimba raya dibabat habis hingga gundul. Gunung-gunung dipangkas hingga rata atau bahkan meninggalkan lubang-lubang danau raksasa. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu manusia menghasilkan sampah dan limbah yang dibuang sembarangan ke got, ke selokan, ke sungai, ke danau, ke laut, dan kemanapun saja.

Semenjak di jaman para nabi, Tuhan telah memperingatkan bahwasanya tiada tanda-tanda adanya kerusakan bumi kecuali karena ulah para manusia. Melalui firman tersebut Tuhan sejatinya telah mengajarkan bahwa manusia dilarang membuat kerusakan di muka bumi. Manusia sebagai khalifah bumi justru mendapat tugas utama untuk memakmurkan bumi. Bukankah manusia yang merusak bumi justru telah mengkhianati tugas mulia yang dititahkan Tuhan kepadanya? Lalu balasan apakah yang akan ditanggung oleh ulah manusia yang merusak kelestarian bumi?

Tentu saja akibat dari rusaknya kelestarian bumi akan membawa bencana-bencana kehidupan yang tiada akan pernah berkesudahan. Kekeringan, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan, paceklik panjang, bahkan musnahnya kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, manusia sedang mempercepat datangnya saat-saat kehancuran bumi yang akan membawa kepada kehidupan akhir jaman alias hari kiamat.

Hari ini, kita kembali menjumpai tanggal 19 Maret. Sekilas membaca sebuah running text di sebuah layar televisi swasta mengingatkan sebuah anjuran untuk mematikan listrik secara serentak pada jam 20.30-21.30 waktu di masing-masing tempat. Rupanya gerakan earth hour, yaitu suatu gerakan untuk mengheningkan bumi dengan menghentikan segala aktivitas yang menggunakan listrik tersebut senantiasa dilakukan setiap tahunnya.

Manusia senantiasa tidak bisa dipisahkan dengan energi listrik. Menyalakan lampu penerangan, menyalakan televisi, menghidupkan kulkas, kipas angin, AC, mesin cuci, kompor listrik, bahkan kereta api, senantiasa membakar berbagai sumber energi fosil maupun non fosil. Dari proses pembangkitan listrik tersebut, berapa banyak gas rumah kaca dan polutan dilepaskan ke udara dari pembakaran minyak bumi, batu bara, gas dan lain sebagainya. Intinya dari listrik tersebut, bumi semakin menanggung beban polusi yang semakin menyesakkan pernafasannya.

Di tengah sesak nafasnya yang semakin berat oleh beban polutan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia, bumi memerlukan waktu untuk rehat sejenak. Melepaskan beban, mengheningkan diri sejenak, merileksasi ketegangan, mengendurkan syaraf-syaraf intinya untuk mendapatkan kesegarannya kembali. Dan untuk itu manusia baru bisa memberikan kekebasan bumi untuk beristirahat selama satu jam melalui gerakan eart hour. Bukankah hal ini sangat ringan untuk dilakukan dibandingkan apa yang telah dilakukan oleh bumi kepada manusia sepanjang jaman? Jika demikian halnya, marilah kita dukung gerakan earth hour malam ini. Matikan segala peralatan listrik Anda selama satu jam. Kita semua yakin, kehidupan akan lebih baik jika kita semakin lebih peduli dengan bumi. Salam sahabat bumi.

Ngisor Blimbing, 19 Maret 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s