Grahana Batara Kala


Dongeng Asal Mula Terjadinya Gerhana Matahari

Betara Kala

Adalah Batara Guru, pemimpin di Kahyangan Jonggringsaloka, mengadakan suatu perhelatan untuk semua dewa-dewi di alam semesta. Dalam jamuan pesta tersebut semua tamu dijamu dengan aneka hidangan rasa surgawi. Terlebih istimewa lagi, Batar Guru juga menyuguhkan minuman tirta amertasari. Konon bagi siapapun yang meminum air suci tersebut, maka dirinya akan hidup kekal nan abadi.

Batara Guru dengan istrinya Dewi Durga pernah memiliki “anak haram” yang tidak dikehendaki. Anak tersebut dibuang di hutan Setragandamayit semenjak masih usia bayi. Kelak di kemudian hari perangai anak tersebut sangat jahat dan selalu membuat keonaran di dunia. Batara Kala, demikianlah nama anak Batara Guru tersebut.

Perangai dan pekerti jahat Batara Kala kian menjadi. Ia senantiasa memangsa setiap anak manusia yang lahir dan kondisi atau tanda-tanda tertentu. Anak yang terlahir sungsang, anak yang terlahir semata wayang tanpa memiliki saudara kandung, anak sepasang lelaki bersaudara, sepasang perempuan bersaudara, anak lelaki yang berkakak-adik perempuan, anak perempuan yang berkakak-adik lelaki, termasuk anak lima bersaudara lelaki semua muapun perempuan semua, semuanya menjadi mangsa kesukaan Batara Kala. Untuk dapat menghindarkan diri dari gangguan atau kutukan jahat Batara Kala, anak-anak dengan ciri khusus tersebut harus menjalani upacara ruwatan sebagai sarana membuang sial.

Atas perbuatan jahatnya yang suka memangsa anak-anak tidak berdosa, Batara Kala semakin dibenci dan dimusuhi oleh para dewa-dewi. Setiap ada pertemuan untuk para dewa-dewi, Batara Kala senantiasa diusir dan tidak diperbolehkan untuk turut bergabung. Batara Kala benar-benar menjadi musuh tidak saja bagai para dewa-dewi, tetapi bahkan bagi segenap makhluk lain. Maka pada perhelatan pesta yang digelar di Kahyangan ia tidak pernah diundang lagi.

Mendengar adanya pesta di Taman Jonggringsaloka dimana Batara Guru menyuguhkan pula tirta suci amertasari, Batara Kala diam-diam menyusup ke Kahyangan. Ia berniat untuk menyusup dan mencuri tirta keabadian. Dia sangat ingin hidup abadi sebagaimana dewa-dewi lain yang dijamu oleh Batara Guru. Dengan berbagai tipu muslihat ia mengelabui para penjaga di gerbang Kahyangan.

Singkat cerita, Batara Kala berhasil mendapatkan cawan berisi tirta suci amertasari. Ia nampak pongah dan sedikit lengah. Begitu memegang cawan yang diinginkannya ia bagaikan lupa daratan. Ia tidak menyadari ada sepasang mata yang memergoki perbuatannya. Dialah Batara Surya sang penguasa matahari.

Melihat tingkah perbuatan Batara Kala, Batara Surya segera menghadap Batara Guru. Di hadapan Batara Guru, Batara Surya menceritakan segala hal yang dilihatkan atas perbuatan tercela yang dilakukan oleh Batara Kala, mencuri air suci tirta amerta sari. Betapa geramnya Batara Guru. Dengan tegas ia segera memerintahkan Batara Indra untuk segera mengejar dan menangkap Batara Kala, hidup ataupun mati.

Dalam pelariannya, Batara Kala terus berlari menjauhi Taman Jonggringsaloka. Namun Batara Indra tidak kalah cepat terbang mengejar Batara Kala. Pada saat Batara Kala tercekam rasa haus yang teramat sangat ia segera menengguk cawan berisi tirta amerta sari. Baru beberapa tetes membasahi kerongkongan Batara Kala, Batara Indra segera melepaskan panah cakranya. Panah sakti itupun meluncur dengan sangat cepat dan segera menyambar leher Batara Kala. Seketika leher Batara Kala terpenggal sehingga kepalanya terputus dari raganya. Raga Batara Kala meluncur deras dan terjatuh ke bumi, sementara kepala Batara Kala yang sudah terlanjur tertetesi tirta suci amerta sari tidak mati, bahkan hidup abadi.

Semenjak saat itu, konon Batara Kala menyimpan rasa dendam kesumat terhadap Batara Surya yang memergoki ketika ia mencuri cawan berisi tirta amertasari dan melaporkannya kepada Batara Guru. Teramat sangat benci dan dendamnya kepada Batara Surya, maka dalam setiap kesempatan Batara Kala selalu mengejar-ngejar Batara Surya dan berusaha untuk dapat menelannya utuh-utuh. Peristiwa saat Batara Kala berhasil menelan Batara Surya inilah yang menyebabkan bumi menjadi gelap gulita bagaikan gelap malam hari. Peristiwa inilah yang disebut sebagai gerhana matahari dan oleh sebagian penduduk bumi diyakini sebabnya karena Batara Surya sedang ditelan oleh Batara Kala. Matahari ditelan Batara Kala.

Lor Kedhaton, 8 Maret 2016

Gambar dipinjam dari postingan Padhe Tanto Mendut di halaman FB.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s