Keranjingan Dolanan Catur


Gandrung Main CaturSaya teringat sebuah peristiwa kira-kira lebih dari lima tahun silam. Saat itu usia si Ponang baru menginjak tiga tahun. Di Minggu pagi nan cerah kebetulan hari pasaran pahing, bertepatan dengan selapanan pengajian rutin di Masjid Agung Kauman Magelang. Pengajian rutin puluhan yang telah berlangsung puluhan tahun itu memang kini tidak lagi seramai seperti pada waktu saya masih kecil digendhang-gendhong Biyung tuwa dulu. Namun masih ada saksi sejarah yang masih bertahan, pasar tumpah di pinggiran alun-alun.

Sebagaiman bangunan Masjid Agung di seantero tanah Jawa, masjid pasti berhadapan langsung dengan pelataran alun-alun. Kerumunan atau keramaian massa ummat muslim yang datang berduyung-duyung untuk mengikuti pengajian selapanan, tentu bagaikan gula manis yang mengundang banyak semut. Keramaian manusia merupakan kesempatan emas bagi para pedagang berbagai barang untuk menjajakan dagangannya. Maka senantiasa lengkaplah pengajian selapanan Ahad Pahing di Masjid Agung Magelang dengan gelaran pasar tumpahnya di seputaran alun-alun kota.

Pun di Ahad Pahing pagi sekitar lima tahun silam itu. Gelegar pidato ceramah dari pengisi pengajian yang menggema dari pengeras suara di menara masjid seolah bersaing dengan kumandangnya penjual dan pembeli yang saling tawar-menawar untuk bertransaksi. Dua elemen transaksional jual-beli tersebut sama-sama saling membutuhkan satu sama lain. Si pedagang butuh dagangannya laris manis untuk memperolah keuntungan dan memutar kembali uang modal. Sedangkan si pembeli butuh barang untuk memenuhi hajat hidup kebutuhannya.

Tentu saja di hamparan pasar tumpah itu dijajakan beraneka ragam barang, mulai dari peralatan dapur, baju, celana, alat rumah tangga, aneka jajanan kue dan makanan, hingga berbagai alat permainan anak-anak. Tatkala berkeliling melihat-lihat beberapa stan pedagang, uniknya si Ponang kecil justru tertarik untuk membeli papan catur. Saya sendiri kurang begitu paham apa alasannya, apakah mungkin ia tertarik dengan warna “poleng” blang bonteng kotak putih hitam di papan catur, ataukah ada rasa penasaran yang lain, tetapi ia ngeyel minta dibelikan papan catur dan uba rempe kelengkapannya. Kami pulang dengan menenteng papan catur tersebut.

Tidak hanya sekedar merengek untuk minta dibelikan papan catur, sesampainya di rumah si Ponangpun minta diajari cara memainkan biji-biji catur lengkap dari raja, patih, menteri, kuda, beteng, hingga barisan bergadha pasukan pion. Terus terang pada waktu itu saya sangat nggumun dengan “keajaiban” si Ponang.

Seiring dengan perjalanan waktu, si Ponangpun mulai memiliki kesibukan lain. Ketika ia mulai mengenal dunia sekolah, mulai mengenal dolan “nggluyur” di lapangan rumput, dan lainnya iapun pelan-pelan melupakan permainan catur yang sempat digandrunginya.

Kini, ketika si Ponang tengah duduk di kelas dua SD Panglima Jaya, iapun mulai nglayap di jam-jam sehabis pulang sekolah. Usut punya usut ternyata ia dengan beberapa teman karib sebayanya sering nongkrong di gardu poskampling dilingkungan RT kami. Entah kenapa anak-anak lebih suka menyebut pos tersebut sebagai balai. Tentu aktivitas nongkrong tersebut mereka lakukan di waktu siang atau senja selepas Ashar.

Gardu alias balai di lingkungan tempat tinggal kami tersebut memang difungsikan sebagia pos penjagaan di malam hari. Apabila hari telah menuju larut, beberapa bapak-bapak sering ngumpul untuk sekedar melepas rasa penat selepas seharian sibuk dengan rutinitas kerja. Untuk mengusir rasa kantung, di samping dii balai tersebut telah dilengkapi dengan pesawat tivi, bapak-bapak juga sering kali mengisi waktu dengan obrolan ringan, main kartu remi, karambol, hingga main catur.

Keberadaan papan catur di balai rupanya menarik perhatian bagi para bocah. Di siang hari saat mereka nongkrong di balai, mereka mulai membuka-buka papan catur berikut dengan biji caturnya. Merekapun sedikit-sedikit mulai belajar bagaimana memainkan permainan catur dari pola permainan sederhana semakin berkembang dengan berbagai tantangan yang semakin tidak mudah. Walhasil, diantara sesama bocah itu pelan namun pasti menjadi mahir dalam beradu otak untuk menciptakan strategi memenangkan permainan catur.

Akhirnya bagi si Ponang sendiri, catur menjadi pemuas rasa dahaga akan sebuah permainan yang cukup menantangnya untuk memeras otak. Beberapa minggu berselang dengan tanpa ragu-ragu ia bahkan mengajukan permintaan untuk dibelikan papan catur sendiri. Dan pada saat keinginan tersebut terpenuhi, maka jadilah “grand master” Ponang beraksi pagi, siang, petang dan malam hari menantang bapaknya untuk beradu strategi memenangkan permainan. Jadilah catur menjadi pengisi waktu-waktu kebersamaan kami akhir-akhir ini.

Anda pernah menjalani sebuah permainan bersama-sama dengan putra dan putri Anda? Catur nampaknya bisa menjadi salah satu alternatif dalam rangka mengisi kebersamaan waktu antara anak dan orang tua. Di samping semakin mendekatkan orang tua denga para buah hatinya, tentu saja catur juga sangat bermanfaat untuk mengasah otak kanan-kiri dengan menemukan kreativitas-kreativitas berstrategi untuk memenangkan permainan. Bukankah sangat asyik permainan yang satu ini? Jika sudah bermain catur dengan anak kita, dijamin kita bakal lupa dengan perputaran waktu dan hanya tahu asyik dan semakin asyik. Anda ingin mencobanya? Monggo, dipersilakan.

Ngisor Blimbing, 7 Maret 2016

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s